Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menunaikan haji dengan kendaraan yang sederhana, yang sekaligus dipakai untuk membawa bekal dan barang-barang beliau. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meneladani kesederhanaan itu dan tidak bersikap pelit dalam berhaji. Pelajarannya: haji yang utama bukan soal mewahnya kendaraan, melainkan ketundukan hati kepada Allah dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Haji, Bab Haji Dengan Kendaraan, no. 1517, dari jalur Tsamamah bin Abdullah bin Anas, dari kakeknya Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، حَدَّثَنَا عَزْرَةُ بْنُ ثَابِتٍ، عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ، قَالَ حَجَّ أَنَسٌ عَلَى رَحْلٍ، وَلَمْ يَكُنْ شَحِيحًا، وَحَدَّثَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ حَجَّ عَلَى رَحْلٍ وَكَانَتْ زَامِلَتَهُ
Terjemah ringkas: Tsamamah bin Abdullah bin Anas berkata: "Anas berhaji dengan kendaraan (yang sederhana), dan ia bukan orang yang pelit. Ia menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ berhaji dengan kendaraan, dan kendaraan itu adalah zamilah-nya (kendaraan yang membawa bekal/barang)."
Ayat yang relevan tentang kesederhanaan dan tidak berlebihan:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
QS. Al-A'raf [7]: 31
Terjemah ringkas: "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan bersikap sederhana dalam berhaji dan tidak membebani diri dengan kemewahan yang tidak diperlukan. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan bahwa kesederhanaan dalam safar haji termasuk sunnah dan tanda keikhlasan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama: Kesederhanaan Nabi ﷺ dalam beribadah. Nabi ﷺ berhaji dengan rahlim (kendaraan/tunggangan) dan zamilah, yaitu kendaraan yang juga membawa bekal serta barang-barang beliau. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak memisahkan antara kendaraan pribadi dan kendaraan barang, sebagaimana kebiasaan orang-orang yang bermewah-mewah. Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah bentuk tawadhu' (kerendahan hati) dan zuhud (tidak berlebihan terhadap dunia) meskipun beliau adalah pemimpin umat.
Kedua: Anas bin Malik meneladani sunnah ini. Tsamamah menceritakan bahwa kakeknya, Anas bin Malik, juga berhaji dengan kendaraan sederhana, padahal ia bukan orang pelit. Artinya, kesederhanaan itu bukan karena kekurangan harta, tetapi karena meneladani Nabi ﷺ. Ini sebagaimana dijelaskan Imam An-Nawawi bahwa seorang muslim hendaknya mencontoh Nabi ﷺ dalam ibadah, bukan sekadar mengikuti kebiasaan orang banyak.
Ketiga: Haji bukan ajang pamer. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif mengingatkan bahwa ibadah haji adalah perjalanan menuju Allah, sehingga yang paling penting adalah kekhusyukan, bukan kemewahan fasilitas. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya juga menekankan bahwa sikap berlebihan dalam hal dunia dapat mengikis keikhlasan.
Keempat: Tidak ada pertentangan dengan bolehnya menggunakan fasilitas nyaman. Para ulama seperti Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahuyah menyatakan bahwa menggunakan kendaraan yang nyaman saat haji hukumnya boleh, selama tidak menjadi tujuan utama atau sarana berbangga diri. Yang dicela adalah sikap israf (berlebihan) dan riya (pamer), bukan sekadar kenyamanan.
Story Telling
Diceritakan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, pelayan Nabi ﷺ yang mulia, suatu ketika berhaji dengan kendaraan yang sederhana. Orang-orang yang melihatnya mungkin menyangka ia sedang kekurangan, padahal ia dikenal dermawan dan tidak pelit. Ketika ditanya, ia pun menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ dahulu berhaji dengan kendaraan yang sama juga dipakai untuk membawa barang-barang beliau. Anas ingin hidup dan beribadah sebagaimana Nabi ﷺ hidup dan beribadah. Inilah teladan salaf: mereka menimbang amal dengan sunnah, bukan dengan selera manusia. (Disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya.)
Kesimpulan Praktis
- Berhajilah dengan niat ikhlas kepada Allah, bukan untuk pamer atau mencari pujian.
- Sederhana dalam fasilitas haji adalah sunnah yang patut diteladani, selama tidak mengorbankan kualitas ibadah.
- Kenyamanan boleh, tetapi jangan sampai menjadi tujuan utama atau sarana berbangga diri.
- Teladani Nabi ﷺ dan para sahabat dalam beribadah, bukan sekadar mengikuti kebiasaan orang banyak.
- Ingatlah bahwa nilai ibadah terletak pada ketakwaan, bukan pada kemewahan sarana.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.