Penjelasan Hadits Bukhari No. 1989 tentang Puasa Arafah Nabi saat haji wada

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak berpuasa pada hari Arafah ketika beliau sedang menunaikan haji (wukuf di Arafah). Beliau sengaja meminum susu di hadapan orang banyak agar kaum muslimin mengetahui dengan jelas bahwa tidak berpuasa pada hari Arafah saat berhaji itu boleh, bahkan lebih utama, demi menjaga kekuatan untuk beribadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Puasa, Bab Puasa Hari Arafah, dari Ummul Mukminin Maimunah radhiyallahu 'anha.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ — أَوْ قُرِئَ عَلَيْهِ — قَالَ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو، عَنْ بُكَيْرٍ، عَنْ كُرَيْبٍ، عَنْ مَيْمُونَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِي صِيَامِ النَّبِيِّ ﷺ يَوْمَ عَرَفَةَ، فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِحِلَابٍ وَهُوَ وَاقِفٌ فِي الْمَوْقِفِ، فَشَرِبَ مِنْهُ، وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ.

Terjemahan: Diriwayatkan dari Maimunah radhiyallahu 'anha bahwa orang-orang meragukan apakah Nabi ﷺ berpuasa pada hari Arafah. Maka ia mengirimkan susu kepada beliau ketika beliau sedang wukuf di Arafah. Beliau meminumnya, dan orang-orang menyaksikannya.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan hari Arafah dan syariat haji:

QS. Al-Baqarah [2]: 198

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ

Terjemahan: "Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram. Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menjelaskan satu hukum penting dalam fiqih puasa, khususnya puasa hari Arafah bagi orang yang sedang berhaji.

Konteks kejadian: Hari Arafah adalah hari ke-9 Dzulhijjah. Bagi jamaah haji, hari itu adalah puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah. Nabi ﷺ pada haji Wada' (haji perpisahan) sedang wukuf di Arafah. Sebagian sahabat ragu apakah beliau berpuasa atau tidak pada hari itu. Ummul Mukminin Maimunah radhiyallahu 'anha kemudian mengirimkan susu kepada beliau, dan beliau meminumnya di hadapan orang banyak. Ini menjadi penjelasan praktis (taqrir) bahwa beliau tidak berpuasa.

Pemahaman ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disunnahkannya tidak berpuasa bagi orang yang sedang berhaji di hari Arafah, terutama jika hal itu melemahkan fisiknya untuk berdoa dan beribadah. Beliau menyebutkan bahwa para ulama sepakat bahwa puasa Arafah bagi jamaah haji yang sedang wukuf bukanlah sunnah yang dianjurkan, bahkan sebagian ulama menghukuminya makruh jika melemahkan.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ meminum susu di hadapan orang banyak mengandung maksud untuk menghilangkan keraguan dan menegaskan hukum secara jelas. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya berbuka (tidak puasa) bagi orang yang sedang wukuf di Arafah, dan ini menjadi pendapat jumhur ulama.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak berpuasa pada hari Arafah saat haji, dan ini adalah sunnah yang harus diikuti. Beliau membedakan antara puasa Arafah bagi orang yang tidak berhaji (yang sangat dianjurkan) dengan yang sedang berhaji (yang tidak dianjurkan berpuasa).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitab-kitabnya menegaskan bahwa syariat ini mengandung kemudahan dan menjaga kekuatan jamaah haji untuk berdoa, karena doa di hari Arafah adalah inti ibadah wukuf.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama dari kalangan tabi'in seperti Atha' bin Abi Rabah menyatakan bahwa jika seseorang kuat berpuasa dan tidak melemahkan ibadahnya, maka boleh berpuasa. Namun jumhur ulama (Malik, Syafi'i, Ahmad) berpendapat bahwa tidak berpuasa lebih utama bagi jamaah haji di hari Arafah, berdasarkan hadits ini. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur, karena Nabi ﷺ secara tegas meminum susu di hadapan orang banyak untuk menjelaskan hukum.

Story Telling

Diceritakan bahwa Ummul Mukminin Maimunah radhiyallahu 'anha, istri Nabi ﷺ, berada di dekat Arafah saat haji Wada'. Ketika orang-orang mulai meragukan apakah Nabi ﷺ berpuasa pada hari Arafah, beliau dengan penuh kasih mengirimkan susu kepada Nabi ﷺ yang sedang wukuf. Nabi ﷺ meminumnya di hadapan para sahabat. Seorang sahabat yang menyaksikan berkata, "Aku melihat Nabi ﷺ meminum susu itu, dan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." Ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ sangat memperhatikan pendidikan umatnya, bahkan dalam hal kecil seperti ini, beliau memberikan contoh langsung agar tidak ada keraguan. Kisah ini juga menunjukkan kelembutan dan perhatian seorang istri salehah terhadap suaminya yang sedang menjalankan ibadah besar. (Disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari).

Kesimpulan Praktis

  1. Bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah, tidak berpuasa pada hari Arafah adalah sunnah yang lebih utama, terutama jika puasa melemahkan untuk berdoa dan beribadah.
  2. Bagi yang tidak berhaji, puasa hari Arafah sangat dianjurkan dan memiliki keutamaan menghapus dosa setahun lalu dan setahun berikutnya (sebagaimana hadits shahih lainnya).
  3. Menjelaskan hukum secara terbuka di hadapan orang banyak adalah metode pendidikan yang baik, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
  4. Hendaknya kita mengikuti sunnah Nabi ﷺ dengan penuh keyakinan dan tidak ragu, serta bertanya kepada ulama terpercaya jika ada keraguan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?