Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 1427 tentang Keutamaan memberi dan larangan meminta-minta

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa memberi lebih mulia daripada meminta-minta. Sedekah terbaik adalah dari harta yang berlebih setelah kebutuhan diri dan keluarga tercukupi. Allah menjanjikan kecukupan bagi siapa yang menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta dan merasa cukup dengan pemberian-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Baqarah [2]: 219

<p>وَيَسْـَٔلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ ۖ قُلِ ٱلْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ</p>

"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah: 'Harta yang berlebih (setelah kebutuhan pokok).'"

Hadits:

Hadits riwayat Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu, Shahih Al-Bukhari no. 1427, Kitab Zakat, Bab: Tidak Ada Sedekah Kecuali Dari Harta yang Berlebih.

Kaitan dengan Ulama:

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah dalam kitabnya Al-Umm menjelaskan bahwa makna "tangan di atas" adalah orang yang memberi, dan "tangan di bawah" adalah orang yang menerima. Beliau menekankan bahwa memberi lebih utama, namun menerima sedekah diperbolehkan bagi yang benar-benar membutuhkan.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (3/334) menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa faedah: keutamaan memberi, kewajiban mendahulukan nafkah keluarga, dan anjuran untuk menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta.

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan salah satu hadits induk dalam bab adab memberi dan menerima. Mari kita bedah satu persatu kalimatnya:

1. "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah"

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa maknanya adalah orang yang memberi lebih utama daripada orang yang menerima. Ini bukan berarti merendahkan fakir miskin, tetapi mengajarkan kemuliaan memberi dan bahaya meminta-minta tanpa kebutuhan.

2. "Mulailah dengan orang yang kamu tanggung"

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ini adalah kaidah penting dalam bersedekah. Nafkah wajib kepada keluarga (istri, anak, orang tua yang miskin) harus didahulukan daripada sedekah sunnah kepada orang lain. Ini sesuai dengan hadits: "Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar untuk membebaskan budak, satu dinar sedekah kepada orang miskin, dan satu dinar untuk keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu." (HR. Muslim)

3. "Sedekah yang terbaik adalah yang diberikan oleh orang kaya (dari harta yang tersisa)"

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa maknanya adalah sedekah yang paling utama adalah yang diberikan setelah kebutuhan diri dan keluarga tercukupi. Bukan berarti seseorang harus menimbun harta, tetapi ia tidak boleh memiskinkan diri sendiri hingga menjadi beban orang lain.

4. "Siapa yang menahan diri dari meminta, Allah akan memberinya..."

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menafsirkan bahwa ini adalah janji Allah yang pasti. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya dengan tidak meminta-minta, Allah akan mencukupkannya dari karunia-Nya. Ini adalah motivasi untuk bersabar dan bertawakkal.

Story Telling

Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam radhiyallahu 'anhu, sahabat yang mulia ini berkata: "Aku pernah meminta kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi, beliau pun memberiku. Kemudian beliau bersabda:

<p>يَا حَكِيمُ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى</p>

"Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini hijau lagi manis. Barangsiapa mengambilnya dengan jiwa yang mulia (tidak tamak), maka akan diberkahi padanya. Dan barangsiapa mengambilnya dengan jiwa yang rakus, maka tidak akan diberkahi, seperti orang yang makan namun tidak pernah kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."

Hakim berkata: "Maka aku pun berkata, 'Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta sesuatu pun kepada siapa pun setelah engkau hingga aku meninggal dunia.'" Dan benar, ketika Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma memanggilnya untuk diberi, ia menolak. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa menjaga kehormatan diri dari meminta-minta adalah akhlak mulia yang dicintai Allah. Hakim bin Hizam mampu melakukannya karena ia yakin dengan janji Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Utamakan memberi daripada meminta – Jadilah pribadi yang dermawan, bukan peminta-minta.
  2. Dahulukan nafkah keluarga – Sebelum bersedekah kepada orang lain, pastikan kebutuhan istri, anak, dan orang tua tercukupi.
  3. Bersedekahlah dari kelebihan harta – Jangan sampai sedekah membuatmu kekurangan hingga menjadi beban orang lain.
  4. Jaga kehormatan diri – Jangan meminta-minta kepada manusia. Yakinlah bahwa Allah akan mencukupkan rezeki bagi hamba-Nya yang bersabar dan menjaga diri.
  5. Latih hati untuk merasa cukup – Kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, tetapi hati yang selalu merasa cukup (qana'ah).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.