Penjelasan Hadits Bukhari No. 1664 tentang Nabi ﷺ wukuf di Arafah meski berasal dari Hums

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan kisah Jubair bin Mut'im radhiyallahu 'anhu sebelum masuk Islam. Saat itu ia keheranan melihat Nabi ﷺ berdiri (wukuf) di Arafah, padahal menurut kebiasaan orang Quraisy (yang disebut al-Hums), mereka tidak keluar dari tanah haram untuk wukuf di Arafah. Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menyelisihi kebiasaan jahiliyah kaumnya dan mengikuti ajaran Nabi Ibrahim 'alaihissalam dalam manasik haji, serta menjadi bukti kenabian beliau.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Haji, Bab Wukuf di Arafah, no. 1664, dari Jubair bin Mut'im radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan lengkap. Berikut poin pentingnya:

  • Perawi: Jubair bin Mut'im radhiyallahu 'anhu.
  • Inti hadits: Jubair kehilangan untanya, lalu mencarinya pada hari Arafah. Ia melihat Nabi ﷺ berdiri di Arafah, dan ia berkata: "Ini, demi Allah, termasuk al-Hums. Apa urusannya di sini?"

Ayat Al-Qur'an yang relevan (tentang wukuf di Arafah sebagai bagian dari manasik haji):

QS. Al-Baqarah [2]: 199

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan kaum Quraisy untuk keluar dari tanah haram menuju Arafah, sebagaimana orang-orang biasa (selain Quraisy) melakukannya. Ini karena kebiasaan Quraisy (al-Hums) yang tidak keluar ke Arafah, lalu Allah memerintahkan mereka untuk berwukuf di sana. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah: 199).

Penjelasan Rinci

1. Makna "al-Hums"

Al-Hums adalah sebutan untuk kaum Quraisy dan sekutunya di masa jahiliyah. Mereka merasa diri mereka adalah penduduk tanah haram dan "ahli" dalam urusan agama. Mereka menganggap tidak perlu keluar dari tanah haram untuk wukuf di Arafah, karena mereka berkata: "Kami adalah ahlullah (keluarga Allah) dan penduduk rumah-Nya." Mereka hanya wukuf di Muzdalifah (jam'u) dan tidak ke Arafah.

2. Keheranan Jubair bin Mut'im

Jubair saat itu masih musyrik. Ia melihat Nabi ﷺ berdiri di Arafah, padahal menurut kebiasaan kaumnya, orang Quraisy tidak melakukan itu. Ia berkata: "Ini, demi Allah, termasuk al-Hums. Apa urusannya di sini?" Maksudnya: "Bukankah dia dari Quraisy yang biasa tidak keluar ke Arafah? Mengapa dia justru berdiri di sini?" Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ telah meninggalkan kebiasaan jahiliyah dan mengikuti syariat Nabi Ibrahim.

3. Pelajaran dari hadits ini

  • Nabi ﷺ tidak takut disalahkan atau dicela oleh kaumnya dalam menegakkan kebenaran. Beliau wukuf di Arafah meskipun itu menyelisihi tradisi Quraisy.
  • Wukuf di Arafah adalah rukun haji yang agung. Rasulullah ﷺ bersabda: "Haji itu adalah Arafah." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lainnya; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
  • Hadits ini juga menunjukkan bahwa kebenaran tidak diukur dengan mayoritas atau tradisi, tetapi dengan dalil syariat.

4. Penjelasan ulama

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa kebiasaan al-Hums adalah mereka tidak keluar dari tanah haram untuk wukuf di Arafah, dan mereka hanya wukuf di Muzdalifah. Nabi ﷺ menyelisihi itu dan wukuf di Arafah, lalu Allah menurunkan ayat QS. Al-Baqarah: 199 yang memerintahkan bertolak dari Arafah.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa wukuf di Arafah adalah rukun haji, dan bahwa Nabi ﷺ wukuf di Arafah pada haji wada' meskipun beliau dari Quraisy.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in atau kitab haji beliau menjelaskan bahwa wukuf di Arafah adalah rukun terbesar dalam haji, dan tidak sah haji tanpa wukuf di Arafah.

Story Telling

Kisah Jubair bin Mut'im ini terjadi sebelum beliau masuk Islam. Ia masih dalam keadaan syirik, tetapi Allah menghendaki kebaikan untuknya. Setelah kejadian ini, Jubair semakin memperhatikan Nabi ﷺ, hingga akhirnya Allah membukakan hatinya untuk masuk Islam.

Diriwayatkan bahwa setelah masuk Islam, Jubair bin Mut'im menjadi salah satu sahabat yang mulia. Suatu ketika ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ membaca surat Ath-Thur dalam shalat Maghrib, dan hatiku hampir terbang karena mendengar bacaan itu." (HR. Al-Bukhari no. 765).

Hikmahnya: Allah bisa membimbing siapa saja yang dikehendaki-Nya, meskipun awalnya jauh dari kebenaran. Melihat kebenaran dengan mata kepala sendiri adalah salah satu sebab hidayah, tetapi yang terpenting adalah kejujuran dalam mencari kebenaran.

Kesimpulan Praktis

  1. Wukuf di Arafah adalah rukun haji yang agung. Siapa yang tidak wukuf di Arafah pada waktunya, maka hajinya tidak sah.
  2. Seorang muslim harus berani menyelisihi kebiasaan yang bertentangan dengan syariat, meskipun dilakukan oleh mayoritas atau orang-orang terpandang.
  3. Kebenaran tidak diukur dengan tradisi, tetapi dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
  4. Kisah Jubair bin Mut'im mengajarkan kita untuk tidak meremehkan orang yang berbeda dengan kebiasaan kita, karena bisa jadi ia yang benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?