Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 1154 tentang Doa dan shalat malam yang diterima Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan amalan ringan dengan pahala besar bagi siapa saja yang terbangun di malam hari. Cukup dengan mengucapkan dzikir-dzikir yang diajarkan, lalu berdoa memohon ampunan atau doa lainnya, maka doanya akan dikabulkan. Jika kemudian ia berwudhu dan shalat, maka shalatnya pun akan diterima oleh Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

QS. Ali 'Imran [3]: 190-191

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ﴿١٩٠﴾ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'"

Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tahajud, Bab Keutamaan Siapa yang Terbangun di Malam Hari dan Shalat, no. 1154. Juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah.

Penjelasan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab yang menunjukkan keutamaan bangun malam dan shalat.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan dzikir dan doa di waktu malam, terutama saat bangun tidur. Beliau menukil perkataan Al-Awza'i (salah satu perawi hadits ini) bahwa doa pada waktu seperti ini sangat mustajab.
  • Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa dzikir-dzikir dalam hadits ini mengandung pujian kepada Allah dan pengakuan akan keesaan-Nya, yang merupakan sebab dikabulkannya doa.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhish Shalihin menjelaskan bahwa "تَعَارَّ" artinya terbangun dari tidur, bukan karena mimpi buruk atau terkejut, tetapi sekadar bangun. Beliau juga menekankan bahwa amalan ini adalah petunjuk Nabi ﷺ yang penuh berkah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung, mengajarkan kepada kita amalan yang ringan di lidah namun berat timbangannya di sisi Allah. Mari kita bedakan maknanya:

  1. "Barangsiapa terbangun di malam hari" (مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ)

Kata ta'arra (تَعَارَّ) menurut para ulama bahasa dan ahli hadits seperti Al-Awza'i dan Ibnu Hajar berarti terbangun dari tidur, bukan karena mimpi buruk atau sebab lain yang mengagetkan. Ini menunjukkan bahwa amalan ini bisa dilakukan oleh siapa saja yang terbangun, baik di awal, tengah, atau akhir malam.

  1. Dzikir yang diucapkan:
  • "Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qadiir." (Tiada Tuhan selain Allah, Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).
  • "Alhamdulillah, wa subhanallah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa billah." (Segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah).

Dzikir-dzikir ini adalah kalimat-kalimat yang paling dicintai Allah. Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Wabilush Shayyib menjelaskan bahwa dzikir ini mencakup pujian, pengagungan, dan pengakuan akan kelemahan diri di hadapan Allah.

  1. Kemudian berdoa:
  • "Allahumma ighfir lii" (Ya Allah, ampunilah aku) atau doa lainnya.
  • Sabda Nabi: "اسْتُجِيبَ" (doanya dikabulkan). Ini menunjukkan bahwa doa pada saat seperti ini memiliki keistimewaan, karena dilakukan setelah mengagungkan Allah dan mengakui kelemahan diri.
  1. Jika berwudhu dan shalat:
  • "فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلاَتُهُ" (maka jika ia berwudhu dan shalat, shalatnya diterima).
  • Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa shalat malam yang dilakukan setelah dzikir dan doa ini lebih utama, karena hati sudah tenang dan khusyuk.

Hikmah dari hadits ini:

  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar mengatakan bahwa bangun malam adalah waktu yang penuh keberkahan. Dzikir dan doa di waktu ini adalah sebab turunnya rahmat dan ampunan Allah.
  • Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih besar pahalanya daripada shalat di tengah malam." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah)

Story Telling

Diriwayatkan dari Mujahid bin Jabr rahimahullah, seorang tabi'in yang mulia, bahwa beliau berkata: "Ada dua rakaat yang dikerjakan seseorang di tengah malam lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah)

Kisah ini menunjukkan betapa para salaf sangat menghargai dan merindukan ibadah malam. Mereka tidak menganggapnya sebagai beban, melainkan sebagai kesempatan emas untuk bercakap-cakap dengan Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan sia-siakan bangun malam. Jika terbangun, jangan langsung tidur lagi, tetapi ucapkan dzikir dan doa ini.
  2. Amalkan dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ secara lengkap, karena di dalamnya terkandung pujian dan pengagungan kepada Allah.
  3. Perbanyak doa memohon ampunan di waktu malam, karena waktu tersebut adalah waktu mustajab.
  4. Usahakan untuk berwudhu dan shalat setelahnya, karena shalat malam memiliki keutamaan yang sangat besar.
  5. Ajarkan amalan ini kepada keluarga agar mereka juga meraih keberkahan yang sama.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.