Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar haji yang mabrur. Barangsiapa berhaji dengan niat ikhlas karena Allah, lalu selama berhaji ia menjaga diri dari ucapan dan perbuatan yang buruk serta dosa, maka ia akan kembali dari haji dalam keadaan bersih dari dosa, seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. Ini menunjukkan betapa agungnya ibadah haji yang diterima Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Haji, Bab Keutamaan Haji yang Mabrur, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا سَيَّارٌ أَبُو الْحَكَمِ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا حَازِمٍ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ " مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ ".
Terjemahan: Dari Abu Hurairah, ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa berhaji karena Allah, lalu ia tidak melakukan rafats (ucapan/perbuatan kotor) dan tidak berbuat fasik (dosa), maka ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 197:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Terjemahan: "Haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan haji pada bulan-bulan itu, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam haji. Dan apa saja kebajikan yang kamu kerjakan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan syarat dan buah dari haji yang mabrur. Kata "mabrur" berasal dari kata birr yang berarti kebaikan dan ketaatan. Haji mabrur adalah haji yang diterima Allah, ditunaikan dengan ikhlas, mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, serta tidak dicampuri dosa.
Para ulama yang tercantum dalam daftar memberikan penjelasan sebagai berikut:
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "rafats" adalah segala ucapan atau perbuatan yang mengarah pada hubungan seksual, termasuk ucapan kotor dan syahwat. Sedangkan "fusuuq" adalah keluar dari ketaatan kepada Allah, yaitu segala macam dosa. Beliau menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa haji yang bersih dari dosa-dosa tersebut akan menghapus dosa-dosa sebelumnya.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ungkapan "seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya" adalah kinayah (kiasan) dari keadaan bersih dari dosa. Beliau juga mengutip pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan lainnya bahwa haji mabrur tidak memiliki balasan selain surga, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain yang shahih.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat di atas bahwa Allah melarang rafats, fusuuq, dan jidal (berbantah-bantahan) selama haji. Larangan ini menunjukkan bahwa haji adalah madrasah untuk melatih diri dari hawa nafsu dan dosa.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir Karim ar-Rahman menegaskan bahwa haji yang mabrur adalah haji yang memenuhi tiga syarat: ikhlas karena Allah, mengikuti sunnah Nabi ﷺ, dan meninggalkan larangan-larangan selama ihram. Buahnya adalah ampunan dosa secara menyeluruh.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mencakup dua hal: pertama, niat yang benar (hajj lillah), kedua, amal yang bersih dari rafats dan fusuuq. Jika keduanya terpenuhi, maka dosa-dosa yang telah lalu diampuni, dan ia kembali seperti bayi yang baru lahir dalam hal kebersihan dari dosa, bukan dalam hal sifat kekanak-kanakan.
Perlu dicatat, para ulama sepakat bahwa yang dimaksud "kembali seperti hari dilahirkan" adalah dalam hal bebas dari dosa, bukan berarti ia kehilangan pahala atau kembali bodoh. Ini adalah keutamaan besar yang hanya diberikan kepada haji yang mabrur.
Story Telling
Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri (seorang tabi'in yang masyhur) bahwa ia berkata tentang haji mabrur: "Haji mabrur adalah haji yang tidak diikuti dengan perbuatan dosa setelahnya." Beliau juga menyebutkan bahwa tanda haji mabrur adalah seseorang menjadi lebih baik setelah haji, lebih menjaga shalat, lebih jujur, dan lebih menjauhi larangan Allah.
Dalam sebuah riwayat dari Fudail bin 'Iyadh, beliau mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak diiringi dengan riya' dan sum'ah (ingin dipuji manusia), serta tidak ada niat untuk berbangga diri. Beliau menekankan bahwa banyak orang berhaji, tetapi hanya sedikit yang hajinya mabrur.
Hikmahnya: Haji bukan sekadar ritual, tetapi transformasi spiritual yang harus membekas dalam kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan haji hanya untuk Allah, bukan untuk pamer atau mencari gelar.
- Jaga lisan dan perbuatan selama haji dari rafats (ucapan kotor), fusuuq (dosa), dan jidal (pertengkaran).
- Setelah haji, pertahankan amal saleh dan tinggalkan kebiasaan buruk, karena tanda haji mabrur adalah perubahan ke arah yang lebih baik.
- Perbanyak doa agar haji kita diterima dan menjadi mabrur, karena balasannya adalah surga.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.