Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Allah ﷻ turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, menyeru hamba-Nya untuk berdoa, meminta, dan memohon ampun. Ini adalah waktu paling mulia untuk shalat malam, berdoa, dan beristighfar. Turunnya Allah ini nyata sesuai keagungan-Nya, tanpa menyerupai makhluk, dan menjadi dalil utama keutamaan qiyamul lail.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Al-Isra' [17]: 79
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
Terjemahan: "Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
QS. Al-Furqan [25]: 64
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
Terjemahan: "Dan orang-orang yang menghabiskan malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tahajud, Bab Doa dan Shalat di Akhir Malam, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. Sanadnya: Abdullah bin Maslamah ← Malik (Imam Malik bin Anas) ← Ibnu Syihab (Az-Zuhri) ← Abu Salamah dan Abu Abdillah Al-Aghar ← Abu Hurairah.
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dengan lafaz yang beragam.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) memasukkan hadits ini dalam Kitab Tahajud, menunjukkan pentingnya sebagai dalil utama keutamaan shalat malam.
- Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) meriwayatkan hadits ini dalam Al-Muwaththa', dan beliau adalah salah satu perawi dalam sanad ini.
- Az-Zuhri (wafat 124 H), seorang tabi'in besar, meriwayatkan hadits ini dari Abu Salamah dan Abu Abdillah Al-Aghar.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan panjang lebar hadits ini, termasuk bab tentang sifat turunnya Allah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan makna turunnya Allah dan waktu mustajabnya doa.
- Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahwa turunnya Allah adalah sifat fi'liyah (perbuatan) yang nyata, tanpa menyerupai makhluk.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa ini adalah waktu istimewa untuk berdoa dan beristighfar.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Allah ﷻ turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Turunnya Allah ini adalah turun yang hakiki, sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak menyerupai turunnya makhluk. Ini termasuk sifat fi'liyah Allah yang wajib kita imani tanpa menolak, tanpa menyerupakan (tasybih), dan tanpa menakwilkan secara bathil (ta'thil).
Pemahaman ulama dalam daftar:
- Imam Malik bin Anas ketika ditanya tentang turunnya Allah, beliau menjawab: "Turunnya Allah itu diketahui (maknanya), caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Ini menunjukkan sikap Ahlus Sunnah: menerima nash apa adanya tanpa menyerupakan.
- Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa hadits ini mutawatir dan diriwayatkan oleh banyak sahabat, sehingga tidak boleh ditolak atau ditakwilkan. Beliau berkata: "Allah turun dengan turun yang hakiki, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa turunnya Allah adalah rahmat dan kasih sayang-Nya kepada hamba yang bangun di sepertiga malam terakhir.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil disunnahkannya shalat malam dan berdoa di sepertiga malam terakhir, karena Allah langsung menyeru hamba-Nya.
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan bahwa waktu sepertiga malam terakhir adalah waktu paling utama untuk berdoa dan beristighfar, karena Allah menjawab, memberi, dan mengampuni.
- Syeikh as-Sa'di dalam Tafsir-nya menekankan bahwa ayat-ayat tentang qiyamul lail dan hadits ini menunjukkan betapa besar pahala dan keutamaan orang yang bangun di malam hari untuk beribadah.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama di luar daftar ada yang menakwilkan "turun" dengan "turunnya rahmat" atau "perintah". Namun, ulama dalam daftar (Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, Ibnu Hajar, an-Nawawi) menegaskan bahwa yang benar adalah menetapkan sifat turun secara hakiki tanpa menyerupakan, sesuai kaidah Ahlus Sunnah. Ini yang paling kuat karena sesuai zahir nash dan ijma' salaf.
Waktu sepertiga malam terakhir:
Menurut penjelasan ulama, sepertiga malam terakhir dihitung dari pertengahan malam hingga fajar. Misalnya, jika malam 12 jam, sepertiga terakhir adalah 4 jam terakhir sebelum subuh. Inilah waktu paling mustajab untuk berdoa, shalat tahajud, dan istighfar.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri (wafat 110 H), seorang tabi'in besar, sangat menjaga shalat malam. Beliau berkata: "Aku tidak pernah mendengar seorang mukmin yang bangun di sepertiga malam terakhir lalu berdoa, kecuali Allah akan mengabulkan doanya, atau mengampuni dosanya, atau memberinya kebaikan." Beliau juga berkata: "Bangunlah di malam hari, karena di sana ada waktu yang tidak akan ditolak doanya."
Sufyan ats-Tsauri (wafat 161 H) juga dikenal sebagai ahli ibadah malam. Beliau berkata: "Aku menghitung dosa-dosaku di malam hari, lalu aku menangis, dan aku memohon ampun kepada Allah di sepertiga malam terakhir. Aku merasa Allah mendengarku."
Fudail bin 'Iyadh (wafat 187 H) berkata: "Jika engkau tidak bisa bangun di malam hari, maka ketahuilah bahwa engkau terhalang oleh dosa-dosamu. Karena orang yang beriman pasti rindu untuk bermunajat kepada Allah di malam hari."
Hikmahnya: Para salaf memahami hadits ini bukan sekadar bacaan, tetapi mereka amalkan dengan bangun di sepertiga malam terakhir, berdoa, dan beristighfar. Mereka merasakan kedekatan dengan Allah pada waktu itu.
Kesimpulan Praktis
- Bangunlah di sepertiga malam terakhir untuk shalat tahajud, berdoa, dan beristighfar, karena itu waktu paling mustajab.
- Yakinlah bahwa Allah mendengar dan menjawab doa, memberi permintaan, dan mengampuni dosa pada waktu itu.
- Imanilah sifat turunnya Allah tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menolak, dan tanpa menakwilkan secara bathil.
- Jangan tinggalkan istighfar di malam hari, karena itu sebab ampunan dan keberkahan hidup.
- Ajarkan kepada keluarga untuk mencintai shalat malam, karena itu warisan para salafus shalih.
- Jika belum mampu bangun setiap malam, mulailah dengan satu atau dua malam dalam sepekan, lalu tingkatkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.