Penjelasan Hadits Bukhari No. 1470 tentang Keutamaan bekerja keras daripada meminta-minta

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah pelajaran agung dari Nabi ﷺ tentang kemuliaan bekerja dan menjaga kehormatan diri dari meminta-minta. Beliau bersumpah dengan nama Allah untuk menegaskan bahwa bekerja kasar seperti memotong kayu bakar dan menjualnya, meskipun terlihat hina, jauh lebih baik dan lebih mulia daripada meminta-minta kepada orang lain, baik orang itu memberi atau menolak. Ini adalah dorongan untuk mandiri dan tidak menjadi beban bagi orang lain.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Az-Zakat, Bab "Menjauhkan Diri dari Meminta-minta", nomor 1470. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Az-Zakat, Bab "Kebencian Terhadap Meminta-minta", nomor 1042.

Teks Hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَحْتَطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَأْتِيَ رَجُلًا، فَيَسْأَلَهُ، أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ".

Terjemahan: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh salah seorang dari kalian mengambil talinya lalu memotong kayu bakar dan membawanya di atas punggungnya, itu lebih baik baginya daripada ia mendatangi seseorang lalu meminta kepadanya, baik orang itu memberinya atau menolaknya."

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. At-Talaq [65]: 7:

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

"Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan barang siapa yang disempitkan rezekinya, maka hendaklah ia memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan."

Ayat ini menunjukkan bahwa setiap orang diperintahkan untuk berusaha sesuai kemampuannya, dan Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Keutamaan Bekerja dan Mencari Nafkah Halal

Hadits ini adalah dalil yang sangat kuat tentang keutamaan bekerja dan mencari nafkah dengan tangannya sendiri. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besar dorongan Nabi ﷺ untuk bekerja, bahkan pekerjaan yang dianggap berat dan kasar sekalipun, lebih baik daripada meminta-minta kepada manusia. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini adalah salah satu dalil bahwa mencari nafkah halal adalah perbuatan yang mulia.

2. Larangan Meminta-minta Tanpa Kebutuhan

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan tercelanya meminta-minta kepada manusia tanpa adanya kebutuhan yang mendesak. Meminta-minta itu akan menjatuhkan harga diri dan kehormatan seseorang. Beliau menegaskan bahwa orang yang meminta-minta tanpa kebutuhan yang benar, maka ia seperti memakan bara api.

3. Sumpah Nabi ﷺ untuk Menegaskan Perkara Ini

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ bersumpah dengan nama Allah untuk menegaskan perkara ini, menunjukkan betapa pentingnya masalah ini dan betapa besar perhatian beliau terhadap kemuliaan dan kehormatan seorang muslim. Ini juga menunjukkan bahwa larangan meminta-minta adalah perkara yang sangat ditekankan.

4. Makna "A'thahu au mana'ahu" (memberi atau menolak)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menjelaskan bahwa frasa ini menunjukkan bahwa meminta-minta itu tetap tercela, baik orang yang dimintai memberi maupun menolak. Jika memberi, maka ia telah membebani orang lain dan menghinakan dirinya. Jika menolak, maka ia mendapat kehinaan karena ditolak. Jadi, dalam kedua keadaan tersebut, meminta-minta tetap membawa mudarat bagi peminta.

5. Kisah Umar bin Khattab dan Prinsip Tidak Meminta-minta

Meskipun kisah ini tidak secara langsung dalam hadits ini, namun para ulama sering menyebutkan bahwa para sahabat sangat menjaga diri dari meminta-minta. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah memberikan harta kepada seseorang, lalu orang tersebut meminta tambahan. Umar pun mencambuknya sambil berkata, "Sungguh, Allah memberi kepada seseorang, maka hendaklah ia menerima apa yang Allah berikan kepadanya." Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat tegas dalam menjaga kehormatan diri dari meminta-minta.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barangsiapa yang meminta-minta kepada manusia untuk memperbanyak hartanya, maka sesungguhnya ia meminta bara api. Maka silakan ia sedikitkan atau perbanyak." (HR. Muslim)

Kisah lain yang sangat terkenal adalah kisah seorang sahabat dari kalangan Anshar yang datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta-minta. Beliau bertanya, "Apakah engkau memiliki sesuatu di rumahmu?" Ia menjawab, "Ya, saya memiliki kain yang sebagian saya pakai dan sebagian lagi saya hamparkan, serta sebuah wadah untuk minum." Rasulullah ﷺ bersabda, "Bawalah keduanya kepadaku." Maka orang itu membawanya. Rasulullah ﷺ lalu melelang kedua barang itu di hadapan para sahabat dan berkata, "Siapa yang mau membeli kedua barang ini?" Seorang sahabat berkata, "Saya beli dengan satu dirham." Beliau bertanya lagi, "Siapa yang berani lebih?" Hingga akhirnya kedua barang itu terjual dengan harga dua dirham. Beliau memberikan uang itu kepada orang tersebut dan bersabda, "Pergilah, belilah kapak dengan salah satu dirham ini, dan belilah makanan untuk keluargamu dengan dirham yang lain. Lalu pergilah, potonglah kayu, dan janganlah engkau menemuiku selama lima belas hari." Orang itu pun pergi, memotong kayu, menjualnya, dan kemudian datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan telah memiliki penghasilan. Maka Nabi ﷺ bersabda, "Ini lebih baik bagimu daripada engkau datang pada hari kiamat dalam keadaan meminta-minta, dan bekas meminta-minta itu ada di wajahmu." (HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Kisah ini menunjukkan bagaimana Nabi ﷺ mengajarkan kemandirian dan tidak meminta-minta, bahkan beliau memberikan solusi praktis untuk memulai usaha.

Kesimpulan Praktis

  1. Bekerja adalah ibadah - Mencari nafkah halal dengan tangannya sendiri adalah perbuatan mulia yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.
  2. Jauhi meminta-minta - Meminta-minta kepada manusia tanpa kebutuhan yang mendesak adalah perbuatan tercela yang menjatuhkan harga diri.
  3. Mulai dari yang kecil - Jangan malu memulai usaha dari hal yang kecil dan sederhana, karena itu lebih mulia daripada meminta-minta.
  4. Jaga kehormatan diri - Seorang muslim harus menjaga kehormatan dan harga dirinya, tidak menjadi beban bagi orang lain.
  5. Bersyukur atas kemampuan - Jika Allah memberi kemampuan untuk bekerja, maka itu adalah nikmat yang harus disyukuri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?