Penjelasan Hadits Bukhari No. 1912 tentang Keutamaan bulan Ramadan dan Dzulhijjah tidak berkurang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa bulan Ramadan dan Dzulhijjah adalah dua bulan yang penuh berkah dan keutamaan besar, dan keduanya tidak akan berkurang keutamaannya, meskipun jumlah hari dalam satu bulan bisa 29 atau 30 hari. Makna "tidak berkurang" di sini adalah keutamaan dan pahala amal di dalamnya tidak berkurang, bukan berarti jumlah harinya selalu genap 30 hari. Ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ tentang keutamaan dua bulan yang di dalamnya terdapat dua hari raya besar umat Islam.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang dimaksud:

Teks Arab hadits (sesuai riwayat Shahih Al-Bukhari):

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ، قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ شَهْرَا عِيدٍ رَمَضَانُ وَذُو الْحَجَّةِ"

Makna: "Dua bulan yang tidak berkurang, yaitu dua bulan hari raya: Ramadan dan Dzulhijjah." (HR. Al-Bukhari, no. 1912, dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu)

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)."

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam "Kitab Puasa, Bab Dua Bulan Id yang Tidak Berkurang" untuk menjelaskan bahwa penetapan awal bulan bisa dengan melihat hilal, dan jika tertutup mendung, maka bulan itu disempurnakan menjadi 30 hari. Namun keutamaan bulan tersebut tidak berkurang.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan perbedaan pendapat ulama tentang makna hadits ini, dan beliau menguatkan bahwa maknanya adalah keutamaan dan pahala keduanya tidak berkurang, bukan jumlah harinya.

Penjelasan Rinci

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami hadits ini, dan berikut ringkasan pendapat mereka:

Pendapat pertama: Maknanya adalah kedua bulan ini tidak pernah berkurang dalam jumlah hari, artinya selalu genap 30 hari. Ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari sebagian ulama, namun pendapat ini ditolak oleh mayoritas ulama karena bertentangan dengan kenyataan bahwa bulan Ramadan dan Dzulhijjah terkadang 29 hari.

Pendapat kedua (yang paling kuat): Maknanya adalah keutamaan dan pahala amal di kedua bulan ini tidak berkurang, meskipun jumlah harinya bisa 29 atau 30. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam Al-Bukhari dengan menempatkan hadits ini dalam bab puasa, dan diperkuat oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan: "Makna yang benar adalah bahwa keutamaan keduanya tidak berkurang, dan maksudnya adalah kedua bulan ini tetap sempurna dalam keutamaannya meskipun jumlah harinya berkurang (29 hari)." Beliau juga menyebutkan bahwa Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal memilih pendapat ini.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan: "Hadits ini memberi kabar gembira bahwa bulan Ramadan dan Dzulhijjah tidak berkurang keutamaannya, karena di dalamnya terdapat ibadah agung seperti puasa, zakat fitrah, wukuf di Arafah, dan penyembelihan kurban. Meskipun jumlah harinya bisa 29, namun pahala dan keutamaannya tetap sempurna."

Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan bahwa penetapan awal bulan harus berdasarkan ru'yatul hilal (melihat bulan sabit), dan jika tidak terlihat maka bulan disempurnakan menjadi 30 hari. Namun keutamaan kedua bulan ini tidak berkurang dengan perbedaan jumlah hari tersebut.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, beliau adalah sahabat yang masuk Islam pada saat penaklukan Thaif. Beliau meriwayatkan hadits ini langsung dari Nabi ﷺ.

Ada kisah menarik tentang Abu Bakrah: beliau adalah seorang budak yang dibebaskan oleh Nabi ﷺ, dan beliau dikenal sangat cinta kepada ilmu dan hadits. Pada suatu hari, beliau mendengar Nabi ﷺ bersabda tentang dua bulan yang tidak berkurang ini, lalu beliau menyampaikannya kepada anaknya, Abdurrahman, dan kemudian Abdurrahman menyampaikannya kepada para tabi'in seperti Khalid al-Hadzdza' dan Ishaq bin Suwaid. Dari mereka, hadits ini sampai kepada Imam Al-Bukhari dan kemudian sampai kepada kita.

Hikmah dari kisah ini: Para sahabat sangat antusias menghafal dan menyampaikan hadits-hadits Nabi ﷺ, bahkan satu kalimat pun tidak mereka sia-siakan. Mereka memahami bahwa hadits ini adalah kabar gembira bagi umat Islam tentang keutamaan dua bulan yang penuh berkah.

Kesimpulan Praktis

  1. Bulan Ramadan dan Dzulhijjah adalah dua bulan yang sangat mulia dan penuh keutamaan, dan keutamaannya tidak berkurang meskipun jumlah harinya 29 atau 30 hari.
  2. Jangan ragu beribadah di bulan Ramadan meskipun jumlah harinya 29 hari, karena pahala dan keutamaannya tetap sempurna di sisi Allah.
  3. Bersemangatlah dalam memperbanyak amal ibadah di bulan Ramadan dan Dzulhijjah, terutama puasa, shalat, sedekah, dan dzikir.
  4. Tetap berpedoman pada ru'yatul hilal dalam menentukan awal bulan, dan jangan ragu dengan keputusan pemerintah yang sah, karena hal ini telah dicontohkan oleh para ulama.
  5. Yakinlah bahwa Allah tidak akan mengurangi pahala hamba-Nya yang beribadah dengan ikhlas, meskipun jumlah hari dalam sebulan hanya 29 hari.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?