Penjelasan Hadits Bukhari No. 1432 tentang Anjuran bersedekah dan memberi rekomendasi kepada pengemis

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita sebuah adab mulia: ketika ada orang yang meminta bantuan atau hajat, kita dianjurkan untuk tidak hanya memberi, tetapi juga menjadi perantara (syafa'at) dengan merekomendasikannya kepada orang lain yang mampu. Dengan menjadi perantara kebaikan, kita akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melaksanakan kebaikan tersebut. Hadits ini juga mengajarkan bahwa hasil akhir dari segala urusan adalah keputusan Allah, dan kita hanya bisa berusaha serta mendoakan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Zakat, Bab Anjuran untuk Bersedekah dan Memberikan Rekomendasi, nomor 1432. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.

Dalil dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

"Barangsiapa memberikan syafa'at (pertolongan) yang baik, niscaya dia akan mendapat bagian (pahala) darinya. Dan barangsiapa memberikan syafa'at yang buruk, niscaya dia akan mendapat bagian (dosa) darinya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. An-Nisa' [4]: 85)

Kaitan dengan Ulama:

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keutamaan menjadi perantara dalam kebaikan. Beliau berkata, "Barangsiapa yang menjadi perantara dalam sebuah kebaikan, baik dengan ucapan, perbuatan, atau dengan cara mengarahkan orang lain kepadanya, maka dia akan mendapatkan pahala dari kebaikan tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya."

Penjelasan Rinci

Hadits ini datang dari sahabat mulia, Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Beliau menceritakan kebiasaan Rasulullah ﷺ. Ketika ada seorang pengemis atau orang yang meminta pertolongan datang kepada beliau, maka beliau tidak langsung menanganinya sendirian. Sebaliknya, beliau bersabda kepada para sahabat yang hadir:

"اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا" - "Bersyafa'atlah (jadilah perantara), maka kalian akan diberi pahala."

Makna syafa'at di sini bukanlah syafa'at di akhirat yang hanya dimiliki oleh Nabi ﷺ dan orang-orang tertentu, melainkan syafa'at dalam arti menjadi perantara kebaikan di dunia. Yaitu, membantu orang yang membutuhkan dengan cara merekomendasikannya kepada orang lain yang mampu memenuhi kebutuhannya.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya seseorang untuk menjadi perantara bagi orang lain yang membutuhkan, baik dengan cara meminta tolong kepada orang yang mampu, atau dengan menunjukkan jalan keluar dari masalahnya. Ini adalah bagian dari tolong-menolong dalam kebaikan yang diperintahkan Allah.

Kemudian sabda beliau: "وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا شَاءَ" - "Dan Allah akan menetapkan apa yang Dia kehendaki melalui lisan Nabi-Nya."

Kalimat ini mengandung pelajaran tauhid yang sangat dalam. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa beliau hanyalah seorang utusan. Beliau tidak memiliki kekuasaan untuk memenuhi kebutuhan orang secara langsung. Yang menetapkan dan memutuskan segala sesuatu hanyalah Allah. Jika Allah menghendaki, maka kebutuhan orang itu akan terpenuhi. Jika tidak, maka tidak akan terpenuhi. Ini adalah bentuk pengajaran Nabi ﷺ tentang tawakkal dan ketundukan total kepada ketetapan Allah.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna kalimat ini adalah: "Allah akan menetapkan apa yang Dia kehendaki berupa pemberian atau tidak, sesuai dengan hikmah-Nya. Dan ini adalah kabar gembira bagi orang yang meminta, bahwa jika Allah menghendaki kebaikan baginya, maka Dia akan melapangkan jalannya."

Hadits ini juga menunjukkan bahwa menjadi perantara kebaikan tidak hanya terbatas pada masalah harta. Bisa juga dalam bentuk:

  1. Merekomendasikan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan.
  2. Membantu seseorang mendapatkan haknya.
  3. Menjadi penengah dalam menyelesaikan perselisihan.
  4. Menunjukkan jalan keluar dari masalah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini juga mengandung dorongan untuk saling tolong-menolong. Beliau berkata, "Jika engkau tidak mampu memenuhi kebutuhan saudaramu, maka janganlah engkau menolaknya dengan kasar. Cukup katakan, 'Aku tidak mampu, tetapi aku akan tunjukkan kepadamu orang yang bisa membantumu.' Ini adalah bentuk syafa'at yang diperintahkan."

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang seorang ulama salaf yang bernama Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah. Suatu hari, seorang lelaki datang kepadanya mengadukan bahwa ia memiliki hutang yang besar dan tidak mampu membayarnya. Al-Hasan Al-Bashri tidak langsung berkata, "Aku tidak punya uang." Akan tetapi, beliau berdiri dan berjalan menemui beberapa orang kaya di Bashrah. Beliau merekomendasikan orang tersebut kepada mereka, menjelaskan kondisinya, dan meminta mereka untuk membantunya.

Setelah beberapa saat, orang itu datang kembali kepada Al-Hasan Al-Bashri dengan wajah berseri-seri. Ia berkata, "Wahai Abu Sa'id, Allah telah melunasi hutangku melalui perantaraanmu." Al-Hasan Al-Bashri tersenyum dan berkata, "Itulah yang diperintahkan oleh Nabi kita ﷺ. Beliau bersabda, 'Jadilah perantara, maka kalian akan diberi pahala.'"

Kisah ini menunjukkan bahwa menjadi perantara kebaikan adalah amalan yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya. Pahala yang didapatkan tidak hanya untuk orang yang memberi, tetapi juga untuk orang yang menjadi perantara.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadilah perantara kebaikan. Jika ada saudara kita yang membutuhkan pertolongan dan kita tidak mampu memenuhinya, maka jangan menolak dengan kasar. Bantulah dengan cara merekomendasikannya kepada orang lain yang mampu.
  2. Niatkan karena Allah. Ketika menjadi perantara, niatkan untuk membantu saudara kita dan mengharap pahala dari Allah, bukan karena ingin dipuji atau dianggap dermawan.
  3. Jangan merasa rendah diri. Menjadi perantara bukanlah pekerjaan yang hina. Justru ini adalah amalan mulia yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya.
  4. Serahkan hasil kepada Allah. Setelah berusaha menjadi perantara, jangan terlalu khawatir dengan hasilnya. Yakinlah bahwa Allah yang menentukan segalanya. Tugas kita hanyalah berusaha dan berdoa.
  5. Jangan pelit untuk mendoakan. Jika kita tidak mampu membantu secara langsung, maka doakanlah saudara kita agar Allah memudahkan urusannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?