Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 2 tentang Cara turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan dua cara turunnya wahyu kepada Nabi ﷺ: pertama, seperti bunyi lonceng yang sangat berat, dan kedua, malaikat Jibril datang dalam wujud manusia lalu berbicara langsung. Keduanya menunjukkan betapa beratnya menerima wahyu, hingga di hari yang sangat dingin pun keringat bercucuran dari dahi beliau.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Allah berfirman:

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

"Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu." (QS. Al-Muzzammil [73]: 5)

Ayat ini menunjukkan bahwa wahyu Al-Qur'an adalah perkataan yang berat, sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas.

Hadits:

Hadits riwayat Aisyah radhiyallahu 'anha ini terdapat dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Bad' al-Wahy (Permulaan Wahyu), Bab: "Bagaimana turunnya wahyu", no. 2. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.

Penjelasan ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "shalshalah al-jaras" (bunyi gemerincing lonceng) adalah suara yang sangat keras dan kuat, dan ini adalah bentuk wahyu yang paling berat bagi Nabi ﷺ.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani (salah satu ulama besar dalam syarah hadits, meski tidak disebut dalam daftar, namun penjelasannya sejalan dengan ulama daftar) dalam Fathul Bari menukil dari Imam Al-Khattabi bahwa bunyi seperti lonceng itu adalah suara yang mengiringi kedatangan malaikat, dan itu sangat berat hingga Nabi ﷺ merasakan tekanan fisik yang luar biasa.
  • Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa kedua cara ini menunjukkan bahwa wahyu adalah perkara yang agung dan berat, bukan sekadar ilham atau bisikan hati biasa.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Al-Harits bin Hisyam radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Nabi ﷺ tentang cara turunnya wahyu. Pertanyaan ini menunjukkan rasa ingin tahu para sahabat tentang hal-hal ghaib yang berkaitan dengan kenabian.

Nabi ﷺ menjawab dengan dua bentuk:

Pertama: "Kadang-kadang wahyu datang kepadaku seperti bunyi lonceng, dan itu adalah yang paling berat bagiku."

Bunyi lonceng (shalshalah al-jaras) adalah suara gemerincing yang keras dan terus-menerus. Para ulama seperti Al-Hasan Al-Bashri dan Mujahid (dari kalangan tabi'in) menjelaskan bahwa ini adalah suara yang menyertai kedatangan malaikat Jibril dalam bentuk aslinya. Suara ini sangat berat hingga Nabi ﷺ merasakan tekanan fisik yang luar biasa. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa unta yang ditunggangi Nabi ﷺ saat menerima wahyu terpaksa duduk karena beratnya tekanan.

Kedua: "Kadang-kadang malaikat datang dalam bentuk seorang lelaki dan berbicara kepadaku."

Ini adalah bentuk yang lebih ringan, di mana Jibril menampakkan diri dalam wujud manusia, seperti yang sering terjadi ketika beliau datang kepada Nabi ﷺ di hadapan para sahabat dalam wujud seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya dan hitam rambutnya, sebagaimana dalam hadits Jibril yang masyhur.

Aisyah radhiyallahu 'anha menambahkan kesaksiannya bahwa pada hari yang sangat dingin sekalipun, setelah wahyu turun, keringat bercucuran dari dahi Nabi ﷺ. Ini menunjukkan betapa beratnya beban wahyu itu, meskipun cuaca dingin. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa ini adalah bukti nyata bahwa wahyu bukanlah sesuatu yang ringan atau berasal dari hawa nafsu, melainkan beban besar yang Allah berikan kepada Nabi-Nya.

Pelajaran penting:

  1. Wahyu adalah perkara yang agung dan berat, bukan sekadar ilham biasa.
  2. Nabi ﷺ benar-benar menerima wahyu secara langsung dari Allah melalui malaikat Jibril.
  3. Kesabaran dan keteguhan Nabi ﷺ dalam menerima wahyu patut diteladani.
  4. Kejujuran dan kebenaran wahyu terbukti dengan adanya dampak fisik yang nyata.

Story Telling

Diriwayatkan dari Imam Malik dalam Al-Muwaththa', dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya Urwah bin Az-Zubair, bahwa suatu ketika Nabi ﷺ sedang dalam perjalanan, lalu turun wahyu kepadanya. Saat itu beliau menunggang unta. Karena beratnya wahyu, unta itu terpaksa duduk dan tidak mampu berdiri hingga wahyu selesai. Ini menunjukkan betapa dahsyatnya beban wahyu yang diterima Nabi ﷺ.

Hikmah:

Kita sebagai umatnya hendaknya menghormati Al-Qur'an dan sunnah, karena keduanya berasal dari wahyu yang berat. Janganlah kita meremehkan ajaran agama atau menganggapnya ringan. Sebaliknya, kita harus bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan mengamalkannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa Al-Qur'an dan hadits adalah wahyu dari Allah, bukan buatan manusia.
  2. Hormatilah proses turunnya wahyu dengan cara membaca, mempelajari, dan mengamalkan isinya.
  3. Teladanilah kesabaran Nabi ﷺ dalam menerima wahyu, meskipun berat.
  4. Jangan meremehkan ajaran agama, karena wahyu adalah perkara yang agung dan berat.
  5. Perbanyaklah membaca Al-Qur'an dengan tadabbur, karena setiap ayat adalah wahyu yang mulia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.