Penjelasan Hadits Bukhari No. 1300 tentang Kesedihan Nabi atas syahidnya para pembaca Al-Qur'an

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa ketika para qurra' (para penghafal dan pembaca Al-Qur'an) dibunuh secara zalim di Bi'r Ma'unah, Rasulullah ﷺ membaca qunut nazilah selama satu bulan untuk mendoakan keburukan atas para pembunuh mereka, dan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menyaksikan bahwa beliau belum pernah melihat Rasulullah ﷺ bersedih sedalam itu. Hadits ini menunjukkan bolehnya qunut saat musibah besar, dan bahwa kesedihan Nabi ﷺ bukan karena lemah, melainkan karena cinta beliau kepada para sahabat dan kepedulian beliau terhadap umat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

"Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki."

(QS. Ali 'Imran [3]: 169)

Hadits terkait:

  • Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jenazah, Bab "Siapa yang Duduk di Sisi Musibah Dikenal dengan Kesedihan" (no. 1300), dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
  • Peristiwa yang sama juga diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas, tentang qunut nazilah selama sebulan setelah tragedi Bi'r Ma'unah.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa qunut nazilah disyariatkan saat terjadi musibah besar yang menimpa kaum muslimin.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya qunut nazilah dan menunjukkan besarnya musibah yang menimpa para qurra'.

Penjelasan Rinci

Konteks peristiwa (Bi'r Ma'unah):

Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-4 Hijriyah. Sekelompok sahabat yang ahli membaca Al-Qur'an (disebut qurra') — sekitar 70 orang menurut riwayat yang masyhur — diutus ke Najd untuk mengajarkan Islam. Namun mereka dikhianati dan dibunuh secara zalim di sebuah tempat bernama Bi'r Ma'unah. Berita ini sangat mengguncang Rasulullah ﷺ dan para sahabat.

Makna "qunut sebulan":

Qunut di sini adalah qunut nazilah, yaitu doa khusus yang dibaca dalam shalat (pada rakaat terakhir setelah ruku') untuk mendoakan keburukan atas musuh atau kebaikan bagi kaum muslimin yang tertindas. Rasulullah ﷺ mendoakan laknat atas kabilah-kabilah yang berkhianat (Ri'l, Dzakwan, 'Ushayyah, dan Lihyan) dalam qunut tersebut.

Makna "kesedihan terdalam":

Anas berkata: "Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ bersedih sedalam itu." Ini menunjukkan:

  1. Kecintaan Nabi ﷺ kepada para sahabatnya — mereka bukan sekadar pengikut, tetapi saudara dan kekasih beliau.
  2. Kepedulian beliau terhadap dakwah — hilangnya para qurra' berarti hilangnya generasi pengemban Al-Qur'an.
  3. Kesedihan beliau bukanlah keluhan atau kelemahan, melainkan bentuk rahmat dan kelembutan hati, sebagaimana Allah memuji kelembutan hati Nabi ﷺ dalam QS. Ali 'Imran [3]: 159.

Pandangan ulama dalam daftar:

  • Imam An-Nawawi (dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa qunut nazilah dilakukan pada shalat wajib saat terjadi musibah besar, dan boleh ditinggalkan jika musibah telah berlalu.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menyimpulkan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya qunut nazilah dan bahwa kesedihan Nabi ﷺ adalah kesedihan yang wajar dan tidak bertentangan dengan tawakkal.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (dalam Zadul Ma'ad) menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan umatnya untuk bersabar dan berdoa saat musibah, dan qunut nazilah adalah salah satu bentuk doa tersebut.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa musibah yang menimpa para dai adalah ujian yang harus dihadapi dengan sabar dan doa, bukan dengan putus asa.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah qunut nazilah masih disyariatkan setelah Nabi ﷺ wafat. Namun jumhur ulama dari daftar di atas (An-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibnu Qayyim) menyatakan bahwa qunut nazilah tetap disyariatkan saat terjadi musibah besar yang menimpa kaum muslimin, dan ditinggalkan saat musibah berakhir. Ini adalah pendapat yang paling kuat berdasarkan dalil.

Story Telling

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — pelayan Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun — menuturkan kisah ini dengan penuh haru. Beliau menyaksikan sendiri bagaimana Rasulullah ﷺ berdiri di mihrab, mengangkat tangan, dan berdoa dengan suara yang penuh kesedihan selama sebulan penuh. Setiap shalat, beliau mendoakan para pembunuh sahabat-sahabatnya. Anas berkata: "Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ bersedih sedalam itu."

Hikmahnya: Seorang pemimpin sejati tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi merasakan penderitaan umatnya. Kesedihan Nabi ﷺ adalah cerminan cinta beliau kepada para sahabat dan tanggung jawab beliau sebagai pembawa risalah. (Sumber: Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, serta penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.)

Kesimpulan Praktis

  1. Bolehnya qunut nazilah saat terjadi musibah besar yang menimpa kaum muslimin, sebagaimana dilakukan Nabi ﷺ selama sebulan.
  2. Kesedihan bukanlah kelemahan — Nabi ﷺ yang paling mulia pun bersedih, tetapi beliau tetap bersabar dan berdoa.
  3. Cinta kepada para sahabat dan ulama adalah bagian dari iman; kehilangan mereka adalah musibah besar.
  4. Doa adalah senjata kaum mukmin saat menghadapi kezaliman dan musibah.
  5. Hendaknya kita meneladani Nabi ﷺ dalam kesabaran, kelembutan hati, dan kepedulian terhadap umat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?