Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang larangan keras melakukan perbuatan-perbuatan yang menunjukkan sikap tidak ridha dan berlebihan dalam menghadapi musibah, terutama bagi kaum wanita. Rasulullah ﷺ berlepas diri (bara'ah) dari tiga golongan: wanita yang berteriak-teriak dengan suara melengking (ash-shaaliqah), wanita yang mencukur rambutnya karena musibah (al-haaliqah), dan wanita yang merobek-robek pakaiannya (asy-syaqqah). Ini adalah bentuk kesedihan yang dilarang karena mengandung unsur protes kepada takdir Allah dan meniru kebiasaan jahiliyah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jana'iz, Bab "Ma Yuhdzaru min Jaz'il 'Indal Mushibah" (Bab Apa yang Dilarang dari Mencukur Rambut Saat Musibah), no. 1296, dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)."
(QS. Asy-Syura [42]: 30)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa musibah adalah bagian dari takdir dan ujian, bukan alasan untuk berputus asa atau melakukan perbuatan yang dilarang.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya perbuatan-perbuatan tersebut karena Rasulullah ﷺ berlepas diri dari pelakunya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin juga menegaskan bahwa berlepas diri dari Nabi ﷺ adalah ancaman yang sangat serius, menunjukkan besarnya dosa perbuatan tersebut.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung ancaman keras bagi tiga perbuatan yang sering dilakukan wanita saat tertimpa musibah, terutama saat kematian orang yang dicintai:
- Ash-Shaaliqah (الصَّالِقَةُ): Wanita yang berteriak-teriak dengan suara melengking dan keras saat tertimpa musibah. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah suara jeritan yang keras dan melengking. Ini menunjukkan ketidakridhaan terhadap takdir Allah.
- Al-Haaliqah (الحَالِقَةُ): Wanita yang mencukur rambutnya saat tertimpa musibah. Ini adalah perbuatan yang menyerupai orang-orang jahiliyah yang mencukur rambut sebagai bentuk kesedihan yang berlebihan. Syaikh Al-Albani dalam Ahkamul Jana'iz menjelaskan bahwa ini termasuk perbuatan yang diharamkan karena merusak ciptaan Allah dan menunjukkan sikap berlebihan.
- Asy-Syaqqah (الشَّاقَّةُ): Wanita yang merobek-robek pakaiannya saat tertimpa musibah. Ini adalah perbuatan yang menunjukkan kemarahan terhadap takdir dan merusak harta tanpa manfaat.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa berlepas diri Rasulullah ﷺ dari pelaku perbuatan ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut termasuk dosa besar, karena Rasulullah ﷺ tidak berlepas diri kecuali dari pelaku kebid'ahan atau kemaksiatan besar.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa musibah seharusnya disikapi dengan kesabaran dan keridhaan, karena itulah yang akan mendatangkan pahala dan menghapus dosa. Adapun berteriak, mencukur rambut, dan merobek pakaian adalah perbuatan setan yang menghapus pahala kesabaran.
Story Telling
Ada kisah indah tentang kesabaran para sahabat dalam menghadapi musibah. Ketika putra Abu Thalhah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu meninggal dunia, istrinya Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha justru menyembunyikan kabar duka tersebut dari suaminya hingga waktu yang tepat. Ia menyambut suaminya dengan wajah ceria, lalu menyampaikan kabar duka dengan bijak: "Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu jika suatu kaum memberi pinjaman kepada keluarga lain, lalu mereka meminta kembali pinjamannya? Apakah keluarga itu berhak menolak?" Abu Thalhah menjawab, "Tidak." Ummu Sulaim berkata, "Maka bersabarlah, sesungguhnya anakmu telah dipanggil oleh Allah."
Ketika Abu Thalhah mendengar kabar itu, ia marah dan berkata, "Engkau biarkan aku hingga aku mandi junub, lalu engkau kabari aku tentang anakku?" Namun kemudian ia pergi menemui Rasulullah ﷺ dan menceritakan kejadian itu. Rasulullah ﷺ bersabda: "Semoga Allah memberkahi kalian berdua di malam kalian." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dari kisah ini, lahirlah Abdullah bin Abi Thalhah yang kemudian menjadi seorang ulama besar.
Kisah ini menunjukkan bagaimana seharusnya seorang mukmin menyikapi musibah: dengan kesabaran, kebijaksanaan, dan tidak berlebihan dalam bersedih.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi tiga perbuatan yang disebut dalam hadits: berteriak melengking, mencukur rambut, dan merobek pakaian saat tertimpa musibah.
- Bersabar dan ber-istirja' (mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un) saat tertimpa musibah, karena itulah sikap orang beriman.
- Menangis secara wajar tanpa suara melengking atau meratap adalah hal yang dibolehkan, sebagaimana Nabi ﷺ menangis saat putranya Ibrahim wafat.
- Hiburlah keluarga yang tertimpa musibah dengan cara yang baik dan ajak mereka untuk bersabar, sebagaimana Ummu Sulaim menghibur suaminya.
- Sadari bahwa musibah adalah ujian yang akan menghapus dosa-dosa jika disikapi dengan sabar dan ridha.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.