Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan perjuangan Nabi ﷺ untuk menyelamatkan pamannya, Abu Thalib, di saat-saat terakhir hidupnya. Namun, karena pengaruh buruk Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah, Abu Thalib wafat dalam keadaan masih memegang agama Abdul Muththalib (musyrik). Hadits ini mengajarkan bahwa hidayah adalah mutlak milik Allah, dan bahwa kita tidak boleh memintakan ampun bagi orang musyrik yang telah jelas mati dalam kekafiran.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
(QS. At-Taubah [9]: 113)
Artinya: "Tidaklah pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, meskipun mereka itu kerabatnya, setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka."
Hadits:
Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jenazah, Bab "Jika Orang Musyrik Mengatakan di Saat Kematian Tidak Ada Tuhan Selain Allah" (no. 1360). Perawi dari kalangan sahabat adalah Sa'id bin al-Musayyab dari ayahnya (al-Musayyab bin Hazn). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 24).
Kaitan dengan Ulama:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (3/198) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya kasih sayang Nabi ﷺ kepada pamannya, namun tetap tunduk pada ketetapan Allah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (2/96) menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil larangan memintakan ampun bagi orang musyrik yang mati dalam kekafiran, dan bahwa syafa'at Nabi ﷺ tidak berguna bagi mereka.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (1/78) menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan pentingnya memanfaatkan waktu sebelum kematian untuk bertaubat, dan bahwa dakwah harus tetap disampaikan meskipun kepada kerabat dekat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Kasih Sayang Nabi ﷺ kepada Keluarga
Nabi ﷺ sangat mencintai pamannya, Abu Thalib, yang telah melindungi dan merawatnya sejak kecil. Oleh karena itu, beliau ﷺ datang langsung saat Abu Thalib sakaratul maut untuk mengajaknya mengucapkan Laa ilaaha illallah. Ini menunjukkan bahwa dakwah kepada keluarga adalah prioritas, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (4/193) bahwa Nabi ﷺ sangat menginginkan keislaman pamannya.
2. Pengaruh Lingkungan yang Buruk
Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah dengan cepat mempengaruhi Abu Thalib dengan mengatakan, "Apakah kamu akan meninggalkan agama Abdul Muththalib?" Mereka menggunakan kesombongan dan fanatisme kesukuan untuk menghalangi Abu Thalib masuk Islam. Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (Kitab Jenazah) menempatkan hadits ini untuk menunjukkan betapa besarnya pengaruh teman yang buruk, bahkan di saat-saat terakhir kehidupan.
3. Hidayah Adalah Milik Allah
Meskipun Nabi ﷺ adalah manusia paling mulia dan paling dicintai Allah, beliau tidak bisa memaksa pamannya untuk beriman. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di (1/349) menjelaskan bahwa ayat 113 Surat At-Taubah turun sebagai teguran bahwa meskipun Nabi ﷺ sangat ingin, beliau tidak boleh memintakan ampun bagi orang musyrik yang telah jelas mati dalam kekafiran. Ini mengajarkan kita untuk tunduk pada takdir Allah.
4. Larangan Memintakan Ampun bagi Orang Musyrik
Setelah turunnya ayat tersebut, Nabi ﷺ berhenti memintakan ampun untuk Abu Thalib. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (1/63) meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Aku dilarang memintakan ampun untuknya." Ini menjadi dalil bahwa seorang muslim tidak boleh memintakan ampun bagi orang yang mati dalam keadaan musyrik, meskipun ia adalah orang tua atau kerabat dekat.
5. Pentingnya Memanfaatkan Waktu Sebelum Kematian
Abu Thalib memiliki kesempatan hingga nafas terakhirnya, namun ia memilih untuk tetap pada agama nenek moyangnya. Al-Hasan al-Bashri (sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, 1/278) berkata, "Wahai anak Adam, engkau memiliki waktu antara sekarang dan kematianmu. Jika engkau tidak bertaubat sekarang, kapan lagi?"
Story Telling
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 3884) dan Imam Muslim (no. 24) dari jalur lain, bahwa setelah Abu Thalib wafat, Nabi ﷺ bersabda:
"وَاللَّهِ لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ"
Artinya: "Demi Allah, sungguh aku akan memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang."
Kemudian turunlah ayat QS. At-Taubah: 113. Maka Nabi ﷺ pun berhenti memintakan ampun. Namun, beliau tetap bersedih. Lalu turun lagi ayat QS. Al-Qashash [28]: 56:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
Artinya: "Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki."
Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa kecintaan dan perjuangan Nabi ﷺ tidak bisa mengalahkan kehendak Allah. Kesedihan beliau adalah bentuk kemanusiaan, namun ketaatan kepada Allah adalah yang utama.
Kesimpulan Praktis
- Dakwah kepada keluarga adalah kewajiban, terutama saat mereka masih hidup. Jangan menunda-nunda.
- Jangan pernah meremehkan pengaruh lingkungan yang buruk. Lingkungan bisa menjadi penghalang hidayah.
- Hidayah adalah hak prerogatif Allah. Kita hanya bertugas menyampaikan, bukan memastikan hasil.
- Jangan memintakan ampun bagi orang yang mati dalam kekafiran, meskipun ia kerabat dekat. Hal ini dilarang oleh Allah.
- Manfaatkan waktu sebelum kematian untuk bertaubat dan memperbaiki iman. Jangan menunggu hingga sakaratul maut.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.