Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 1579 tentang Nabi masuk Mekkah dari tempat tertinggi saat penaklukan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa pada saat Penaklukan Mekkah (Fathu Makkah), Nabi ﷺ memasuki kota Mekkah dari arah Kada' (كَدَاء), yaitu jalan yang berada di bagian atas/lebih tinggi kota Mekkah. Ini adalah informasi penting tentang sirah (perjalanan hidup) Nabi ﷺ dan juga menunjukkan bahwa masuk dari arah mana pun ke Mekkah itu dibolehkan, karena Nabi ﷺ sendiri masuk dari arah atas, dan para sahabat juga masuk dari arah bawah. Hadits ini juga menunjukkan perhatian para sahabat terhadap detail-detail sunnah Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Haji, Bab "Dari Mana Keluar Dari Mekkah", nomor 1579. Berikut teks haditsnya:

<p>حَدَّثَنَا أَحْمَدُ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنَا عَمْرٌو، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ دَخَلَ عَامَ الْفَتْحِ مِنْ كَدَاءٍ أَعْلَى مَكَّةَ‏.‏ قَالَ هِشَامٌ وَكَانَ عُرْوَةُ يَدْخُلُ عَلَى كِلْتَيْهِمَا مِنْ كَدَاءٍ وَكُدًا، وَأَكْثَرُ مَا يَدْخُلُ مِنْ كَدَاءٍ، وَكَانَتْ أَقْرَبَهُمَا إِلَى مَنْزِلِهِ‏.‏</p>

Terjemahan: Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi ﷺ masuk (Mekkah) pada tahun penaklukan dari Kada', yaitu tempat yang lebih tinggi di Mekkah. Hisyam berkata: "Urwah biasa masuk dari kedua arah tersebut, yaitu Kada' dan Kuda', dan yang paling sering ia masuki adalah dari Kada', karena ia lebih dekat ke rumahnya."

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan secara panjang lebar tentang lokasi Kada' dan Kuda'. Beliau menukil perkataan para ulama ahli sejarah dan bahasa bahwa Kada' (كَدَاء) adalah jalan di bagian atas Mekkah (dekat Ma'lah), sedangkan Kuda' (كُدًا) adalah jalan di bagian bawah Mekkah (dekat Masfalah). Ini menunjukkan perhatian ulama terhadap detail geografis untuk memahami sirah Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Masuk ke Mekkah dari arah mana pun dibolehkan.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya masuk ke Mekkah dari arah mana saja, baik dari atas maupun dari bawah. Namun, beliau menukil bahwa sebagian ulama menganjurkan masuk dari arah atas (Kada') karena mengikuti perbuatan Nabi ﷺ pada saat Fathu Makkah. Akan tetapi, ini bukan kewajiban, melainkan hanya keutamaan.

2. Perhatian sahabat terhadap detail sunnah.

Dalam hadits ini, Hisyam bin Urwah menceritakan bahwa ayahnya, Urwah bin Az-Zubair (salah satu ulama tabi'in besar), biasa masuk ke Mekkah dari kedua arah tersebut. Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memperhatikan dan meneladani perbuatan Nabi ﷺ dalam hal-hal yang tampak kecil sekalipun. Imam Al-Bukhari sengaja mencantumkan hadits ini dalam bab "Dari Mana Keluar Dari Mekkah" untuk menunjukkan bahwa keluar dari Mekkah juga bisa dari arah mana saja, sebagaimana masuknya.

3. Hikmah masuk dari arah atas.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa masuk dari arah atas pada saat Fathu Makkah adalah murni karena pertimbangan strategis militer, bukan karena ada perintah syariat khusus. Namun, karena Nabi ﷺ melakukannya, maka hal itu menjadi sunnah yang dianjurkan untuk diikuti selama tidak memberatkan.

4. Bantahan terhadap anggapan bahwa masuk harus dari arah tertentu.

Sebagian orang mungkin mengira bahwa masuk Mekkah harus dari arah tertentu. Hadits ini membantah anggapan tersebut, karena Nabi ﷺ masuk dari arah atas, sedangkan pada ibadah haji biasa, jamaah umumnya masuk dari arah bawah (Kuda'). Keduanya sah dan tidak ada larangan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada tahun 8 Hijriyah, Rasulullah ﷺ berangkat dari Madinah menuju Mekkah dengan pasukan besar berjumlah sekitar 10.000 orang untuk menaklukkan Mekkah. Beliau membagi pasukan menjadi beberapa kelompok. Salah satu kelompok dipimpin oleh Khalid bin Walid masuk dari arah bawah (Kuda'), sedangkan Nabi ﷺ sendiri masuk dari arah atas (Kada').

Saat itu, Abu Sufyan telah masuk Islam dan berdiri di sebuah celah gunung menyaksikan pasukan Islam yang sangat besar. Beliau berkata, "Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah. Sungguh, kerajaan Kisra dan Kaisar tidak akan mampu menghadapi pasukan ini." Kemudian Nabi ﷺ masuk dengan penuh ketundukan kepada Allah, kepalanya tertunduk di atas untanya, dan beliau membaca doa yang menunjukkan kerendahan hati. Ini mengajarkan kita bahwa kemenangan terbesar adalah ketika kita tetap tawadhu' di hadapan Allah, bukan sombong dengan kekuatan yang kita miliki.

Kesimpulan Praktis

  1. Boleh masuk ke Mekkah dari arah mana pun, baik dari arah atas maupun bawah, karena Nabi ﷺ masuk dari arah atas dan para sahabat dari arah bawah.
  2. Dianjurkan mengikuti sunnah Nabi ﷺ dengan masuk dari arah atas (Kada') jika memungkinkan, karena ini adalah perbuatan beliau, namun tidak wajib.
  3. Perhatikan detail ibadah dan sirah Nabi ﷺ, karena dalam detail-detail inilah terdapat keberkahan dan kecintaan kepada beliau.
  4. Jadikan peristiwa Fathu Makkah sebagai pelajaran tentang pentingnya tawadhu' dan tidak sombong ketika meraih kemenangan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.