Penjelasan Hadits Bukhari No. 1555 tentang Talbiyah Nabi Musa saat masuk lembah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Mujahid bin Jabr (seorang tabi'in), ketika beliau berada di majelis Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Ibnu Abbas tidak mengiyakan kabar tentang tulisan "kafir" di antara dua mata Dajjal karena beliau belum mendengarnya langsung dari Nabi ﷺ, namun beliau menguatkan apa yang beliau dengar sendiri dari Nabi ﷺ: gambaran tentang Nabi Musa 'alaihissalam yang sedang turun ke lembah sambil bertalbiyah. Intinya: berhati-hati dalam menisbatkan ucapan kepada Nabi ﷺ, dan keutamaan talbiyah dalam ibadah haji.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini shahih, diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Haji, Bab Talbiyah Jika Masuk ke Dalam Lembah (no. 1555), dari Mujahid bin Jabr dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan talbiyah dan seruan haji kepada Nabi Ibrahim 'alaihissalam:

QS. Al-Hajj [22]: 27

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Terjemahan: "Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh."

Ayat ini menjadi dasar disyariatkannya talbiyah, sebagaimana dijelaskan para ulama tafsir dari kalangan tabi'in seperti Mujahid dan Qatadah, serta diuraikan panjang oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Adab dalam meriwayatkan hadits.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma — seorang sahabat yang dikenal sangat luas ilmunya dan didoakan Nabi ﷺ agar Allah mengajarinya tafsir — menunjukkan sikap ilmiah yang tinggi. Ketika orang-orang membicarakan bahwa Dajjal memiliki tulisan "kafir" di antara kedua matanya, beliau tidak langsung membenarkan atau mengingkari, tetapi berkata: "Aku belum mendengarnya (dari Nabi ﷺ)." Ini menunjukkan kehati-hatian beliau dalam menisbatkan sesuatu kepada Nabi ﷺ. Sikap ini menjadi teladan bagi para perawi hadits setelahnya, sebagaimana diterapkan oleh Imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Zur'ah, dan Abu Hatim ar-Razi dalam menyeleksi riwayat.

Perlu dicatat: hadits tentang tulisan "kafir" di antara dua mata Dajjal memang shahih dan terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat lain seperti Anas bin Malik dan Abu Hurairah. Jadi yang ditekankan di sini bukan penolakan Ibnu Abbas terhadap hadits tersebut, melainkan bahwa beliau sendiri belum mendengarnya secara langsung, sehingga beliau tidak berbicara tanpa ilmu.

Kedua: Gambaran Nabi Musa 'alaihissalam bertalbiyah.

Ibnu Abbas menyebutkan apa yang beliau dengar langsung dari Nabi ﷺ: "Seolah-olah aku melihat Musa turun ke lembah sambil bertalbiyah." Ini menunjukkan:

  • Talbiyah adalah syiar agung dalam ibadah haji, yang telah dilakukan para nabi sejak Nabi Ibrahim 'alaihissalam.
  • Nabi ﷺ menggambarkan dengan sangat hidup (seakan melihat langsung), menunjukkan betapa beliau sangat memperhatikan dan mengagungkan syiar talbiyah.
  • Mujahid bin Jabr — seorang tabi'in murid Ibnu Abbas dan salah satu ulama tafsir terkemuka — meriwayatkan ini dengan amanah, dan Imam Al-Bukhari memasukkannya dalam bab khusus tentang talbiyah ketika masuk lembah.

Ketiga: Kaitan dengan bab.

Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam "Bab Talbiyah Jika Masuk ke Dalam Lembah", menunjukkan bahwa disunnahkan mengeraskan dan memperbanyak talbiyah terutama saat melewati lembah dan tempat-tempat tertentu dalam perjalanan haji. Ini sebagaimana dipahami Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan bab-bab talbiyah.

Keempat: Perbedaan pendapat ulama.

Para ulama dari daftar seperti Ibnu Hajar dan An-Nawawi menjelaskan bahwa talbiyah disyariatkan sejak berihram hingga melempar Jumrah Aqabah. Adapun tentang mengeraskan suara talbiyah bagi laki-laki, ini disepakati sunnahnya berdasarkan hadits-hadits lain. Tidak ada perbedaan berarti di antara ulama daftar dalam masalah ini.

Story Telling

Dikisahkan dalam majelis ilmu Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma — sepupu Nabi ﷺ dan penerjemah Al-Qur'an yang digelari Tarjumanul Qur'an — berkumpullah para penuntut ilmu, di antaranya Mujahid bin Jabr, seorang pemuda tabi'in yang tekun. Suatu hari, orang-orang ramai membicarakan Dajjal dan tanda-tandanya. Mereka menyebut bahwa di antara kedua mata Dajjal tertulis "kafir". Semua mata tertuju kepada Ibnu Abbas, menanti komentarnya.

Dengan tenang dan penuh adab, Ibnu Abbas berkata, "Aku belum mendengarnya dari Nabi ﷺ." Beliau tidak menolak, tidak pula membenarkan tanpa ilmu. Kemudian beliau mengalihkan pembicaraan kepada sesuatu yang beliau yakini benar-benar beliau dengar dari Nabi ﷺ: gambaran indah tentang Nabi Musa 'alaihissalam yang sedang menuruni lembah sambil mengumandangkan talbiyah.

Mujahid — yang kelak menjadi salah satu imam tafsir terbesar — meriwayatkan kisah ini dengan penuh amanah, hingga sampai kepada Imam Al-Bukhari, yang mencatatnya dalam kitab shahihnya. Hikmahnya: seorang penuntut ilmu harus jujur mengatakan "aku belum tahu" jika memang belum tahu, dan hendaknya berbicara tentang apa yang benar-benar ia kuasai.

Kesimpulan Praktis

  1. Jujur dalam ilmu: Jika belum mengetahui suatu riwayat dari Nabi ﷺ, katakan dengan jujur "aku belum mendengarnya", sebagaimana teladan Ibnu Abbas.
  2. Mengagungkan talbiyah: Perbanyak dan keraskan talbiyah saat berhaji, terutama ketika melewati lembah dan tempat-tempat tertentu, mengikuti sunnah para nabi.
  3. Meneladani para nabi: Nabi Musa 'alaihissalam bertalbiyah, demikian pula Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ﷺ — menunjukkan kesinambungan syiar tauhid dalam ibadah haji.
  4. Berhati-hati dalam menyebarkan berita: Terutama yang berkaitan dengan perkara gaib seperti Dajjal, rujuklah kepada hadits shahih dan penjelasan ulama terpercaya.
  5. Menghormati majelis ilmu: Sebagaimana Mujahid belajar dari Ibnu Abbas, hendaknya kita belajar dari ulama yang terpercaya dan berpegang pada pemahaman salaf.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?