Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan bahwa setiap manusia yang hidup di malam saat Nabi ﷺ menyampaikan sabda tersebut tidak akan ada yang tersisa setelah seratus tahun berlalu. Ini adalah berita tentang kepastian kematian semua generasi saat itu, bukan tentang berakhirnya dunia secara keseluruhan. Para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam al-Bukhari menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa usia umat tertentu tidak akan melebihi seratus tahun setelah masa Nabi, bukan berarti tidak akan ada manusia lagi setelahnya.
---
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur’an (tentang kepastian kematian):
> كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
> "Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian."
> (QS. Ali Imran [3]: 185)
Hadits yang dijelaskan:
> حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ، قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ، قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَالِمٍ، وَأَبِي، بَكْرِ بْنِ سُلَيْمَانَ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ، قَالَ صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ ﷺ الْعِشَاءَ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ، فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ فَقَالَ " أَرَأَيْتَكُمْ لَيْلَتَكُمْ هَذِهِ، فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لاَ يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلَى ظَهْرِ الأَرْضِ أَحَدٌ ".
Terjemahan: Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Nabi ﷺ shalat Isya bersama kami di akhir hayat beliau. Setelah salam, beliau berdiri dan bersabda: ‘Apakah kalian melihat malam kalian ini? Sesungguhnya setelah seratus tahun dari malam ini, tidak akan tersisa seorang pun dari orang yang ada di atas permukaan bumi ini.’”
Kaitan dengan ulama dan kitab:
- Imam al-Bukhari mencantumkan hadits ini dalam Shahih al-Bukhari (Kitab Ilmu, Bab Sema’ dengan Ilmu, no. 116).
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (1/191) menjelaskan maknanya secara mendetail, bahwa maksudnya adalah generasi yang hidup saat itu akan punah dalam waktu seratus tahun.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/221, hadits no. 2537) menguatkan penafsiran bahwa ini bukan berarti dunia akan kosong total, melainkan kematian orang-orang yang sezaman dengan Nabi.
---
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, salah seorang sahabat yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Para ulama dari kalangan tabi’in dan generasi setelahnya memberikan perhatian besar terhadap hadits ini.
Makna Umum:
Nabi ﷺ menyampaikan bahwa semua manusia yang hidup pada saat shalat Isya di malam itu akan meninggal dunia sebelum seratus tahun berlalu dari malam tersebut. Ini bukan berarti dunia akan kosong tanpa manusia setelah seratus tahun, melainkan bahwa generasi yang mendengar sabda beliau saat itu semuanya akan wafat dalam jangka seratus tahun.
Pendapat Ulama:
- Imam al-Bukhari – Dengan meletakkan hadits ini dalam bab “Sema’ dengan Ilmu”, beliau mengisyaratkan pentingnya mendengar langsung ilmu dari ulama, karena keberadaan ulama itu terbatas oleh waktu.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (Fath al-Bari) – Beliau menukil perkataan Imam Malik bin Anas bahwa makna hadits ini adalah: “Tidak akan ada seorang pun yang hidup di masa Nabi saat itu yang masih hidup setelah seratus tahun.” Ini terbukti benar, karena semua sahabat yang sezaman dengan Nabi wafat dalam rentang waktu kurang dari seratus tahun setelah hijrah.
- Imam an-Nawawi – Dalam Syarh Shahih Muslim, beliau menegaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa masih ada manusia setelah seratus tahun, karena yang dimaksud adalah “setiap orang yang ada di permukaan bumi pada malam itu”. Jadi, setelah seratus tahun, mereka semua telah tiada, namun manusia lain (generasi baru) tetap lahir.
- Al-Layts bin Sa’d (salah satu perawi dalam sanad hadits) – Beliau seorang tabi’ut tabi’in yang terkenal sangat teliti dalam meriwayatkan dan memahami hadits. Beliau tidak menafsirkan secara harfiah bahwa dunia akan kosong, melainkan bahwa setiap generasi memiliki batas usia.
- Ibnu Katsir – Dalam tafsirnya, beliau mengaitkan hadits ini dengan firman Allah tentang kepastian kematian (QS. Ali Imran: 185) dan mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
Penerapan:
Para ulama ahlus sunnah (seperti Ibnu Umar yang meriwayatkan hadits ini) memahami bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk bersiap menghadapi kematian dan tidak terlena dengan dunia. Juga menjadi dalil bahwa ilmu harus diambil dari ulama yang masih hidup selama mereka ada, karena setelah mereka pergi, ilmunya bisa sirna.
---
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar – perawi hadits ini – sangat takut jika hadits yang beliau dengar dari Nabi disalahpahami. Ketika beliau mendengar Nabi bersabda demikian, beliau merasa bahwa kematian sudah dekat bagi generasi mereka. Maka, Ibnu Umar semakin giat menuntut ilmu dan menyebarkan hadits. Beliau tidak ingin satu pun hadits hilang begitu saja.
Suatu ketika, Sa’id bin al-Musayyib (seorang tabi’in besar) pernah ditanya tentang hadits ini. Beliau menjawab, “Maksud Nabi adalah bahwa tidak ada seorang pun dari sahabat yang masih hidup setelah seratus tahun dari malam itu. Dan itu benar, karena sahabat yang terakhir wafat adalah Abu Thufail al-Amiri yang meninggal sekitar tahun 100 H.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hajar dalam al-Ishabah)
Kisah ini mengajarkan kita bahwa para salaf sangat berhati-hati dalam menafsirkan hadits agar tidak keliru memahami maksudnya.
---
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini adalah kabar tentang kematian generasi tertentu, bukan kehancuran dunia.
- Kita harus mengambil pelajaran bahwa waktu kita terbatas, jangan menunda taubat dan amal saleh.
- Pentingnya mengambil ilmu dari ulama yang masih hidup, karena jika mereka pergi, ilmunya juga bisa berkurang.
- Jangan berprasangka buruk terhadap takdir Allah; semua sudah diatur dengan hikmah.
- Jadikan setiap malam sebagai pengingat akan kematian.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.