Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memberikan kabar gembira yang sangat besar bagi umat Islam, bahwa siapa pun yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun (tauhid yang murni) pasti akan masuk surga, meskipun ia pernah melakukan dosa-dosa besar seperti zina dan mencuri. Ini menunjukkan keutamaan tauhid yang merupakan kunci utama surga, dan bahwa dosa-dosa besar tidak membuat seseorang kekal di neraka selama ia mati dalam keadaan bertauhid.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
QS. An-Nisa' [4]: 48
<p dir="rtl">إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا</p>
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan-Nya dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar."
2. Hadits Shahih:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-Jana'iz, Bab: "Tentang Jenazah dan Siapa yang Terakhir Ucapannya La Ilaha Illallah", no. 1237. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Iman, Bab: "Barangsiapa Mati dalam Keadaan Tidak Menyekutukan Allah dengan Sesuatu, Pasti Masuk Surga", no. 94.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tegas bahwa siapa pun yang mati dalam keadaan bertauhid (tidak syirik) pasti masuk surga, meskipun ia memiliki dosa-dosa besar. Dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah atau ia akan disiksa sementara di neraka, namun akhirnya ia akan dikeluarkan dan masuk surga.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fath al-Bari) menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tauhid yang sangat agung. Beliau juga menyebutkan bahwa pertanyaan Abu Dzar "meskipun berzina dan mencuri?" adalah untuk menunjukkan betapa besarnya rahmat Allah, bukan untuk meremehkan dosa.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin) menjelaskan bahwa hadits ini tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk berbuat dosa. Justru, hadits ini adalah motivasi untuk memperbaiki tauhid dan tidak berputus asa dari rahmat Allah, serta tetap menjauhi dosa-dosa besar.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits yang paling menggembirakan dalam Islam. Mari kita bedah maknanya:
- "Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu" : Ini adalah inti dari tauhid. Seseorang yang mati dalam keadaan murni bertauhid, yaitu meyakini bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, dan tidak memalingkan ibadah sedikit pun kepada selain-Nya, maka ia dijamin masuk surga. Ini adalah syarat mutlak. Syirik adalah satu-satunya dosa yang tidak akan diampuni jika seseorang mati dalam keadaan itu tanpa bertaubat.
- "Meskipun berzina dan mencuri" : Pertanyaan Abu Dzar radhiyallahu 'anhu ini menunjukkan kekagumannya pada luasnya rahmat Allah. Jawaban Nabi ﷺ yang mengulangi "meskipun berzina dan mencuri" adalah penegasan bahwa tauhid adalah fondasi yang menyelamatkan. Dosa-dosa besar seperti zina dan mencuri, meskipun sangat keji, tidak membatalkan tauhid seseorang dan tidak membuatnya kekal di neraka.
- Pemahaman Ulama:
- Imam al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab "Tentang Jenazah dan Siapa yang Terakhir Ucapannya La Ilaha Illallah." Ini mengisyaratkan bahwa akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah) dengan mengucapkan kalimat tauhid adalah tanda seseorang meninggal dalam keadaan bertauhid.
- Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini adalah bantahan terhadap golongan Khawarij dan Mu'tazilah yang mengkafirkan pelaku dosa besar. Ahlus Sunnah wal Jama'ah berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar tetap muslim selama ia tidak melakukan syirik, dan urusan dosanya diserahkan kepada Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya langsung, atau menyiksanya di neraka sesuai kadar dosanya, lalu memasukkannya ke surga.
- Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa hadits ini tidak boleh dijadikan alasan untuk meremehkan dosa. Sebaliknya, seorang mukmin harus takut akan siksa Allah dan berusaha menjauhi semua dosa. Hadits ini adalah untuk memberikan harapan bagi orang yang telah terlanjur berbuat dosa agar segera bertaubat dan tidak berputus asa.
Story Telling
Kisah seorang laki-laki Bani Israil yang membunuh 99 orang, lalu ia bertanya kepada seorang rahib apakah taubatnya diterima. Rahib itu menjawab tidak, maka ia pun membunuh rahib itu sehingga genap 100 orang. Kemudian ia bertanya kepada seorang alim, dan alim itu menjawab, "Siapa yang menghalangimu untuk bertaubat? Pergilah ke negeri ini dan itu, karena di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah, maka beribadahlah bersama mereka, dan jangan kembali ke negerimu karena negerimu adalah negeri yang jelek." Maka pergilah ia, namun di tengah jalan ia meninggal. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih tentangnya. Maka Allah memerintahkan agar diukur jarak antara kedua negeri itu. Karena ia lebih dekat ke negeri yang baik, maka ia diampuni. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hikmah: Kisah ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah. Seorang pembunuh 100 orang pun masih bisa diampuni karena ia mati dalam keadaan beriman dan bertaubat. Ini sejalan dengan hadits Abu Dzar di atas, bahwa kunci utama adalah tauhid dan keimanan, meskipun dosa-dosa besar pernah dilakukan.
Kesimpulan Praktis
- Jaga Tauhid: Inilah kewajiban paling utama. Pelajari dan amalkan tauhid dengan benar, jauhi segala bentuk syirik besar dan kecil.
- Jangan Berputus Asa: Jika Anda pernah melakukan dosa besar, jangan pernah merasa bahwa Allah tidak akan mengampuni Anda. Segera bertaubat dengan sungguh-sungguh dan perbaiki diri.
- Jangan Meremehkan Dosa: Hadits ini bukan izin untuk berbuat dosa. Sebaliknya, ini adalah motivasi untuk tidak meremehkan rahmat Allah, namun tetap takut akan siksa-Nya. Seorang mukmin sejati adalah yang berada di antara khauf (takut) dan raja' (harap).
- Perbanyak Istighfar: Mohonlah ampunan kepada Allah setiap saat, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.