Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil terpenting tentang tata cara shalat malam (tahajud) dan shalat tarawih. Dari hadits ini, kita belajar bahwa kebiasaan shalat malam Nabi ﷺ adalah sebelas raka'at, dengan rincian: empat raka'at (yang sangat panjang dan indah), empat raka'at lagi, lalu ditutup dengan tiga raka'at witir. Hadits ini juga mengajarkan bahwa tidurnya Nabi ﷺ tidak menghalangi kekhusyukan hatinya yang selalu terjaga mengingat Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 1147), dari jalur Abdullah bin Yusuf, dari Imam Malik, dari Sa'id bin Abi Sa'id al-Maqburi, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah ﷻ berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
(QS. Al-Isra' [17]: 79)
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa shalat malam Nabi ﷺ tidak pernah melebihi sebelas raka'at, dan ini adalah kebiasaan yang tetap, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Beliau juga menukil perkataan Imam Ahmad bin Hanbal yang menjadikan hadits ini sebagai dalil utama dalam masalah jumlah raka'at shalat tarawih.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
1. Jumlah Raka'at Shalat Malam Nabi ﷺ
Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa shalat malam Nabi ﷺ adalah sebelas raka'at. Namun beliau juga menyebutkan bahwa ada riwayat lain yang menyebutkan tiga belas raka'at. Perbedaan ini bukanlah pertentangan, melainkan karena kadang Nabi ﷺ shalat sebelas raka'at dan kadang tiga belas raka'at, tergantung kondisi dan keadaan.
2. Makna "Empat Raka'at"
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa yang dimaksud "empat raka'at" di sini bukanlah empat raka'at dengan satu salam, melainkan empat raka'at dengan dua salam (dua raka'at salam, dua raka'at salam). Ini berdasarkan hadits-hadits lain yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ shalat malam dua raka'at dua raka'at.
3. Panjang dan Indahnya Shalat Nabi ﷺ
Ungkapan Aisyah "jangan tanyakan tentang keindahan dan panjangnya" menunjukkan bahwa shalat Nabi ﷺ sangat panjang dan penuh kekhusyukan. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad menggambarkan bahwa Nabi ﷺ membaca surat-surat yang panjang, ruku' dan sujudnya lama, serta bacaan tasbihnya sangat dalam dan penuh makna.
4. Tidurnya Nabi ﷺ Sebelum Witir
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa jawaban Nabi ﷺ "kedua mataku tidur tetapi hatiku tetap terjaga" menunjukkan keistimewaan khusus yang Allah berikan kepada Nabi ﷺ. Ini bukan berarti kita boleh meniru hal ini secara mutlak, karena tidurnya Nabi ﷺ tidak membatalkan wudhu, sementara bagi umatnya, tidur dapat membatalkan wudhu.
5. Hikmah dari Hadits Ini
Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa shalat tarawih yang paling utama adalah sebelas raka'at, namun tidak mengapa menambah lebih dari itu karena Nabi ﷺ tidak membatasi secara mutlak. Beliau juga menegaskan bahwa yang terpenting adalah khusyuk dan tuma'ninah, bukan sekadar banyaknya raka'at.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Aisyah radhiyallahu 'anha ditanya tentang shalat malam Nabi ﷺ, beliau tidak hanya menyebutkan jumlah raka'atnya, tetapi juga menggambarkan keindahan dan panjangnya shalat tersebut. Ini mengingatkan kita pada kisah ketika Nabi ﷺ shalat malam hingga kaki beliau bengkak. Aisyah bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?" Maka Nabi ﷺ menjawab, "Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kisah ini menunjukkan bahwa ibadah Nabi ﷺ bukanlah karena keterpaksaan, melainkan karena kecintaan dan kerinduan untuk bermunajat kepada Allah. Shalat malam beliau adalah wujud syukur dan cinta, bukan sekadar rutinitas.
Kesimpulan Praktis
- Jumlah raka'at shalat malam yang paling utama adalah sebelas raka'at, dengan rincian: empat raka'at (dua salam), empat raka'at (dua salam), lalu tiga raka'at witir.
- Boleh menambah lebih dari sebelas raka'at, karena Nabi ﷺ tidak melarangnya, namun yang terpenting adalah kualitas shalat, bukan kuantitasnya.
- Shalat malam sebaiknya dilakukan dengan panjang dan khusyuk, bukan terburu-buru.
- Tidur sebelum witir tidak mengapa, selama seseorang yakin bisa bangun untuk witir, atau bisa witir sebelum tidur.
- Yang terpenting adalah keikhlasan dan kekhusyukan, sebagaimana shalat Nabi ﷺ yang penuh keindahan dan panjang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.