Penjelasan Hadits Bukhari No. 1477 tentang Tiga hal yang dibenci Allah: omong kosong, boros, banyak bertanya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi tiga perkara yang Allah benci untuk kita lakukan: (1) banyak bicara yang sia-sia dan menyebarkan kabar burung (qila wa qal), (2) menyia-nyiakan harta, dan (3) banyak bertanya yang tidak bermanfaat atau banyak meminta kepada manusia. Hadits ini mengajarkan kita untuk menjaga lisan, menjaga harta, dan menjaga sikap qana'ah (merasa cukup) serta tidak banyak menuntut.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Az-Zakat, Bab "Perkataan Allah Ta'ala: Mereka tidak meminta kepada manusia dengan mendesak..." (no. 1477), dari sahabat Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Aqdhiyah, no. 1715.

Dalil Al-Qur'an yang relevan dengan larangan banyak bertanya yang tidak bermanfaat:

QS. Al-Ma'idah [5]: 101

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang jika diterangkan kepadamu justru akan menyusahkanmu."

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun ketika para sahabat banyak bertanya tentang hal-hal yang belum diwajibkan, lalu Allah menegur mereka agar tidak bertanya yang memberatkan.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan tiga perkara yang disebut dalam hadits ini secara rinci:

1. Qila wa Qal (Banyak Bicara Sia-sia dan Menyebarkan Kabar)

Yang dimaksud qila wa qal adalah banyak membicarakan perkataan orang lain, menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, atau memperbincangkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa qila wa qal termasuk perbuatan tercela karena di dalamnya terdapat ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dan membuang waktu dengan hal yang tidak berguna.

Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menukil perkataan Al-Khaththabi bahwa qila wa qal adalah memperbanyak pembicaraan tentang orang lain, baik dengan menyebarkan berita yang belum pasti maupun menggunjing.

2. Idha'atul Mal (Menyia-nyiakan Harta)

Yang dimaksud adalah membelanjakan harta pada hal-hal yang tidak bermanfaat, berlebihan dalam pengeluaran, atau merusak harta tanpa faedah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa menyia-nyiakan harta termasuk perbuatan yang diharamkan karena harta adalah titipan Allah yang harus dijaga dan digunakan untuk ketaatan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa idha'atul mal mencakup:

  • Membelanjakan harta untuk maksiat
  • Berlebihan dalam hal yang mubah
  • Membiarkan harta rusak tanpa dimanfaatkan

3. Katsratul Su'al (Banyak Bertanya atau Banyak Meminta)

Para ulama membagi makna ini menjadi dua:

Pertama: Banyak bertanya tentang masalah agama yang tidak terjadi atau yang memberatkan. Ini sebagaimana teguran Allah dalam QS. Al-Ma'idah: 101. Imam Asy-Syafi'i rahimahullah menjelaskan bahwa bertanya tentang hal-hal yang belum terjadi dan tidak bermanfaat adalah perbuatan tercela.

Kedua: Banyak meminta kepada manusia. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa meminta-minta kepada manusia tanpa kebutuhan yang mendesak adalah perbuatan yang dibenci, karena hal itu menunjukkan hilangnya rasa tawadhu' dan kehormatan diri.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ash-Shahihah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan meminta kepada manusia kecuali dalam keadaan darurat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu pernah bersumpah untuk tidak memberi bantuan kepada kerabatnya yang terlibat dalam fitnah haditsul ifki (berita bohong tentang Aisyah). Namun Allah menurunkan ayat:

QS. An-Nur [24]: 22

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ

"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabatnya..."

Maka Abu Bakar pun kembali memberi bantuan. Kisah ini menunjukkan bahwa memberi kepada orang yang membutuhkan adalah perbuatan mulia, namun meminta-minta tanpa kebutuhan adalah tercela. Islam mengajarkan keseimbangan: tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga lisan dari banyak bicara yang tidak bermanfaat, ghibah, dan menyebarkan kabar yang belum jelas.
  2. Jaga harta dengan membelanjakannya pada hal yang bermanfaat dan tidak berlebihan.
  3. Kurangi bertanya tentang hal-hal yang tidak perlu dalam agama, dan jangan banyak meminta kepada manusia kecuali dalam keadaan darurat.
  4. Perbanyak rasa qana'ah (merasa cukup) dan tawakal kepada Allah.
  5. Bertanyalah tentang ilmu yang bermanfaat kepada ulama yang benar, namun jangan memperbanyak pertanyaan yang memberatkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?