Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mencintai dan membiasakan memulai dari sisi kanan dalam banyak perkara, termasuk saat bersuci (wudhu dan mandi), memakai sandal, menyisir rambut, dan urusan-urusan baik lainnya. Ini adalah adab mulia yang mengajarkan kita untuk mendahulukan yang kanan dalam hal-hal yang mengandung keutamaan dan keindahan, serta mendahulukan yang kiri untuk hal-hal yang berkaitan dengan membersihkan kotoran.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Waqi'ah [56]: 27
وَوَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ
Terjemahan: "Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu."
(QS. Al-Waqi'ah [56]: 27 — menunjukkan kemuliaan sisi kanan)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Wudhu, Bab Memulai dengan Kanan dalam Wudhu dan Mandi, nomor 168. Perawi hadits ini adalah Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Nabi ﷺ, melalui jalur Masruq bin Al-Ajda'.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dasar kaidah fiqih yang agung: "Memulai dari kanan dalam segala hal yang bersifat penghormatan dan keindahan." Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menegaskan bahwa kata "yu'jibuhu" (menyenangkan/mengagumkan) menunjukkan bahwa ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan sesuatu yang beliau cintai dan ajarkan.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa Nabi ﷺ menyukai memulai dari sisi kanan dalam empat hal yang disebutkan secara khusus: memakai sandal (tana''ul), menyisir rambut (tarajjul), bersuci (thuhur), dan kemudian beliau menyebutkan "dalam segala urusannya" (fii sya'nihi kullihi). Ini menunjukkan bahwa prinsip mendahulukan kanan adalah kaidah umum dalam syariat.
Pemahaman para ulama:
- Imam An-Nawawi (dalam Syarah Shahih Muslim) menjelaskan bahwa kaidah ini berlaku untuk semua perkara yang mengandung unsur keindahan, penghormatan, atau kebaikan. Sebaliknya, untuk hal-hal yang berkaitan dengan menghilangkan kotoran atau najis, seperti istinja (membersihkan diri setelah buang hajat), maka didahulukan yang kiri.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menyebutkan bahwa hikmah mendahulukan kanan adalah karena sisi kanan lebih mulia, sebagaimana Allah menyebutkan golongan kanan sebagai golongan yang berbahagia. Beliau juga menyebutkan bahwa ini adalah bentuk penghormatan terhadap sisi kanan yang secara syar'i memiliki keutamaan.
- Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i menjadikan hadits ini sebagai dalil sunnahnya memulai dari kanan dalam wudhu, yaitu membasuh tangan kanan sebelum tangan kiri, kaki kanan sebelum kaki kiri, dan seterusnya.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sangat konsisten dalam menerapkan prinsip ini, bahkan dalam hal-hal kecil seperti memakai sandal, memotong kuku, dan bersuci. Ini menunjukkan bahwa Islam memperhatikan adab-adab yang tampak sederhana namun memiliki nilai ibadah.
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa kata "yu'jibuhu" menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mencintai hal ini, dan apa yang dicintai Nabi ﷺ adalah bagian dari agama yang harus kita ikuti.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama berbeda pendapat apakah mendahulukan kanan dalam wudhu hukumnya sunnah atau wajib. Jumhur ulama (mayoritas) dari kalangan empat madzhab berpendapat bahwa hukumnya sunnah, bukan wajib. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar. Namun, jika seseorang sengaja mendahulukan kiri tanpa alasan, ia meninggalkan keutamaan yang besar.
Kaidah penting:
Para ulama menyimpulkan kaidah: "Mendahulukan kanan dalam hal-hal yang baik dan mengandung keindahan, mendahulukan kiri dalam hal-hal yang berkaitan dengan menghilangkan kotoran." Kaidah ini diambil dari hadits ini dan hadits-hadits lain, seperti hadits tentang istinja yang mendahulukan kiri.
Story Telling
Diceritakan bahwa Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah, seorang ulama besar Tabi'ut Tabi'in, sangat memperhatikan sunnah-sunnah kecil ini. Suatu ketika beliau ditanya mengapa beliau begitu teliti dalam memulai dari kanan bahkan dalam hal-hal yang dianggap sepele. Beliau menjawab bahwa mengagungkan sunnah Nabi ﷺ adalah tanda kecintaan kepada beliau, dan barangsiapa mencintai Nabi ﷺ, maka ia akan memperhatikan bahkan hal-hal kecil yang beliau ajarkan.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah juga pernah berkata bahwa sunnah-sunnah kecil seperti ini adalah tanda keimanan yang kuat, karena syaitan sering kali menggoda manusia untuk meremehkan hal-hal yang tampak kecil, padahal di situlah letak kecintaan kepada Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Mulailah dari kanan saat berwudhu: basuh tangan kanan sebelum kiri, kaki kanan sebelum kiri.
- Mulailah dari kanan saat mandi: siram atau basuh sisi kanan tubuh sebelum sisi kiri.
- Mulailah dari kanan saat memakai sandal, sepatu, atau pakaian.
- Mulailah dari kanan saat menyisir rambut, memotong kuku, dan bersiwak.
- Mulailah dari kiri saat melepas sandal, membersihkan diri dari kotoran (istinja), dan hal-hal yang berkaitan dengan menghilangkan najis.
- Tanamkan dalam hati bahwa mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam hal-hal kecil adalah bukti kecintaan kepada beliau.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.