Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang hakikat orang miskin yang sebenarnya. Bukan sekadar orang yang terlihat meminta-minta, tetapi orang yang benar-benar tidak punya kecukupan, namun karena rasa malunya, ia tidak meminta-minta kepada orang lain. Hadits ini juga mengajarkan agar kita peka terhadap kebutuhan orang-orang di sekitar kita yang mungkin tidak terlihat, serta menjaga harga diri dalam meminta.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sertakan) adalah:
<p>حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ " لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِي تَرُدُّهُ الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِي لَيْسَ لَهُ غِنًى وَيَسْتَحْيِي أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا ".</p>
Terjemahan: "Bukanlah orang miskin yang ditolak dengan satu atau dua suapan, tetapi orang miskin adalah yang tidak memiliki kekayaan dan merasa malu untuk meminta kepada orang lain."
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 273:
لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
" (Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terikat (berjuang) di jalan Allah; mereka tidak mampu (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta kepada orang lain dengan mendesak. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentang hal itu."
Ayat ini sangat erat kaitannya dengan hadits di atas. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun tentang para sahabat yang tinggal di shuffah (serambi Masjid Nabawi), mereka adalah orang-orang fakir yang tidak memiliki harta, namun mereka menjaga diri dari meminta-minta.
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab syarah hadits, di antaranya:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari).
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (karena hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim).
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memberikan definisi yang sangat penting tentang siapa yang disebut "miskin" dalam pandangan syariat, khususnya terkait dengan penerima zakat.
1. Makna "الأُكْلَةُ وَالأُكْلَتَانِ" (satu atau dua suapan)
Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "satu atau dua suapan" adalah orang yang datang meminta-minta, lalu ia diberi satu atau dua suap makanan, atau satu atau dua kali makan, sehingga ia bisa kenyang untuk sementara waktu. Orang seperti ini, menurut Nabi ﷺ, bukanlah orang miskin yang perlu diprioritaskan, karena ia masih bisa meminta dan mendapatkan sesuatu.
2. Makna "لَيْسَ لَهُ غِنًى" (tidak memiliki kekayaan)
Maksudnya adalah orang yang tidak memiliki harta yang mencukupi kebutuhan pokoknya, baik untuk dirinya maupun keluarganya. Ia tidak punya simpanan yang bisa menutupi kebutuhannya.
3. Makna "وَيَسْتَحْيِي أَوْ لاَ يَسْأَلُ النَّاسَ إِلْحَافًا" (merasa malu atau tidak meminta dengan mendesak)
Inilah inti dari hadits ini. Orang miskin yang sebenarnya adalah mereka yang keadaannya tidak diketahui orang lain karena ia menjaga diri (ta'affuf) dan malu untuk meminta-minta. Ia tidak meminta dengan cara yang mendesak dan memaksa.
Penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani:
Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang menjaga diri dari meminta-minta. Orang seperti ini lebih berhak menerima zakat daripada orang yang terang-terangan meminta, karena kebutuhan orang yang menjaga diri itu lebih besar dan lebih tersembunyi.
Penjelasan Imam An-Nawawi:
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa orang yang paling berhak menerima zakat adalah orang yang menjaga kehormatannya dan tidak meminta-minta, meskipun sebenarnya ia sangat membutuhkan.
Pelajaran Penting dari Hadits:
- Keutamaan Menjaga Harga Diri (Ta'affuf): Hadits ini memuji sikap menjaga diri dari meminta-minta. Ini adalah akhlak mulia yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.
- Kepekaan Sosial: Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak hanya melihat orang yang meminta, tetapi juga mencari tahu dan memperhatikan orang-orang di sekitar kita yang mungkin membutuhkan namun tidak menampakkannya.
- Larangan Meminta-minta: Hadits ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa meminta-minta adalah perbuatan yang tidak terpuji, kecuali dalam keadaan darurat yang sangat mendesak.
- Prioritas Penerima Zakat: Orang yang menjaga diri dan tidak meminta lebih berhak menerima zakat daripada orang yang meminta-minta, karena kebutuhan mereka lebih tersembunyi dan lebih besar.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang termasuk Ahlus Shuffah. Mereka adalah para sahabat fakir yang tinggal di serambi Masjid Nabawi. Mereka tidak memiliki harta dan rumah, namun mereka tidak pernah meminta-minta kepada orang lain. Mereka menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu dari Nabi ﷺ.
Tentang mereka dan orang-orang seperti mereka, Allah menurunkan firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 273 yang telah disebutkan di atas. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan keadaan mereka. Mereka adalah contoh nyata dari "miskin" yang disebutkan dalam hadits ini: tidak punya harta, namun menjaga diri dan tidak meminta-minta.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari banyaknya harta, tetapi dari kehormatan diri dan ketakwaannya. Orang yang menjaga diri dari meminta-minta, Allah akan menjaganya dan memberikan kecukupan.
Kesimpulan Praktis
- Jangan tergesa-gesa menilai orang miskin hanya dari penampilan atau kebiasaannya meminta. Bisa jadi orang yang tidak pernah meminta justru lebih membutuhkan.
- Perbanyak sedekah dan zakat kepada orang-orang yang membutuhkan, terutama yang menjaga diri (tidak meminta-minta). Carilah mereka atau salurkan melalui lembaga terpercaya yang mengetahui kondisi mustahik.
- Jaga harga diri dengan tidak meminta-minta kepada manusia. Jika kita dalam kesulitan, bersabarlah dan berusahalah, serta perbanyak doa kepada Allah. Meminta hanya boleh dalam keadaan darurat yang dibenarkan syariat.
- Latih diri untuk merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, karena kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.