Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan cara Nabi ﷺ berwudhu, khususnya cara mengusap kepala: dimulai dari bagian depan kepala, kedua tangan dijalankan ke belakang hingga tengkuk, lalu dikembalikan lagi ke depan. Ini menunjukkan bahwa mengusap kepala dilakukan dengan kedua tangan sekaligus dan mencakup seluruh kepala, bukan hanya sebagian. Hadits ini juga menunjukkan urutan dan jumlah basuhan dalam wudhu sebagaimana dipraktikkan Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait perintah wudhu:
QS. Al-Ma'idah [5]: 6
وَٱلْمَسْحُ بِٱلرَّأْسِ
Terjemahan ringkas: "…dan mengusap kepala…"
Ayat lengkapnya memerintahkan wudhu, dan pada bagian mengusap kepala Allah berfirman:
وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ
Terjemahan: "…dan usaplah kepala-kepalamu…"
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Wudhu, Bab Mengusap Seluruh Kepala, nomor 185, dari Abdullah bin Zaid bin Ashim Al-Anshari رضي الله عنه — sahabat yang pernah ditunjukkan cara wudhu Nabi ﷺ. Jalur periwayatannya: Abdullah bin Yusuf ← Malik (Imam Malik bin Anas) ← Amr bin Yahya Al-Mazini ← dari ayahnya (Yahya bin Amr) ← dari Abdullah bin Zaid.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim dengan makna serupa, dan Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa hadits ini adalah dalil utama tentang tata cara mengusap kepala.
Penjelasan Rinci
1. Kedudukan hadits ini dalam fiqih wudhu
Hadits Abdullah bin Zaid ini termasuk hadits pokok (ushul) dalam bab sifat wudhu Nabi ﷺ. Imam Al-Bukhari menempatkannya dalam bab khusus "Mengusap Seluruh Kepala", yang menunjukkan bahwa beliau ingin menegaskan bahwa mengusap kepala itu mencakup seluruh kepala, bukan sebagian saja.
2. Cara mengusap kepala menurut hadits ini
Dalam hadits ini, Abdullah bin Zaid رضي الله عنه mempraktikkan:
- Meletakkan kedua tangan di bagian depan kepala.
- Menjalankan kedua tangan ke belakang hingga sampai ke tengkuk (قَفَا).
- Mengembalikan kedua tangan ke depan, ke tempat semula.
Ini menunjukkan dua hal penting:
- Mengusap dilakukan dengan kedua tangan sekaligus, bukan satu tangan.
- Usapan mencakup seluruh kepala dari depan ke belakang dan kembali ke depan.
3. Pandangan ulama dalam daftar
- Imam Malik bin Anas (guru dalam sanad hadits ini) berpendapat bahwa mengusap seluruh kepala adalah yang sesuai sunnah, dan beliau mengamalkan cara ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Muwaththa'.
- Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm menjelaskan bahwa mengusap kepala dilakukan dengan kedua tangan, dimulai dari depan lalu ke belakang, lalu kembali ke depan — persis seperti hadits Abdullah bin Zaid ini.
- Imam Ahmad bin Hanbal juga berpendapat demikian, sebagaimana dinukil oleh Al-Khallal dalam Al-Jami' dan Ibn Qayyim dalam Zad al-Ma'ad.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil jumhur ulama bahwa mengusap kepala mencakup seluruh kepala, dan cara "bolak-balik" (dari depan ke belakang lalu kembali) adalah sunnah yang shahih.
- Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menyatakan bahwa cara ini adalah yang paling shahih dan dipegang oleh jumhur ulama Syafi'iyah.
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Asy-Syarh al-Mumti' menegaskan bahwa sunnahnya adalah mengusap seluruh kepala dengan kedua tangan, dimulai dari depan, ke belakang, lalu kembali ke depan.
4. Perbedaan pendapat di antara ulama daftar
Sebagian ulama (seperti sebagian riwayat dari Imam Abu Hanifah) berpendapat cukup mengusap sebagian kepala (sekitar seperempat). Namun dalil yang paling kuat dalam daftar ulama ini adalah pendapat jumhur — Imam Malik, Asy-Syafi'i, Ahmad, Ibnu Hajar, An-Nawawi, dan Al-Utsaimin — bahwa mengusap seluruh kepala adalah yang sesuai sunnah Nabi ﷺ, berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid ini dan hadits-hadits serupa.
5. Jumlah basuhan dalam hadits ini
Hadits ini juga menunjukkan bahwa:
- Mencuci kedua tangan: dua kali (sebelum wudhu).
- Berkumur dan istinsyaq (menghirup air ke hidung): tiga kali.
- Mencuci wajah: tiga kali.
- Mencuci kedua tangan hingga siku: dua kali.
- Mengusap kepala: satu kali (dengan gerakan bolak-balik).
- Mencuci kaki: disebutkan tanpa jumlah, namun dalam riwayat lain tiga kali.
Ini menunjukkan bahwa jumlah basuhan dalam wudhu boleh bervariasi antara dua dan tiga kali, dan yang utama adalah tiga kali untuk anggota yang dicuci, sedangkan mengusap kepala cukup sekali.
Story Telling
Abdullah bin Zaid bin Ashim رضي الله عنه adalah salah satu sahabat yang paling dikenal dalam meriwayatkan sifat wudhu Nabi ﷺ. Suatu hari, seorang lelaki datang kepadanya dan bertanya dengan penuh harap: "Dapatkah engkau menunjukkan kepadaku bagaimana Rasulullah ﷺ berwudhu?"
Pertanyaan ini menunjukkan betapa besar kecintaan para sahabat dan tabi'in untuk meneladani Nabi ﷺ hingga dalam hal terkecil sekalipun. Abdullah bin Zaid tidak hanya menjawab dengan kata-kata, tetapi langsung mempraktikkannya di depan orang itu — karena wudhu adalah ibadah yang lebih mudah dipahami dengan melihat langsung daripada hanya mendengar deskripsi.
Imam Malik bin Anas meriwayatkan hadits ini dalam Al-Muwaththa' dan Shahih Al-Bukhari, dan beliau sendiri mengamalkan cara ini. Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf tidak hanya meriwayatkan, tetapi juga mengamalkan apa yang mereka riwayatkan — sebagaimana disebutkan dalam Siyar A'lam an-Nubala' karya Adz-Dzahabi tentang keteladanan Imam Malik dalam mengikuti sunnah.
Hikmahnya: ilmu yang benar akan melahirkan amal, dan amal yang benar akan melahirkan ketenangan hati. Para sahabat belajar wudhu bukan sekadar teori, tetapi untuk diamalkan setiap hari.
Kesimpulan Praktis
- Mengusap kepala dalam wudhu dilakukan dengan kedua tangan, dimulai dari bagian depan kepala, dijalankan ke belakang hingga tengkuk, lalu dikembalikan ke depan.
- Mengusap seluruh kepala adalah yang sesuai sunnah Nabi ﷺ menurut jumhur ulama dalam daftar ini (Malik, Asy-Syafi'i, Ahmad, Ibnu Hajar, An-Nawawi, Al-Utsaimin).
- Mengusap kepala cukup satu kali, tidak diulang tiga kali seperti anggota yang dicuci.
- Jumlah basuhan untuk anggota yang dicuci boleh dua atau tiga kali, dan yang utama tiga kali.
- Belajar wudhu sebaiknya dengan praktik langsung, sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Zaid, agar lebih mudah dipahami dan diamalkan.
- Hendaknya kita bersemangat meneladani Nabi ﷺ dalam hal-hal kecil sekalipun, karena inilah bukti kecintaan dan ketaatan kita kepada beliau.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.