Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar yang sangat agung dan menenangkan dari Nabi ﷺ. Beliau mengabarkan bahwa barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik (menyekutukan Allah), maka ia akan masuk neraka. Sebaliknya, barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan bersih dari syirik, maka ia akan masuk surga. Ini adalah inti dakwah para rasul, yaitu memurnikan tauhid dan menjauhi syirik, karena inilah kunci keselamatan di akhirat.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan-Nya), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar." (QS. An-Nisa' [4]: 48)
2. Hadits Terkait:
Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Jenazah, Bab "Tentang Jenazah dan Siapa yang Terakhir Ucapannya La Ilaha Illallah", dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
3. Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini adalah salah satu dalil pokok yang dijelaskan oleh para ulama dalam masalah tauhid dan syirik. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam kitabnya yang masyhur, Kitab At-Tauhid, menjadikan hadits ini sebagai salah satu bab penting tentang keutamaan tauhid dan bahaya syirik. Beliau menjelaskan bahwa keselamatan dari neraka dan masuk surga itu digantungkan pada kemurnian tauhid, yaitu tidak berbuat syirik kepada Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki kedudukan yang sangat agung. Mari kita pahami maknanya dengan seksama:
1. Makna "Man Mata Wa Huwa Yushriku Billahi Syai'an" (Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu)
Yang dimaksud dengan syirik di sini adalah menjadikan sekutu bagi Allah ﷻ dalam rububiyyah-Nya (ketuhanan), uluhiyyah-Nya (ibadah), atau asma' wa shifat-Nya (nama dan sifat-Nya). Syirik adalah dosa terbesar yang tidak akan diampuni oleh Allah jika pelakunya mati dalam keadaan belum bertaubat darinya.
Para ulama menjelaskan bahwa syirik itu ada dua macam:
- Syirik Akbar: Yaitu memalingkan ibadah kepada selain Allah, seperti berdoa kepada orang mati, meminta pertolongan kepada jin, atau menyembelih untuk selain Allah. Ini adalah syirik yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.
- Syirik Asghar: Yaitu perbuatan yang bisa mengantarkan kepada syirik besar, seperti riya' (pamer) dalam ibadah, atau bersumpah dengan nama selain Allah. Ini tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, tetapi merupakan dosa besar yang wajib dijauhi.
Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan bahwa syirik adalah lawan dari tauhid. Tauhid adalah hakikat La ilaha illallah, sedangkan syirik adalah menodai kalimat mulia ini dengan memalingkan sebagian ibadah kepada selain Allah.
2. Makna "Dakhala An-Nar" (Masuk Neraka)
Ini adalah kabar yang tegas dari Nabi ﷺ bahwa pelaku syirik besar yang mati tanpa bertaubat akan kekal di dalam neraka. Ini adalah konsekuensi dari firman Allah dalam QS. An-Nisa' [4]: 48 dan juga QS. Al-Ma'idah [5]: 72:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun."
3. Perkataan Ibnu Mas'ud: "Saya berkata, 'Siapa yang mati tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, dia pasti akan masuk surga.'"
Ini adalah pemahaman yang sangat dalam dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Beliau menyimpulkan dari sabda Nabi ﷺ bahwa kebalikan dari hukum tersebut juga benar. Jika syirik menyebabkan masuk neraka, maka tauhid (tidak berbuat syirik) adalah sebab masuk surga.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (hadits no. 1237) dari sahabat 'Itban bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
"Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas mengharap wajah Allah."
Ini menunjukkan bahwa kunci masuk surga adalah tauhid yang ikhlas, bukan sekadar ucapan di lisan tanpa keyakinan di hati dan amalan di anggota badan.
4. Pandangan Ulama tentang Hadits Ini
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa tauhid adalah syarat mutlak untuk selamat dari neraka. Beliau menegaskan bahwa keselamatan dari kekekalan di neraka hanya bagi orang yang mati di atas tauhid.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa syirik adalah kezaliman yang paling besar, karena ia menempatkan ibadah pada tempat yang bukan haknya. Sedangkan tauhid adalah keadilan yang paling sempurna, karena ia menempatkan ibadah hanya kepada yang berhak menerimanya, yaitu Allah ﷻ.
Para ulama juga menekankan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa banyak orang yang mengaku muslim namun terjerumus dalam kemaksiatan. Karena yang dimaksud dalam hadits ini adalah syirik, bukan sekadar dosa besar lainnya. Adapun pelaku dosa besar selain syirik, maka urusannya kembali kepada Allah; jika Dia kehendaki, Dia akan mengampuninya, dan jika Dia kehendaki, Dia akan menyiksanya sesuai kadar dosanya, kemudian ia keluar dari neraka karena tauhid yang ada di hatinya.
Story Telling
Ada kisah yang sangat menyentuh tentang seorang sahabat yang memahami betul masalah tauhid ini. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Seorang laki-laki dari kalangan Anshar meninggal dunia di Quba'. Ketika jenazahnya diantarkan, Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya di antara kalian ada orang yang ditahan amalnya karena durhaka kepada kedua orang tuanya.' Mereka bertanya, 'Siapa dia, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Si Fulan.' Maka mereka pun mencarinya dan mendapati bahwa ia telah durhaka kepada kedua orang tuanya. Akhirnya ia (yang durhaka itu) meminta maaf kepada kedua orang tuanya, dan keduanya pun memaafkannya. Setelah itu, tidak lama kemudian ia meninggal dunia. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sekarang telah diampuni dosanya.'" (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Kisah ini menunjukkan bahwa amal seseorang bisa terhambat karena dosa, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama makhluk. Namun, inti dari hadits kita adalah bahwa tauhid adalah fondasi utama. Jika fondasi ini rusak karena syirik, maka seluruh bangunan amal akan roboh.
Kesimpulan Praktis
- Jaga kemurnian tauhid: Pelajari dan amalkan La ilaha illallah dengan benar, yaitu tidak beribadah kecuali kepada Allah saja.
- Jauhi segala bentuk syirik: Baik syirik besar maupun syirik kecil. Jangan pernah berdoa, bernazar, menyembelih, atau meminta pertolongan kepada selain Allah.
- Perbanyak istighfar dan taubat: Jika kita pernah terjerumus dalam perbuatan syirik kecil seperti riya', segeralah bertaubat dan perbaiki niat.
- Akhiri hidup dengan husnul khatimah: Berusahalah agar akhir hidup kita dalam keadaan bertauhid, karena keselamatan tergantung pada keadaan akhir hidup seseorang.
- Dakwahkan tauhid: Sebagaimana para rasul mendahulukan dakwah tauhid, kita pun hendaknya mengajak keluarga dan kerabat untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.