Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 1753 tentang Tata cara lempar jumrah dan doa setelahnya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tata cara melempar jumrah pada hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) yang dicontohkan langsung oleh Nabi ﷺ. Intinya, setelah melempar jumrah pertama (Al-Ula) dan kedua (Al-Wusta), beliau berdiri lama menghadap kiblat sambil berdoa. Adapun setelah melempar jumrah ketiga (Aqabah), beliau langsung pergi tanpa berdoa. Ini adalah sunnah yang mulia dan menunjukkan keutamaan berdoa di tempat-tempat mustajab tersebut.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Haji, Bab Doa di Dua Jamrah, no. 1753, dari jalur Az-Zuhri dari Salim bin Abdullah dari ayahnya (Ibnu Umar) radhiyallahu 'anhuma.

Dalil dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Hadits terkait:

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari jalur yang sama, dengan lafaz yang serupa. Ini menunjukkan kekuatan dan kesahihan hadits ini.

Kaitan dengan ulama:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri), salah satu ulama tabi'in yang tercantum dalam daftar rujukan kami. Beliau adalah seorang imam besar dalam ilmu hadits dan fiqih pada masanya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah penjelasan praktis dari perbuatan (fi'il) Nabi ﷺ dalam rangkaian ibadah haji, khususnya pada hari-hari tasyriq. Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in sangat memperhatikan detail ibadah ini.

1. Melempar Jumrah Al-Ula (Jumrah Pertama):

Nabi ﷺ melempar jumrah yang dekat dengan Masjid Khaif di Mina dengan tujuh kerikil. Setiap kali melempar satu kerikil, beliau bertakbir ("Allahu Akbar"). Setelah selesai, beliau maju ke depan, berdiri menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan berdoa dengan doa yang panjang.

2. Melempar Jumrah Al-Wusta (Jumrah Kedua):

Setelah itu, beliau mendatangi jumrah kedua (Al-Wusta), melemparnya dengan tujuh kerikil sambil bertakbir di setiap lemparan. Kemudian beliau berdiri menghadap kiblat sambil mengangkat tangan dan berdoa, sebagaimana yang beliau lakukan setelah jumrah pertama.

3. Melempar Jumrah Al-Aqabah (Jumrah Ketiga):

Setelah melempar jumrah Aqabah dengan tujuh kerikil dan bertakbir di setiap lemparan, beliau langsung pergi dan tidak berdoa di tempat tersebut.

Pemahaman Ulama:

  • Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm dan para ulama pengikutnya berpendapat bahwa berdoa setelah melempar jumrah pertama dan kedua adalah sunnah. Adapun setelah melempar jumrah Aqabah, tidak ada doa karena Nabi ﷺ tidak melakukannya.
  • Imam Ahmad bin Hanbal juga berpendapat serupa. Beliau menyebutkan bahwa disunnahkan untuk berdiri dan berdoa setelah jumrah pertama dan kedua, tetapi tidak setelah jumrah Aqabah.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Al-Mumti' menjelaskan bahwa hikmah tidak berdoa setelah jumrah Aqabah adalah karena jumrah ini adalah jumrah terakhir dan tempatnya sempit, serta untuk menunjukkan bahwa ibadah telah selesai dan jamaah segera bertolak.

Pelajaran Penting:

  1. Takbir saat melempar: Disunnahkan bertakbir setiap kali melempar kerikil. Ini adalah dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ.
  2. Berdoa setelah melempar: Ini adalah waktu yang mustajab. Nabi ﷺ berdiri lama dan berdoa dengan khusyuk. Ini menunjukkan bahwa setelah menyelesaikan ibadah, kita dianjurkan untuk banyak berdoa memohon kebaikan dunia dan akhirat.
  3. Menghadap kiblat dan mengangkat tangan: Ini adalah adab berdoa yang diajarkan Nabi ﷺ.
  4. Perbedaan jumrah Aqabah: Tidak berdoa setelah jumrah Aqabah adalah bagian dari sunnah, dan kita tidak boleh menambah-nambah ibadah yang tidak dicontohkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, yang merupakan perawi hadits ini, sangat bersemangat dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Beliau dikenal sebagai orang yang paling teliti dalam meniru perbuatan Rasulullah ﷺ, bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun.

Az-Zuhri meriwayatkan bahwa Ibnu Umar melakukan persis seperti yang dilakukan Nabi ﷺ. Beliau melempar jumrah, lalu berdiri lama berdoa dengan mengangkat tangan. Ini menunjukkan kecintaan para sahabat yang begitu dalam kepada sunnah Nabi ﷺ. Mereka tidak menganggap remeh detail ibadah, karena mereka tahu bahwa dalam setiap detail itu terdapat keberkahan dan pahala.

Hikmahnya: Kita sebagai umat Islam harus berusaha meneladani Nabi ﷺ dalam segala hal, terutama dalam ibadah. Janganlah kita meremehkan sunnah-sunnah yang tampak kecil, karena di dalamnya terdapat kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Bagi yang berhaji: Setelah melempar jumrah Al-Ula dan Al-Wusta pada hari tasyriq, disunnahkan untuk berdiri menghadap kiblat, mengangkat tangan, dan berdoa dengan doa yang panjang. Setelah melempar jumrah Aqabah, tidak ada doa dan langsung pergi.
  2. Bagi yang tidak berhaji: Kita bisa mengambil pelajaran tentang adab berdoa, yaitu menghadap kiblat, mengangkat tangan, dan bersungguh-sungguh dalam berdoa. Juga pelajaran tentang pentingnya mengikuti sunnah secara detail tanpa menambah-nambah.
  3. Perbanyak doa di waktu-waktu mustajab: Sebagaimana Nabi ﷺ memanfaatkan momen setelah ibadah untuk berdoa, kita pun dianjurkan untuk memperbanyak doa setelah menyelesaikan ibadah-ibadah lainnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.