Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa ibadah dalam Islam harus berdasarkan ittiba' (mengikuti) kepada Rasulullah ﷺ, bukan berdasarkan akal, perasaan, atau adat istiadat. Tindakan Sayyidina Umar radhiyallahu 'anhu mencium Hajar Aswad semata-mata karena beliau melihat Rasulullah ﷺ melakukannya. Ini adalah pelajaran agung tentang pentingnya tauhid dalam ibadah dan mengikuti sunnah dengan penuh kepasrahan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Haji, Bab Mencium Hajar (no. 1610). Teks haditsnya adalah sebagai berikut:
<p>حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا وَرْقَاءُ، أَخْبَرَنَا زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ـ رضى الله عنه ـ قَبَّلَ الْحَجَرَ وَقَالَ لَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ.</p>
Maknanya: Dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya (yaitu Aslam, maula Umar bin al-Khattab), ia berkata: "Aku melihat Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu mencium Hajar Aswad, lalu ia berkata: 'Seandainya aku tidak melihat Rasulullah ﷺ menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.'"
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1270) dan oleh para ulama hadits lainnya.
Para ulama dari kalangan salaf sangat menekankan hadits ini. Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa perkataan Umar ini adalah bantahan terhadap orang-orang jahil yang mengira bahwa mencium Hajar Aswad adalah karena batu itu memiliki kekuatan atau manfaat sendiri. Umar ingin menegaskan bahwa ia tidak mengagungkan batu itu, tetapi ia mengagungkan perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasul-Nya ﷺ.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa seringkali membawakan hadits ini sebagai dalil bahwa ibadah itu harus tawqifiyyah (berdasarkan wahyu), bukan berdasarkan akal atau hawa nafsu. Beliau berkata, "Umar radhiyallahu 'anhu adalah seorang yang kuat akalnya, namun ia tetap mengatakan, 'Seandainya aku tidak melihat Rasulullah ﷺ menciummu, aku tidak akan menciummu.' Ini menunjukkan bahwa ibadah tidak boleh dilakukan kecuali dengan dalil syar'i."
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu prinsip besar dalam agama, yaitu al-mutaba'ah (mengikuti) dan al-ittiba' (meneladani). Beliau juga menegaskan bahwa Hajar Aswad tidak bisa mendatangkan manfaat atau mudharat, ia hanyalah batu biasa yang dimuliakan karena syariat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran yang sangat dalam bagi seorang muslim:
- Ibadah Harus Berlandaskan Dalil (Al-Ittiba'): Inti dari hadits ini adalah penegasan bahwa setiap amal ibadah harus didasarkan pada contoh dari Rasulullah ﷺ. Sayyidina Umar radhiyallahu 'anhu, dengan segala kewibawaan dan pemahamannya yang dalam, tidak merasa cukup dengan akalnya sendiri. Beliau membutuhkan bukti nyata bahwa Rasulullah ﷺ melakukannya. Ini mengajarkan kita untuk tidak beribadah dengan cara-cara yang tidak dicontohkan, meskipun terlihat baik atau masuk akal.
- Menghilangkan Syirik dan Khurafat: Pada masa jahiliyah, orang-orang mengagungkan berhala dan benda-benda tertentu karena dianggap memiliki kekuatan gaib. Perkataan Umar radhiyallahu 'anhu secara tegas memotong jalan menuju syirik. Beliau menyatakan bahwa penghormatan kepada Hajar Aswad bukan karena batu itu sendiri, tetapi semata-mata karena ia adalah syiar Allah yang dicontohkan oleh Nabi-Nya. Imam al-Bukhari sendiri meletakkan hadits ini dalam bab "Mencium Hajar" untuk menunjukkan bahwa menciumnya adalah sunnah, bukan karena batu itu memiliki kekuatan.
- Ketaatan Total kepada Rasulullah ﷺ: Hadits ini menunjukkan puncak ketaatan seorang sahabat. Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Seandainya aku tidak melihat Rasulullah ﷺ menciummu, aku tidak akan menciummu." Ini adalah pernyataan yang sangat kuat. Beliau rela melakukan sesuatu yang mungkin tidak dipahami oleh akalnya, hanya karena mengikuti Nabi ﷺ. Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Fath al-Bari (syarah hadits) menjelaskan bahwa ini adalah bentuk ta'abbud (penghambaan diri) yang murni kepada Allah dengan cara mengikuti Rasul-Nya.
- Adab dalam Beribadah: Hadits ini juga mengajarkan adab yang tinggi. Umar radhiyallahu 'anhu tidak melarang orang lain mencium Hajar Aswad, tetapi ia menjelaskan motivasi di balik perbuatannya. Ini adalah bentuk pengajaran yang lembut dan penuh hikmah. Beliau ingin membersihkan hati kaum muslimin dari keyakinan yang salah.
Story Telling
Kisah ini diriwayatkan oleh banyak ulama, termasuk Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika, Sayyidina Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu, seorang pemimpin yang tegas dan cerdas, mendekati Hajar Aswad di tengah kerumunan jamaah haji. Beliau kemudian mencium batu tersebut dengan penuh hormat. Setelah itu, beliau menoleh kepada orang-orang di sekitarnya dan berkata dengan lantang, "Sungguh, aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan tidak bisa menolak mudharat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah ﷺ menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu."
Perkataan ini menjadi pelajaran berharga bagi para sahabat dan seluruh umat Islam setelahnya. Imam Ibn Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa perkataan Umar ini adalah bantahan terhadap orang-orang yang baru masuk Islam atau yang memiliki sisa-sisa keyakinan jahiliyah, bahwa mereka tidak boleh mengagungkan benda-benda seperti orang-orang musyrik. Umar ingin menegaskan bahwa semua ibadah harus murni karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya.
Kesimpulan Praktis
Dari hadits ini, kita dapat mengambil beberapa amalan penting:
- Ittiba' (Mengikuti) adalah Kunci Ibadah: Sebelum melakukan suatu amalan, pastikan ada contohnya dari Rasulullah ﷺ. Jangan menambah-nambah ibadah yang tidak ada tuntunannya.
- Jadikan Sunnah sebagai Satu-satunya Motivasi: Lakukan ibadah karena Allah dan ikuti sunnah, bukan karena adat, perasaan, atau keinginan pribadi.
- Jauhkan Hati dari Syirik: Sadari bahwa benda-benda seperti batu, pohon, atau tempat keramat tidak memiliki kekuatan apapun. Hanya Allah yang memberi manfaat dan mudharat.
- Belajar dari Para Sahabat: Jadikan sahabat seperti Umar sebagai teladan dalam kecintaan mereka kepada sunnah dan ketaatan mereka kepada Rasulullah ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.