Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa amal yang paling utama adalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian jihad di jalan Allah, kemudian haji yang mabrur. Urutan ini bukan berarti amal lain tidak penting, tetapi menunjukkan tingkatan keutamaan di antara amal-amal besar. Haji mabrur adalah haji yang diterima Allah, yang tanda-tandanya adalah semakin bertambahnya ketaatan dan ketakwaan setelah haji.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Haji, Bab Keutamaan Haji yang Mabrur, nomor 1519, dari jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) dari Sa'id bin al-Musayyib dari Abu Hurairah رضي الله عنه.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ " إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ". قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ " جِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ". قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ " حَجٌّ مَبْرُورٌ ".
Terjemahan: Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Nabi ﷺ ditanya, "Amal apakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya." Ditanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." Ditanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Haji yang mabrur."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan iman dan amal:
QS. Al-Baqarah [2]: 177
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ
Terjemahan: "Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu adalah iman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab, dan para nabi."
Ayat ini menunjukkan bahwa pokok segala kebaikan adalah iman yang benar kepada Allah, sejalan dengan urutan dalam hadits di atas.
Penjelasan Rinci
Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam Kitab Haji, bab keutamaan haji mabrur, karena hadits ini menyebut haji mabrur sebagai salah satu amal paling utama setelah iman dan jihad.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa pertanyaan "amal apakah yang paling utama" dijawab Nabi ﷺ dengan urutan yang berbeda-beda sesuai keadaan penanya. Kadang beliau menyebut shalat pada waktunya, kadang berbakti kepada orang tua, kadang jihad, kadang iman. Ini menunjukkan bahwa keutamaan amal bisa berbeda tergantung situasi dan kondisi seseorang. Namun dalam hadits ini, urutannya adalah iman, jihad, lalu haji mabrur.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah pokok segala amal. Tanpa iman, amal tidak diterima. Karena itu iman menempati urutan pertama. Jihad di jalan Allah menempati urutan kedua karena mengandung pengorbanan jiwa dan harta untuk menegakkan kalimat Allah. Haji mabrur menempati urutan ketiga karena mengandung pengorbanan harta, waktu, dan fisik, serta merupakan ibadah yang menggabungkan antara harta dan badan.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa haji mabrur memiliki tanda-tanda, di antaranya: tidak ada riya' di dalamnya, tidak ada kefasikan, dan setelah haji seseorang menjadi lebih taat kepada Allah. Sebagian salaf berkata, "Tanda haji mabrur adalah seseorang kembali dari haji dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya."
Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa iman yang dimaksud adalah iman yang benar dan sempurna, yang melahirkan amal saleh. Iman bukan sekadar ucapan, tetapi keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal perbuatan.
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan amal secara berurutan. Iman adalah yang paling utama karena ia adalah asas. Jihad setelahnya karena mengandung pengorbanan besar. Haji mabrur setelahnya karena merupakan ibadah yang membutuhkan harta dan tenaga, serta memiliki keutamaan besar bagi yang melaksanakannya dengan ikhlas.
Imam An-Nawawi juga menjelaskan bahwa "haji mabrur" adalah haji yang diterima Allah, yang tidak dicampuri dosa, riya', atau perbuatan yang merusak. Sebagian ulama menjelaskan bahwa mabrur berasal dari kata "birr" yang berarti kebaikan dan ketaatan. Jadi haji mabrur adalah haji yang menghasilkan kebaikan dan ketaatan.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar dan An-Nawawi menjelaskan bahwa urutan keutamaan amal bisa berbeda tergantung konteks. Namun mereka sepakat bahwa iman adalah yang paling utama secara mutlak. Adapun jihad dan haji, keutamaannya bisa berbeda tergantung keadaan. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa urutan dalam hadits ini menunjukkan keutamaan secara umum, dan iman tetap yang paling utama.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Sa'id bin al-Musayyib (seorang tabi'in besar) pernah ditanya tentang haji mabrur. Beliau menjawab, "Haji mabrur adalah haji yang tidak diiringi dengan perbuatan dosa setelahnya." Beliau juga berkata, "Barangsiapa yang berhaji lalu tidak berbuat dosa setelah haji, maka itu adalah tanda haji mabrur."
Al-Hasan al-Bashri pernah berkata, "Haji mabrur adalah haji yang membuat seseorang semakin zuhud terhadap dunia dan semakin rindu kepada akhirat."
Fudail bin 'Iyadh berkata, "Haji mabrur adalah haji yang tidak ada riya' di dalamnya, dan setelah haji seseorang menjadi lebih baik dalam ibadahnya."
Kisah ini menunjukkan bahwa haji mabrur bukan hanya tentang sahnya ibadah haji, tetapi juga tentang dampak setelah haji. (Sumber: Fathul Bari karya Ibnu Hajar, Syarh Shahih Muslim karya An-Nawawi)
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah amal paling utama. Maka jagalah iman dengan belajar tauhid, menjauhi syirik, dan mengamalkan sunnah Nabi ﷺ.
- Jihad di jalan Allah memiliki keutamaan besar. Jihad tidak selalu berarti perang, tetapi juga berjuang melawan hawa nafsu, menegakkan kebenaran, dan berdakwah dengan cara yang benar.
- Haji mabrur adalah haji yang diterima Allah. Tandanya adalah semakin bertambahnya ketaatan setelah haji, bukan sebaliknya.
- Urutan keutamaan amal mengajarkan kita untuk memprioritaskan yang paling utama. Mulailah dari iman, lalu amal saleh, lalu ibadah-ibadah besar seperti haji.
- Jangan meremehkan amal kecil. Meskipun hadits ini menyebut amal besar, amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas juga bernilai di sisi Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.