Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang keutamaan bersedekah di waktu sehat, masih kuat, dan dalam keadaan butuh harta tersebut, bukan menundanya sampai menjelang kematian. Sedekah yang paling besar pahalanya adalah yang diberikan saat kita masih "sayang" pada harta, masih takut miskin, dan masih berharap kaya. Karena di saat itulah keikhlasan dan pengorbanan benar-benar teruji.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan):
<p>حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ، حَدَّثَنَا عُمَارَةُ بْنُ الْقَعْقَاعِ، حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ " أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا، وَلِفُلاَنٍ كَذَا، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ ".</p>
Terjemahan: Seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya, "Wahai Rasulullah! Sedekah manakah yang paling besar pahalanya?" Beliau menjawab, "Sedekah yang kamu berikan ketika kamu sehat, kikir, takut akan kemiskinan dan berharap akan kekayaan. Janganlah kamu menundanya hingga saat mendekati kematian dan kemudian berkata, 'Berikan sekian kepada si Fulan, dan sekian kepada si Fulan.' Dan sesungguhnya itu sudah menjadi milik si Fulan."
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Munafiqun [63]: 10
وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ
"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), 'Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.'"
Penjelasan ulama: Ayat ini sangat erat kaitannya dengan hadits di atas. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan manusia untuk segera berinfak sebelum datang kematian, karena penyesalan di saat sakaratul maut tidak lagi berguna. Imam As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman juga menegaskan bahwa Allah mengingatkan agar manusia tidak menunda-nunda kebaikan, karena ajal bisa datang kapan saja.
Penjelasan Rinci
Makna Hadits:
Hadits ini menjawab pertanyaan seorang sahabat tentang sedekah yang paling besar pahalanya. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa sedekah yang paling utama adalah yang dilakukan dalam kondisi:
- Sehat (صَحِيحٌ) — bukan dalam keadaan sakit atau menjelang kematian. Karena orang sehat masih bisa bekerja dan membutuhkan hartanya.
- Kikir (شَحِيحٌ) — dalam arti hatinya masih berat melepaskan harta, karena memang harta itu masih dibutuhkan. Ini menunjukkan pengorbanan yang sungguh-sungguh.
- Takut miskin (تَخْشَى الْفَقْرَ) — masih khawatir hartanya berkurang dan jatuh miskin. Ini ujian keimanan yang berat.
- Berharap kaya (تَأْمُلُ الْغِنَى) — masih punya cita-cita dan harapan untuk menjadi lebih kaya, sehingga melepaskan harta di saat itu terasa berat.
Rasulullah ﷺ kemudian melarang menunda sedekah sampai nyawa sudah di tenggorokan (الحُلْقُومَ), di mana seseorang baru mau berwasiat memberikan hartanya. Beliau menegaskan bahwa harta itu pada saat itu sudah menjadi milik ahli waris, bukan lagi miliknya sepenuhnya untuk disedekahkan sesuka hati.
Pandangan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan bersedekah di waktu sehat dan masih membutuhkan harta, karena itu lebih menunjukkan keikhlasan dan lebih berat bagi jiwa.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa yang dimaksud "kikir" di sini adalah sifat bawaan manusia yang sayang pada harta, bukan sifat tercela yang dicela syariat. Justru sedekah dalam kondisi ini adalah jihad melawan hawa nafsu.
- Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa sedekah di waktu sehat lebih utama daripada wasiat di waktu sakit, karena wasiat itu hanya sepertiga harta dan dilakukan ketika harta sudah "terlepas" dari pemiliknya secara psikologis.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini juga mengajarkan agar kita tidak menunda kebaikan, karena manusia tidak tahu kapan ajal menjemput.
Perbedaan kecil: Ada sebagian ulama yang membahas apakah sedekah di waktu sehat lebih utama daripada sedekah di waktu sulit (fakir). Namun pendapat yang kuat adalah sedekah di waktu sehat dan berkecukupan lebih utama, sebagaimana zhahir hadits ini, karena di saat itulah jiwa benar-benar diuji.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu — semoga Allah meridhainya — ketika peristiwa hijrah, beliau membawa seluruh hartanya untuk menemani Rasulullah ﷺ. Ketika Rasulullah bertanya, "Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?" Beliau menjawab, "Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya."
Ini adalah contoh nyata sedekah di waktu sehat, kuat, dan harta masih dibutuhkan. Abu Bakar tidak menunggu sakit atau tua untuk beramal. Beliau bersegera di waktu muda dan kuatnya. Kisah ini masyhur dalam kitab-kitab sirah dan disebutkan oleh para ulama sebagai teladan dalam bersegera beramal saleh.
Hikmahnya: Jangan tunda kebaikan. Hari ini kita masih sehat, esok belum tentu. Hari ini kita masih bisa memilih kepada siapa harta kita disalurkan, esok mungkin kita sudah tidak punya kendali.
Kesimpulan Praktis
- Bersegeralah bersedekah di waktu sehat dan berkecukupan, jangan menunggu sakit atau tua.
- Jangan menunda kebaikan dengan alasan "nanti saja", karena ajal tidak pernah menunda.
- Sedekah yang paling utama adalah yang keluar dari harta yang masih kita butuhkan, karena itu menunjukkan keikhlasan dan pengorbanan.
- Jangan menunggu sakaratul maut untuk berwasiat, karena saat itu harta sudah menjadi hak ahli waris dan wasiat hanya terbatas sepertiga.
- Latih diri untuk dermawan selagi mampu, karena sifat kikir adalah ujian dan sedekah adalah obatnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.