Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa besarnya kecintaan Nabi ﷺ kepada Kota Madinah. Ketika beliau kembali dari safar (perjalanan) dan mulai melihat tanda-tanda atau bangunan-bangunan tinggi Madinah, beliau segera mempercepat kendaraannya. Ini adalah bentuk kerinduan dan cinta yang mendalam, yang menjadi teladan bagi kita untuk mencintai tanah air dan tempat tinggal kita dengan cara yang baik dan sesuai syariat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Umrah, Bab "Siapa yang Mempercepat Ontanya Ketika Sampai di Madinah" (No. 1802). Perawinya adalah Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Teks Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي حُمَيْدٌ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا ـ رضى الله عنه ـ يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا. قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: زَادَ الْحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ عَنْ حُمَيْدٍ: حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا.
Terjemahan Makna Ringkas:
Anas radhiyallahu 'anhu berkata: "Adalah Rasulullah ﷺ apabila kembali dari suatu perjalanan, lalu beliau melihat tempat-tempat tinggi (bangunan) Madinah, beliau mempercepat jalannya unta betina beliau. Dan jika kendaraan itu adalah hewan lain, beliau juga mempercepatnya." Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau mempercepatnya karena cintanya kepada Madinah.
Penjelasan Ulama:
Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab yang menunjukkan perbuatan Nabi ﷺ saat tiba di Madinah. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kata "أَوْضَعَ" (audha'a) berarti mempercepat perjalanan kendaraan. Adapun kata "دَرَجَاتِ الْمَدِينَةِ" (darajatil madinah) menurut riwayat lain adalah "جُدُرَاتٍ" (judurat), yang berarti tembok-tembok atau bangunan tinggi. Ini menunjukkan bahwa ketika Nabi ﷺ sudah melihat tanda-tanda fisik kota Madinah, beliau tidak sabar lagi untuk segera tiba.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan pelajaran adab yang sangat indah. Para ulama, seperti yang dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan juga Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, memahami bahwa perbuatan Nabi ﷺ ini adalah bentuk ekspresi cinta yang wajar dan terpuji.
- Cinta kepada Tanah Air (Hubbul Wathan): Perbuatan Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwa mencintai tempat tinggal dan tanah air adalah fitrah manusia yang baik. Beliau tidak melarang perasaan rindu, bahkan beliau sendiri menunjukkannya. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengekspresikannya. Ekspresi Nabi ﷺ adalah dengan mempercepat kendaraan, bukan dengan melakukan hal-hal yang melampaui batas syariat seperti histeris atau meratap.
- Adab Kembali dari Perjalanan: Dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad, Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan hadits-hadits tentang adab kembali dari safar. Di antaranya adalah disunnahkan untuk segera menemui keluarga dan tidak mengejutkan mereka di malam hari. Percepatan kendaraan ini juga bisa dimaknai sebagai kerinduan untuk segera bertemu keluarga dan kampung halaman.
- Keutamaan Kota Madinah: Kecintaan Nabi ﷺ yang khusus kepada Madinah menunjukkan keutamaan kota ini. Madinah adalah kota hijrah, kota yang diberkahi, dan tempat di mana Islam berjaya. Cinta beliau kepada Madinah adalah cinta karena Allah, karena di sanalah agama Allah ditegakkan.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk merasa senang dan rindu kepada tempat-tempat yang baik, terutama tempat-tempat yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah dorongan untuk memiliki perasaan positif terhadap lingkungan yang mendukung ketaatan.
Story Telling
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para sahabat daripada Rasulullah ﷺ. Namun, apabila mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri untuknya karena mereka tahu bahwa beliau tidak menyukai hal itu." (HR. At-Tirmidzi, hasan shahih).
Kisah ini menunjukkan adab para sahabat yang sangat dalam. Mereka sangat mencintai Nabi, namun cinta itu tidak membuat mereka melanggar adab yang diajarkan beliau. Begitu pula dengan cinta kepada tanah air. Cinta yang benar adalah cinta yang membawa kepada ketaatan, bukan kepada kemaksiatan atau kesombongan. Cinta kepada Madinah membuat Nabi ﷺ rindu dan bersemangat untuk kembali, dan itu adalah cinta yang diberkahi.
Kesimpulan Praktis
- Rindukanlah tempat yang baik: Tanamkan dalam hati rasa cinta kepada tempat-tempat yang mendukung kita untuk beribadah kepada Allah, seperti masjid, majelis ilmu, dan rumah yang penuh keberkahan.
- Ekspresikan cinta dengan cara yang baik: Jika kita rindu kepada keluarga atau kampung halaman setelah bepergian, ungkapkanlah dengan cara yang wajar dan tidak berlebihan. Bersyukurlah kepada Allah karena telah mempertemukan kembali.
- Teladani cinta Nabi kepada Madinah: Cinta kepada tanah air adalah bagian dari iman, selama tidak mengarah pada fanatisme buta (ashabiyah) yang tercela. Cintailah tempat tinggalmu karena di situlah kamu bisa beribadah dan berbuat kebaikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.