Penjelasan Hadits Bukhari No. 1589 tentang Tujuan Nabi memasuki Mekkah dan singgah di Khaif Bani Kinana

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi sabda Nabi ﷺ saat hendak memasuki Mekkah pada peristiwa Fathu Makkah, bahwa beliau akan bermalam di Khaif Bani Kinanah (yang dikenal sebagai lembah Muhassab), yaitu tempat kaum musyrik Quraisy dahulu bersepakat untuk memboikot dan memusuhi Bani Hasyim serta Bani Muththalib. Hadits ini menunjukkan kebolehan bernubuat dengan menyebut "insya Allah", sekaligus mengingatkan bahwa tempat itu pernah menjadi saksi kekufuran, lalu Allah memuliakannya dengan kemenangan Islam.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Haji, Bab Turunnya Nabi ﷺ di Mekkah, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Sanadnya: Abu Al-Yaman → Syu'aib → Az-Zuhri → Abu Salamah → Abu Hurairah.

Teks hadits:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حِينَ أَرَادَ قُدُومَ مَكَّةَ: «مَنْزِلُنَا غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِخَيْفِ بَنِي كِنَانَةَ حَيْثُ تَقَاسَمُوا عَلَى الْكُفْرِ»

Terjemah: "Rasulullah ﷺ bersabda ketika hendak memasuki Mekkah: 'Tujuan kita besok, insya Allah, adalah Khaif Bani Kinanah, di mana mereka dahulu bersepakat atas kekufuran.'"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan peristiwa Fathu Makkah:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

QS. Al-Fath [48]: 1

" Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata."

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "Khaif Bani Kinanah" adalah lembah di dekat Mekkah yang dikenal juga dengan nama Al-Muhassab, dan bahwa kaum Quraisy dahulu berkumpul di sana untuk menyusun piagam boikot terhadap Bani Hasyim dan Bani Muththalib. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menyebutkan bahwa tempat ini dinamakan demikian karena dahulu menjadi lokasi kesepakatan kaum musyrik untuk memerangi Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Hadits ini terjadi pada peristiwa Fathu Makkah (penaklukan Mekkah) pada tahun ke-8 Hijriah. Ketika Nabi ﷺ dan para sahabat mendekati Mekkah, beliau menyampaikan bahwa tempat bermalam mereka berikutnya adalah Khaif Bani Kinanah. Penyebutan "insya Allah" di sini menunjukkan adab kenabian dalam menyandarkan segala sesuatu kepada kehendak Allah, sebagaimana diperintahkan dalam QS. Al-Kahfi [18]: 23-24:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا ۝ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

"Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu: 'Aku akan melakukan itu besok', kecuali dengan menyebut insya Allah."

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar bagi seorang muslim untuk menyertakan masyi'ah (kehendak Allah) dalam setiap rencana. Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam hadits ini terdapat faedah bahwa menyebut "insya Allah" dalam ucapan yang menunjukkan rencana masa depan adalah sunnah yang dianjurkan.

Adapun penyebutan "di mana mereka dahulu bersepakat atas kekufuran", ini merujuk pada peristiwa ketika kaum Quraisy musyrik mengadakan pertemuan di lembah tersebut dan menandatangani piagam yang berisi boikot total terhadap Bani Hasyim dan Bani Muththalib karena melindungi Nabi ﷺ. Imam Az-Zuhri (perawi hadits ini) menyebutkan bahwa tempat itu menjadi saksi bagaimana kaum musyrik bersatu dalam kekufuran dan permusuhan terhadap dakwah tauhid.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa Allah sengaja mempertemukan Nabi ﷺ dengan tempat-tempat yang pernah menjadi saksi kezaliman, agar menjadi pelajaran bahwa kebatilan pasti akan hancur dan kebenaran akan tegak. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarahnya menyebutkan bahwa dalam hadits ini terdapat isyarat bahwa seorang muslim boleh mengingat tempat-tempat bersejarah untuk mengambil pelajaran, bukan untuk mengagungkan tempat itu sendiri.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak bermaksud mengagungkan tempat tersebut, melainkan sekadar mengabarkan tempat persinggahan. Ini penting agar umat Islam tidak menjadikan tempat-tempat tertentu sebagai tempat ibadah khusus yang tidak disyariatkan.

Story Telling

Dikisahkan oleh Az-Zuhri, bahwa ketika Nabi ﷺ dan para sahabat mendekati Mekkah pada tahun Fathu Makkah, beliau memerintahkan pasukan untuk bermalam di Khaif Bani Kinanah. Tempat itu dahulu menjadi lokasi di mana kaum Quraisy musyrik berkumpul dan menulis piagam boikot terhadap Bani Hasyim dan Bani Muththalib — sebuah piagam yang menggantung di Ka'bah selama tiga tahun, memutus segala hubungan jual beli, pernikahan, dan interaksi dengan kaum muslimin dan pelindung Nabi ﷺ.

Ketika Nabi ﷺ memasuki tempat itu, beliau mengingatkan para sahabat bahwa di tempat inilah dahulu kekufuran bersepakat. Namun kini, tempat yang sama menjadi saksi kemenangan tauhid. Kaum musyrik yang dahulu sombong dan bersekutu untuk memusuhi Islam, kini harus tunduk dan menyerah. Hikmahnya: Allah Maha Kuasa membalik keadaan. Tempat yang dahulu menjadi markas kekufuran, kini menjadi tempat persinggahan pasukan tauhid. Ini mengajarkan bahwa kesabaran dalam menghadapi tekanan dan boikot akan berbuah kemenangan, sebagaimana yang dialami Nabi ﷺ dan para sahabat.

Kesimpulan Praktis

  1. Hendaknya seorang muslim menyebut "insya Allah" ketika merencanakan sesuatu, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
  2. Tempat-tempat bersejarah boleh diingat dan dijadikan pelajaran, tetapi tidak dijadikan tempat ibadah khusus yang tidak disyariatkan.
  3. Kesabaran dalam menghadapi tekanan dan permusuhan akan berbuah kemenangan, sebagaimana janji Allah kepada orang-orang yang beriman.
  4. Hendaknya kita mengambil pelajaran dari peristiwa Fathu Makkah bahwa kebatilan pasti akan hancur dan kebenaran akan tegak.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?