Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan salah satu petunjuk Nabi ﷺ dalam ibadah haji dan umrah, yaitu tentang tata cara masuk dan keluar kota Mekkah. Beliau ﷺ masuk dari arah bukit/pass yang tinggi (tsaniyah 'ulya) dan keluar dari arah yang lebih rendah (tsaniyah sufla). Ini adalah bentuk kesempurnaan sunnah Nabi ﷺ dalam setiap detail ibadah, dan para ulama menjadikannya sebagai dalil untuk mengambil adab serta tuntunan dalam perjalanan ibadah ke Baitullah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan):
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ، قَالَ حَدَّثَنِي مَعْنٌ، قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدْخُلُ مِنَ الثَّنِيَّةِ الْعُلْيَا، وَيَخْرُجُ مِنَ الثَّنِيَّةِ السُّفْلَى.
Terjemahan: Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Rasulullah ﷺ biasa masuk (Mekkah) dari Tsaniyah (jalan di bukit/pass) yang tinggi, dan keluar dari Tsaniyah yang rendah." (HR. Al-Bukhari, no. 1575)
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari jalur Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, dengan lafaz yang semakna.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Haji, Bab Dari Mana Masuk Mekkah, menunjukkan bahwa para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk mengetahui tempat-tempat yang sesuai sunnah dalam perjalanan haji.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud tsaniyah 'ulya adalah jalan di dataran tinggi yang dikenal dengan nama Al-Hajun (dekat pemakaman Ma'la), dan tsaniyah sufla adalah jalan yang lebih rendah yang dikenal dengan nama Kada (dekat jalan menuju Mina). Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama menganjurkan untuk mengikuti jejak Nabi ﷺ dalam hal ini, karena itu adalah syi'ar dan petunjuk beliau.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya masuk Mekkah dari arah tsaniyah 'ulya dan keluar dari tsaniyah sufla, dan beliau menukil perkataan para ulama bahwa hal ini dilakukan karena mengikuti jejak Nabi ﷺ, dan tidak ada larangan jika seseorang masuk dari arah lain, namun yang utama adalah mengikuti sunnah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa tsaniyah adalah jalan yang berada di antara dua gunung atau jalan yang menanjak di bukit. Dalam konteks hadits ini, ada dua jalan menuju Mekkah yang dikenal:
- Tsaniyah 'Ulya (jalan tinggi): Terletak di arah atas kota Mekkah, dekat dengan pemakaman Ma'la (pemakaman penduduk Mekkah). Dari arah inilah Nabi ﷺ masuk ke kota Mekkah.
- Tsaniyah Sufla (jalan rendah): Terletak di arah bawah kota Mekkah, dekat dengan jalan menuju Mina dan Arafah. Dari arah inilah Nabi ﷺ keluar dari Mekkah.
Hikmah dan Faedah Hadits:
- Mengikuti sunnah dalam setiap detail ibadah. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kesempurnaan dalam beribadah, bahkan dalam hal rute perjalanan sekalipun. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik bin Anas dalam Al-Muwaththa', bahwa beliau berkata: "Sunnah itu seperti bahtera Nabi Nuh, siapa yang menaikinya selamat, dan siapa yang meninggalkannya tenggelam." Maka mengikuti jejak Nabi ﷺ dalam hal ini adalah bagian dari kecintaan dan ketaatan.
- Menghidupkan syi'ar Islam. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sengaja memilih jalan yang berbeda antara masuk dan keluar, sebagaimana hal ini juga dilakukan dalam shalat 'Id (masuk dari satu jalan dan keluar dari jalan lain). Hikmahnya antara lain untuk memperbanyak tempat yang menjadi saksi ibadah, menyebarkan syi'ar Islam di berbagai penjuru, dan memudahkan orang banyak agar tidak terjadi kepadatan di satu jalan.
- Adab dalam perjalanan. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Mumti' menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya masuk dari arah yang lebih tinggi dan keluar dari arah yang lebih rendah, namun beliau menegaskan bahwa ini adalah sunnah fi'liyyah (perbuatan Nabi ﷺ), dan jika seseorang masuk dari arah lain, maka tidak mengapa, karena yang terpenting adalah jangan sampai memberatkan diri.
- Perhatian terhadap sejarah dan geografi. Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa para ulama bersungguh-sungguh menjelaskan lokasi kedua tsaniyah ini, agar umat Islam dapat mengikuti jejak Nabi ﷺ dengan tepat. Ini menunjukkan pentingnya mempelajari jejak-jejak sejarah ibadah.
Catatan Penting: Para ulama bersepakat bahwa masuk dari tsaniyah 'ulya dan keluar dari tsaniyah sufla adalah sunnah, bukan kewajiban. Barangsiapa yang masuk dari arah lain, haji dan umrahnya tetap sah. Namun, bagi yang mampu dan tidak memberatkan, mengikuti jejak Nabi ﷺ adalah lebih utama dan lebih sempurna.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas sangat berhati-hati dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ, bahkan dalam hal-hal yang dianggap kecil oleh sebagian orang. Beliau berkata: "Aku tidak meninggalkan sesuatu pun dari sunnah Rasulullah ﷺ kecuali aku telah mengikutinya." Maka ketika beliau berhaji, beliau memperhatikan dengan teliti tempat-tempat yang pernah dilalui Nabi ﷺ, termasuk jalan masuk dan keluar Mekkah, agar ibadahnya meneladani Nabi ﷺ dengan sempurna.
Bahkan diceritakan bahwa Imam Malik pernah ditanya tentang seseorang yang masuk Mekkah dari arah yang berbeda dengan arah Nabi ﷺ, maka beliau menjawab: "Tidak mengapa, namun yang lebih utama adalah mengikuti jejak Nabi ﷺ." Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memperhatikan detail-detail sunnah, namun tetap tidak memberatkan umat.
Hikmah: Kecintaan kepada Nabi ﷺ bukan hanya dalam perkataan, tetapi juga dalam perbuatan, yaitu dengan berusaha meneladani beliau dalam setiap aspek ibadah, sekecil apa pun.
Kesimpulan Praktis
- Disunnahkan bagi jamaah haji atau umrah untuk masuk kota Mekkah dari arah tsaniyah 'ulya (jalan tinggi) dan keluar dari tsaniyah sufla (jalan rendah), sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ.
- Tidak mengapa jika seseorang masuk atau keluar dari arah lain karena kondisi tertentu, karena ini adalah sunnah, bukan kewajiban.
- Yang terpenting adalah menjaga kekhusyukan dan adab dalam beribadah, serta tidak mempersulit diri dalam perkara yang tidak wajib.
- Ambil pelajaran bahwa Islam mengajarkan kesempurnaan dalam beribadah, dan kecintaan kepada Nabi ﷺ dibuktikan dengan mengikuti petunjuk beliau dalam setiap detail kehidupan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.