Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini melarang tiga perbuatan saat tertimpa musibah kematian: menampar pipi, merobek pakaian, dan berteriak dengan seruan jahiliyah. Larangan ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus bersabar dan ridha dengan takdir Allah, bukan malah menunjukkan sikap marah dan tidak terima terhadap ketentuan-Nya. Perbuatan-perbuatan tersebut termasuk dosa besar karena menentang kesabaran yang diperintahkan syariat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Hadits:
Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-Jana'iz, Bab "Ma Yuhna 'an an-Niyahah wa ad-Du'a bi Da'wa al-Jahiliyyah 'inda al-Mushibah", no. 1298, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Riyadhus Shalihin (Bab ash-Shabr) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya perbuatan menampar pipi, merobek pakaian, dan meratap dengan seruan jahiliyah. Beliau juga menyebutkan bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar karena menentang perintah sabar.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa "seruan jahiliyah" adalah segala bentuk teriakan yang mengandung kemarahan terhadap takdir, seperti meratapi nasib, menyebut-nyebut kebaikan mayit secara berlebihan, atau mengeluh kepada sesama makhluk.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung larangan keras terhadap tiga perbuatan yang sering dilakukan oleh orang-orang jahiliyah ketika tertimpa musibah kematian:
Pertama: Menampar pipi (ضرب الخدود)
Yaitu memukul pipi sendiri atau pipi orang lain sebagai ekspresi kesedihan yang berlebihan. Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa perbuatan ini menunjukkan ketidakrelaan terhadap takdir Allah dan termasuk perbuatan orang-orang bodoh yang tidak sabar.
Kedua: Merobek pakaian (شق الجيوب)
Yaitu merobek bagian leher baju atau pakaian secara sengaja sebagai tanda duka cita yang melampaui batas. Imam al-Bukhari rahimahullah menempatkan hadits ini dalam bab yang membahas larangan meratap dan seruan jahiliyah, menunjukkan bahwa perbuatan ini termasuk kebiasaan orang-orang sebelum Islam.
Ketiga: Menyeru dengan seruan jahiliyah (دعا بدعوى الجاهلية)
Yaitu berteriak dengan ucapan-ucapan yang mengandung kemarahan terhadap takdir, seperti "Wahai celakanya aku!", "Wahai rugi besarku!", atau meratapi mayit dengan menyebut-nyebut kebaikannya secara berlebihan. Imam Ibn Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa seruan jahiliyah juga mencakup memanggil-manggil nama mayit dengan nada histeris atau mengadukan nasib kepada selain Allah.
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "ليس منا" (bukan dari golongan kami) adalah ancaman keras yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan keimanan seseorang jika dilakukan dengan sengaja dan tanpa taubat. Namun, bukan berarti pelakunya keluar dari Islam secara mutlak, melainkan ia telah melakukan dosa besar yang wajib ditinggalkan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menafsirkan ayat tentang sabar (QS. Al-Baqarah: 155) bahwa orang yang benar-benar sabar adalah yang tidak mengeluh, tidak meratap, dan tidak melakukan perbuatan yang dilarang dalam hadits ini.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, ketika ayahnya gugur dalam Perang Uhud, beliau menangis. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:
"أتبكي؟ فما زالت الملائكة تظله بأجنحتها حتى رفعتموه"
"Apakah engkau menangis? Malaikat senantiasa menaunginya dengan sayap-sayap mereka hingga kalian mengangkatnya (jenazahnya)." (HR. al-Bukhari no. 1244)
Kisah ini menunjukkan bahwa menangis karena sedih itu wajar, tetapi tidak boleh disertai perbuatan yang dilarang seperti menampar pipi atau merobek pakaian. Para sahabat tetap bersabar dan ridha meskipun hati mereka sedih.
Kesimpulan Praktis
- Saat tertimpa musibah kematian, hendaknya kita bersabar dan mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
- Jauhilah perbuatan menampar pipi, merobek pakaian, dan meratap dengan seruan jahiliyah karena termasuk dosa besar.
- Perbanyaklah doa untuk mayit dan bersedekah atas namanya, karena itu lebih bermanfaat daripada meratapi kepergiannya.
- Ingatlah bahwa kesabaran akan mendatangkan pahala besar dari Allah Ta'ala.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.