Penjelasan Hadits Bukhari No. 1872 tentang Madinah disebut Tabah oleh Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi pujian Nabi ﷺ terhadap kota Madinah dengan menyebutnya "Thabah" (طَابَةُ), yaitu nama lain Madinah yang menunjukkan kota ini baik, suci, dan penuh keberkahan. Ucapan ini diucapkan saat beliau kembali dari Perang Tabuk bersama para sahabat. Para ulama menjelaskan bahwa nama ini menunjukkan keutamaan Madinah sebagai kota iman, hijrah, dan tempat turunnya wahyu.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Keutamaan Madinah, Bab Madinah adalah Thabah, dari sahabat Abu Humaid As-Sa'idi رضي الله عنه.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ، قَالَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ يَحْيَى، عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ ـ رضى الله عنه ـ أَقْبَلْنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ مِنْ تَبُوكَ حَتَّى أَشْرَفْنَا عَلَى الْمَدِينَةِ فَقَالَ " هَذِهِ طَابَةُ ".

Terjemahan: "Kami datang bersama Nabi ﷺ dari Tabuk, dan ketika kami tiba di dekat Madinah, Nabi ﷺ berkata, 'Ini adalah Thabah.'"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan Madinah, di antaranya firman Allah:

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

QS. An-Nahl [16]: 41

Terjemahan: "Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah setelah mereka dizalimi, sungguh Kami akan memberi mereka tempat yang baik di dunia, dan pahala akhirat itu lebih besar, jika mereka mengetahui."

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penamaan Madinah dengan "Thabah" berasal dari kata "thayyibah" (baik/suci), menunjukkan kesuciannya dari kotoran syirik dan kemunafikan, serta keberkahannya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan beberapa hal penting:

Pertama, penamaan Madinah dengan "Thabah" adalah pujian dari Nabi ﷺ. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa Madinah memiliki beberapa nama, di antaranya Thabah, Thayyibah, dan Darul Hijrah. Nama "Thabah" berasal dari akar kata yang sama dengan "thayyib" (baik), menunjukkan bahwa kota ini baik dan suci.

Kedua, ucapan ini disampaikan Nabi ﷺ saat beliau dan para sahabat hampir memasuki Madinah setelah kembali dari Perang Tabuk. Ini menunjukkan kecintaan Nabi ﷺ kepada Madinah dan kerinduannya untuk kembali ke kota yang menjadi pusat dakwah Islam.

Ketiga, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keutamaan Madinah bukan sekadar keutamaan geografis, tetapi karena kota ini menjadi tempat hijrah Nabi ﷺ, tempat berdirinya masjid Nabawi, dan tempat berkumpulnya kaum Muhajirin dan Anshar.

Keempat, Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaadul Ma'ad menyebutkan bahwa di antara keistimewaan Madinah adalah doa Nabi ﷺ agar kota ini diberkahi dua kali lipat dari keberkahan Makkah, serta larangan bagi orang munafik untuk tinggal di dalamnya dengan nyaman.

Kelima, Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa keberkahan Madinah mencakup keberkahan spiritual (iman dan ilmu) dan material (rezeki dan ketenangan).

Para ulama sepakat bahwa menyebut Madinah dengan nama-nama baiknya adalah bagian dari mengagungkan syiar Allah, sebagaimana firman Allah:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

QS. Al-Hajj [22]: 32

Terjemahan: "Demikianlah, dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati."

Story Telling

Dikisahkan bahwa ketika Nabi ﷺ dan para sahabat kembali dari Perang Tabuk — perang yang sangat berat karena cuaca panas ekstrem dan jarak yang jauh — mereka menempuh perjalanan panjang melewati gurun. Ketika akhirnya kota Madinah terlihat di kejauhan, Nabi ﷺ mengucapkan kalimat penuh cinta: "Ini adalah Thabah."

Abu Humaid As-Sa'idi رضي الله عنه, yang meriwayatkan hadits ini, merasakan betapa besar kecintaan Nabi ﷺ kepada Madinah. Kota itu bukan hanya tempat tinggal, tetapi rumah bagi iman, tempat para sahabat berkorban, dan tempat Nabi ﷺ membangun peradaban Islam.

Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya menempatkan hadits ini dalam bab khusus tentang keutamaan Madinah, menunjukkan betapa pentingnya memahami kedudukan kota ini dalam Islam.

Kesimpulan Praktis

  1. Mencintai Madinah adalah bagian dari mencintai Nabi ﷺ dan agama Islam.
  2. Menghormati syiar Allah, termasuk kota-kota suci seperti Madinah, menunjukkan ketakwaan hati.
  3. Mengambil pelajaran dari perjalanan Nabi ﷺ dan para sahabat: kesabaran dalam perjuangan akan berbuah manis.
  4. Mendoakan keberkahan untuk Madinah dan kota-kota kaum muslimin lainnya.
  5. Menjauhi kemunafikan dan syirik, karena Madinah adalah kota yang suci dari kotoran tersebut, sebagaimana makna nama "Thabah."

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?