Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang Nabi Musa 'alaihissalam yang menampar Malaikat Maut ketika datang mencabut nyawanya. Ini menunjukkan betapa besarnya keinginan Nabi Musa untuk terus hidup dan beramal, bukan karena takut mati, tetapi karena cintanya kepada Allah dan ingin memperbanyak ketaatan. Hadits ini juga mengabarkan bahwa kuburan Nabi Musa berada di dekat Baitul Maqdis (Tanah Suci), di sisi jalan dekat bukit pasir merah. Pelajaran utamanya adalah kita tidak boleh membenci kematian, tetapi juga boleh berdoa memohon keberkahan umur untuk memperbanyak amal shalih.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks hadits yang Anda sertakan adalah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dan Imam Al-Bukhari memuatnya dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Jana'iz (Kitab Jenazah), Bab "Man Ahabba Ad-Dafna fil Ardil Muqaddasah" (Bab Siapa yang Mencintai Pemakaman di Tanah Suci atau Sejenisnya), no. 1339.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ
Kullu nafsin dzaa'iqatul maut
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati." (QS. Ali 'Imran [3]: 185)
Ayat ini menegaskan bahwa kematian adalah kepastian bagi setiap makhluk, termasuk para nabi. Namun, cara menghadapi kematian berbeda-beda; Nabi Musa tetap menunjukkan semangat hidup untuk beribadah.
Penjelasan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seseorang berharap panjang umur selama digunakan untuk ketaatan, dan bahwa Malaikat Maut bisa datang dalam bentuk yang bisa dilihat oleh manusia. Beliau juga menukil penjelasan bahwa tamparan Nabi Musa kepada Malaikat Maut adalah bentuk pengingkaran karena beliau mengira itu adalah musuh yang datang menyerang, bukan karena membenci kematian itu sendiri.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (hadits ini juga diriwayatkan Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini adalah mukjizat Nabi Musa dan menunjukkan keutamaan Baitul Maqdis. Beliau juga menegaskan bahwa keinginan Nabi Musa untuk hidup adalah karena ingin menambah amal ibadah, bukan karena cinta dunia yang tercela.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh berharap kematian karena musibah yang menimpanya, tetapi boleh berdoa memohon umur panjang dalam ketaatan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Kisah Nabi Musa dan Malaikat Maut
Ketika Allah mengutus Malaikat Maut untuk mencabut nyawa Nabi Musa, Malaikat Maut datang dalam wujud seorang laki-laki. Nabi Musa yang tidak mengenalnya, menamparnya dengan keras sehingga mata Malaikat Maut rusak. Malaikat Maut kembali kepada Allah dan mengadu bahwa ia diutus kepada hamba yang tidak menginginkan kematian.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa tamparan Nabi Musa ini bukan karena beliau membenci takdir Allah, tetapi karena beliau mengira orang yang datang itu adalah musuh yang ingin menyerangnya. Ini adalah bentuk kewaspadaan yang wajar, dan Allah tidak menyalahkan Nabi Musa atas hal ini.
2. Tawaran Hidup dan Jawaban Nabi Musa
Allah kemudian memerintahkan Malaikat Maut untuk kembali dan memberi tahu Nabi Musa bahwa jika ia meletakkan tangannya di punggung seekor sapi, maka setiap rambut yang tertutup oleh tangannya bernilai satu tahun umur. Nabi Musa bertanya, "Lalu setelah itu apa?" Malaikat menjawab, "Setelah itu kematian." Maka Nabi Musa berkata, "Kalau begitu, sekarang saja (matikan aku sekarang)."
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa jawaban Nabi Musa ini menunjukkan keteguhan dan keridhaannya terhadap takdir Allah. Beliau tidak tertipu oleh tawaran umur panjang, karena ia tahu bahwa kematian pasti datang. Ini adalah pelajaran tentang ridha (kerelaan) terhadap ketentuan Allah.
3. Permintaan Didekatkan ke Tanah Suci
Nabi Musa kemudian meminta kepada Allah agar didekatkan ke Baitul Maqdis sejauh lemparan batu. Ini menunjukkan kecintaan beliau kepada tanah yang diberkahi. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kecintaan kepada tempat-tempat yang dimuliakan Allah adalah bagian dari keimanan, dan Nabi Musa ingin wafat di dekat tanah suci tersebut.
4. Posisi Kuburan Nabi Musa
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seandainya beliau berada di tempat itu, beliau akan menunjukkan kuburan Nabi Musa yang berada di sisi jalan dekat bukit pasir merah. Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang lokasi persisnya, tetapi yang jelas kuburan Nabi Musa berada di wilayah Baitul Maqdis (Palestina).
5. Pelajaran tentang Kematian
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya tentang kematian menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa para nabi pun merasakan beratnya kematian, namun mereka tetap ridha dengan ketentuan Allah. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu menuju kehidupan yang kekal.
Story Telling
Ada kisah yang diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri (seorang tabi'in besar) tentang seorang mukmin yang menghadapi kematian. Beliau berkata:
"Seorang mukmin ketika didatangi Malaikat Maut, ia tidak merasa takut, karena ia tahu bahwa kematian adalah perpindahan dari rumah yang fana menuju rumah yang kekal. Namun, ia tetap berharap agar Allah menunda kematiannya untuk memperbaiki diri dan menambah amal shalih."
Kisah ini menggambarkan bahwa semangat Nabi Musa untuk hidup bukanlah karena cinta dunia, tetapi karena ingin memperbanyak amal. Ini juga menjadi pelajaran bagi kita: jangan takut mati, tetapi juga jangan lalai bahwa kematian pasti datang. Gunakan umur yang ada untuk beribadah.
Kesimpulan Praktis
Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Jangan membenci kematian karena musibah atau kesulitan hidup. Seorang mukmin harus ridha dengan takdir Allah.
- Boleh berdoa memohon umur panjang selama digunakan untuk ketaatan dan kebaikan.
- Cintailah tempat-tempat yang dimuliakan Allah seperti Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha, serta berusahalah untuk beribadah di sana bila mampu.
- Jadikan kematian sebagai pengingat untuk memperbanyak amal shalih sebelum datangnya ajal.
- Teladani sikap Nabi Musa yang tetap tenang dan ridha ketika kematian datang, karena ia tahu bahwa setelah kematian ada kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang beriman.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.