Penjelasan Hadits Bukhari No. 183 tentang Membaca Al-Qur'an setelah bangun tidur lalu wudhu dan shalat malam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ bangun di tengah malam, mengusap wajahnya, lalu membaca Al-Qur'an sebelum berwudhu, kemudian berwudhu dan shalat malam. Ini menjadi dalil bahwa orang yang berhadats boleh membaca Al-Qur'an menurut jumhur ulama, dan bahwa disunnahkan mengusap bekas tidur dari wajah serta membaca ayat-ayat terakhir Surah Ali Imran saat bangun malam. Hadits ini juga menggambarkan betapa lembutnya Nabi ﷺ kepada Ibnu Abbas yang masih kecil.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ﴿١٩٠﴾ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾

QS. Ali Imran [3]: 190–191

Terjemahan: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'"

Ayat inilah yang termasuk dalam sepuluh ayat terakhir Surah Ali Imran yang dibaca Nabi ﷺ saat bangun malam, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain dari hadits ini.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Wudhu, Bab Membaca Al-Qur'an Setelah Hadats, no. 183, dari sahabat Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya membaca Al-Qur'an bagi orang yang berhadats kecil, karena Nabi ﷺ membaca ayat sebelum berwudhu.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa jumhur ulama (mayoritas) membolehkan membaca Al-Qur'an bagi orang yang berhadats kecil, dan hanya orang yang junub yang tidak boleh membacanya.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan keutamaan bangun malam dan membaca ayat-ayat Ali Imran yang mengandung tauhid dan tafakkur.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Bolehnya membaca Al-Qur'an sebelum berwudhu (bagi yang berhadats kecil).

Nabi ﷺ bangun tidur, mengusap wajahnya, lalu langsung membaca sepuluh ayat terakhir Surah Ali Imran — sebelum beliau berwudhu. Ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an tanpa wudhu adalah boleh selama tidak junub. Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil yang jelas dalam masalah ini, dan beliau menyebutkan bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa membaca Al-Qur'an tanpa wudhu adalah makruh, namun pendapat yang lebih kuat adalah boleh berdasarkan hadits ini.

Kedua: Sunnah mengusap bekas tidur dari wajah.

Nabi ﷺ mengusap wajahnya dengan tangan setelah bangun tidur. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah sunnah yang dianjurkan, sebagai bentuk membersihkan diri dan menyiapkan diri untuk beribadah.

Ketiga: Membaca ayat-ayat terakhir Ali Imran saat bangun malam.

Dalam riwayat lain (juga dari Ibnu Abbas), disebutkan bahwa Nabi ﷺ membaca:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ...

hingga akhir Surah Ali Imran. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat-ayat ini mengandung pelajaran tauhid yang agung: mengenal Allah melalui ciptaan-Nya, berdzikir dalam segala keadaan, dan memohon perlindungan dari azab neraka. Membacanya di malam hari saat bangun tidur adalah bentuk menghidupkan malam dengan tafakkur dan dzikir.

Keempat: Wudhu yang sempurna sebelum shalat.

Nabi ﷺ berwudhu dari kantong air yang digantung, dan beliau "menyempurnakan wudhunya." Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i menegaskan bahwa menyempurnakan wudhu berarti memenuhi semua sunnah-sunnahnya: membasuh anggota wudhu dengan sempurna, tidak berlebihan, dan memperhatikan adab-adabnya.

Kelima: Shalat malam Nabi ﷺ — enam kali dua rakaat, lalu witir satu rakaat.

Nabi ﷺ shalat dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat (total 12 rakaat), kemudian witir satu rakaat. Ini menunjukkan bahwa shalat malam boleh dikerjakan dengan dua rakaat-dua rakaat, dan witir sebagai penutup. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ini adalah cara shalat malam yang paling utama.

Keenam: Kasih sayang Nabi ﷺ kepada Ibnu Abbas.

Nabi ﷺ meletakkan tangan kanannya di kepala Ibnu Abbas dan memegang telinga kanannya dengan lembut. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah bentuk kasih sayang dan perhatian Nabi ﷺ kepada anak kecil yang ingin belajar dan beribadah bersama beliau. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak melarang anak kecil ikut shalat malam, bahkan membimbingnya dengan lembut.

Ketujuh: Shalat dua rakaat ringan sebelum Subuh.

Setelah Mu'adzin datang, Nabi ﷺ bangun dan shalat dua rakaat ringan — ini adalah sunnah fajar (qabliyah Subuh). Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa Nabi ﷺ selalu menjaga shalat sunnah fajar dan membacanya dengan ringan.

Story Telling

Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما masih muda ketika itu. Ia bermalam di rumah bibinya, Maimunah رضي الله عنها, istri Nabi ﷺ. Ia ingin sekali melihat langsung bagaimana Nabi ﷺ beribadah di malam hari. Ia berbaring di sisi melintang bantal, sementara Nabi ﷺ dan istrinya berbaring di sisi panjangnya.

Ketika Nabi ﷺ bangun di tengah malam, Ibnu Abbas yang masih kecil itu juga bangun. Ia mengikuti setiap gerakan Nabi ﷺ: berwudhu, lalu berdiri shalat. Ibnu Abbas pun berdiri di samping Nabi ﷺ. Lalu Nabi ﷺ — dengan penuh kasih sayang — meletakkan tangan kanannya di kepala Ibnu Abbas dan memegang telinga kanannya dengan lembut, seolah membimbing dan menenangkan anak kecil yang sedang belajar beribadah.

Ibnu Abbas kemudian menceritakan pengalaman ini kepada umat, dan menjadi salah satu hadits paling penting tentang tata cara shalat malam Nabi ﷺ. Imam Al-Bukhari meriwayatkannya dalam Shahih-nya, dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini adalah salah satu hadits pokok dalam bab shalat malam dan wudhu.

Kesimpulan Praktis

  1. Boleh membaca Al-Qur'an sebelum berwudhu bagi yang berhadats kecil, berdasarkan perbuatan Nabi ﷺ dalam hadits ini.
  2. Disunnahkan mengusap wajah setelah bangun tidur, sebagai adab sebelum beribadah.
  3. Disunnahkan membaca ayat-ayat terakhir Surah Ali Imran (ayat 190–200) saat bangun malam, karena mengandung tauhid dan tafakkur.
  4. Shalat malam dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, lalu ditutup dengan witir.
  5. Hendaknya menyempurnakan wudhu sebelum shalat.
  6. Bersikap lembut kepada anak-anak yang ingin belajar ibadah, sebagaimana Nabi ﷺ memperlakukan Ibnu Abbas.
  7. Menjaga shalat sunnah fajar (dua rakaat ringan sebelum Subuh).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?