Penjelasan Hadits Bukhari No. 151 tentang Anak membawa air untuk Nabi saat bersuci

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu dan seorang anak dari kaumnya biasa mengikuti Rasulullah ﷺ ketika beliau keluar untuk buang hajat, sambil membawa wadah air (idawah) untuk bersuci. Hadits ini menjadi dalil disyariatkannya menyiapkan air dan membantu orang yang hendak beristinja', serta menunjukkan adab dan khidmah (pelayanan) para sahabat kepada Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Wudhu', Bab "Man Hamala Ma'a al-Ma' li al-Wudhu'" (Bab siapa yang membawa air untuk bersuci), no. 151, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي مُعَاذٍ ـ هُوَ عَطَاءُ بْنُ أَبِي مَيْمُونَةَ ـ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا، يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا خَرَجَ لِحَاجَتِهِ تَبِعْتُهُ أَنَا وَغُلاَمٌ مِنَّا مَعَنَا إِدَاوَةٌ مِنْ مَاءٍ

Terjemahan: "Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Abu Mu'adz — dia adalah 'Atha' bin Abu Maimunah — ia berkata: Saya mendengar Anas berkata: 'Ketika Rasulullah ﷺ keluar untuk keperluannya, saya bersama seorang anak laki-laki dari kami mengikuti beliau dengan membawa sebuah wadah berisi air.'"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan bersuci:

QS. Al-Ma'idah [5]: 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki."

Ayat ini menjadi dasar umum perintah bersuci, yang dalam praktiknya Nabi ﷺ menyiapkan air untuk keperluan tersebut.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa faedah penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Anjuran menyiapkan air untuk bersuci. Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam bab tentang membawa air untuk wudhu/bersuci, menunjukkan bahwa menyiapkan air bagi orang yang hendak bersuci adalah perkara yang disyariatkan dan memiliki keutamaan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seseorang membantu orang lain dengan membawakan air untuk bersuci, dan ini termasuk bentuk ta'awun (tolong-menolong) dalam kebaikan.

Kedua: Istinja' (bersuci setelah buang hajat) dilakukan dengan air. Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menggunakan air untuk bersuci setelah buang hajat. Ini menjadi dalil yang kuat bahwa beristinja' dengan air adalah yang lebih utama, sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Al-Muhadzdzab. Meskipun para ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i membolehkan beristinja' dengan batu (istijmar) selama memenuhi syarat, namun menggunakan air lebih sempurna karena lebih membersihkan.

Ketiga: Khidmah para sahabat kepada Nabi ﷺ. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — yang merupakan pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun — bersama seorang anak dari kaumnya berinisiatif mengikuti Nabi ﷺ untuk melayani beliau. Ini menunjukkan adab dan kecintaan para sahabat kepada Rasulullah ﷺ. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang berkhidmah kepada orang yang lebih mulia dan membantu keperluan orang shalih.

Keempat: Tidak mengikuti Nabi ﷺ terlalu dekat saat buang hajat. Para ulama menjelaskan bahwa Anas dan anak itu mengikuti dari belakang, tidak terlalu dekat, karena menjaga adab ketika Nabi ﷺ sedang buang hajat. Ini sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain yang menyebutkan bahwa mereka berdua berada di belakang Nabi ﷺ.

Kelima: Bolehnya seorang anak kecil ikut serta dalam urusan pelayanan. Dalam hadits ini disebutkan "ghulam minna" (seorang anak laki-laki dari kami), menunjukkan bahwa anak-anak pun dilatih untuk berkhidmah dan terlibat dalam kebaikan sejak dini. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menekankan pentingnya melatih anak-anak dalam kebaikan dan adab sejak kecil.

Keenam: Istinja' dilakukan di tempat yang jauh dari pandangan orang. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ keluar dari pemukiman untuk buang hajat, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat-riwayat lain. Ini menjadi dasar disunnahkannya menjauh dan menutup diri ketika buang hajat.

Story Telling

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling lama berkhidmah kepada Rasulullah ﷺ. Ibunya, Ummu Sulaim, menyerahkan Anas kepada Nabi ﷺ untuk melayani beliau sejak usia sepuluh tahun. Anas sendiri berkata: "Aku melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun, dan beliau tidak pernah mengatakan 'ah' kepadaku, tidak pernah mengatakan 'kenapa kamu lakukan ini?' atau 'kenapa kamu tidak lakukan ini?'" (diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits ini, Anas menceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ keluar untuk buang hajat, ia dan seorang anak dari kaumnya mengikuti beliau dengan membawa wadah air. Ini menunjukkan bahwa pelayanan kepada Nabi ﷺ bukanlah beban, melainkan kehormatan. Anas kecil telah dilatih untuk memperhatikan kebutuhan Nabi ﷺ, bahkan dalam perkara yang paling pribadi sekalipun. Para ulama seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi menjadikan kisah ini sebagai contoh betapa para sahabat — termasuk anak-anak — memiliki kesadaran tinggi untuk berkhidmah dan membantu orang yang mulia.

Kesimpulan Praktis

  1. Disunnahkan menyiapkan air untuk bersuci sebelum buang hajat, dan membantu orang lain dalam hal ini adalah kebaikan.
  2. Beristinja' dengan air adalah cara yang paling utama dan lebih bersih, meskipun istijmar (dengan batu) juga dibolehkan dengan syarat.
  3. Hendaknya kita meneladani adab para sahabat dalam berkhidmah kepada orang shalih dan membantu keperluan mereka.
  4. Melatih anak-anak untuk terlibat dalam kebaikan dan pelayanan sejak dini adalah sunnah yang baik.
  5. Menjaga adab ketika seseorang sedang buang hajat, tidak mendekat atau melihat, adalah bagian dari akhlak Islam.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?