Penjelasan Hadits Bukhari No. 114 tentang Hadits tentang keinginan Nabi menulis wasiat terhalang perselisihan sahabat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan momen menjelang wafat Nabi ﷺ ketika beliau meminta alat tulis untuk menuliskan wasiat, namun karena sakit dan perbedaan pendapat di antara para sahabat, beliau akhirnya membatalkan niatnya. Kejadian ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan Al-Qur'an sebagai petunjuk yang mencukupi, sekaligus mengajarkan adab untuk tidak bertengkar di hadapan orang yang lebih utama, serta pentingnya menghormati keputusan Nabi ﷺ dalam kondisi apapun.

---

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang dimaksud – Shahih Al-Bukhari no. 114 dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Ayat terkait (tentang larangan mengangkat suara di atas Nabi):

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا۟ لَا تَرْفَعُوٓا۟ أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا۟ لَهُۥ بِٱلْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya amalanmu tidak terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat [49]: 2)

Penjelasan ulama dari daftar rujukan:

  1. Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (1/208) menjelaskan bahwa yang dimaksud Nabi ﷺ dalam hadits ini adalah menulis wasiat yang berisi petunjuk agar umat tidak sesat. Namun karena perbedaan pendapat para sahabat, beliau menghentikannya karena tidak suka perselisihan di hadapannya.
  2. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (11/89) menegaskan bahwa “حسبنا كتاب الله” bukanlah sikap menentang perintah Nabi, melainkan ungkapan keyakinan bahwa Al-Qur’an sudah sempurna sebagai petunjuk.
  3. Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan bahwa kejadian ini termasuk ujian bagi para sahabat, dan bahwa Al-Qur’an yang telah diturunkan sudah mencakup segala petunjuk.
  4. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari (1/196) menyebutkan bahwa penyesalan Ibnu ‘Abbas menunjukkan betapa berharganya setiap kata dari Nabi ﷺ, namun takdir Allah lebih utama.

---

Penjelasan Rinci

Makna dan konteks hadits:

Ketika Nabi ﷺ menderita sakit yang semakin parah (pada hari Kamis menjelang wafat), beliau meminta kertas dan tinta untuk menulis sesuatu yang akan mencegah umat dari kesesatan selamanya. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa isi tulisan itu adalah wasiat mengenai kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq atau petunjuk umum tentang keutamaan Al-Qur’an dan Sunnah.

Sahabat ‘Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, yang melihat beratnya sakit Nabi, berkata, “Sungguh sakit telah menguasai beliau, dan kami memiliki Kitab Allah, itu cukup bagi kami.” Maksudnya: jangan memberatkan beliau dalam kondisi sakit, karena wahyu sudah sempurna dalam Al-Qur’an. Namun sebagian sahabat lain (termasuk Ibnu ‘Abbas) berkeinginan agar Nabi menulis karena itu perintah langsung dari beliau. Terjadilah perdebatan dan suara gaduh.

Nabi ﷺ kemudian bersabda, “Pergilah dari sini, dan tidak sepatutnya ada perselisihan di hadapanku.” Beliau memerintahkan mereka keluar karena tidak menyukai pertengkaran. Setelah itu, Ibnu ‘Abbas keluar sambil menangis dan berkata, “Sungguh musibah besar itu adalah ketika mereka menghalangi Rasulullah ﷺ untuk menulis bukunya (wasiat).”

Pelajaran dari ulama:

  • Ibnu Hajar menekankan bahwa sikap ‘Umar bukanlah maksiat, melainkan ijtihad yang didasari kekhawatiran akan memberatkan Nabi. Namun beliau juga mencatat bahwa seandainya tulisan itu jadi, pasti akan menjadi tambahan petunjuk.
  • Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa kejadian ini tidak bertentangan dengan kesempurnaan Al-Qur’an, karena apa yang akan ditulis Nabi adalah bagian dari penjelasan sunnah yang juga merupakan petunjuk.
  • Ibnu Taymiyyah (dalam Majmu’ al-Fatawa) mengatakan bahwa perbedaan pendapat di kalangan sahabat adalah hal yang wajar dan tidak mengurangi kehormatan mereka. Yang penting adalah adab terhadap Nabi – yaitu tidak berdebat di hadapannya dan redha dengan keputusan beliau.
  • Asy-Syafi’i (dalam al-Umm) meriwayatkan bahwa sebagian sahabat memahami bahwa Nabi sudah memberikan petunjuk yang cukup lewat Al-Qur’an dan Sunnah yang telah ada, sehingga menulis wasiat di saat sakit bukanlah suatu keharusan.

Kesimpulan ilmiah: Hadits ini mengajarkan ketaatan kepada Nabi, tetapi juga mengajarkan bahwa terkadang kehendak Allah lebih dominan. Yang terpenting adalah berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah yang sudah ada, serta menjaga adab dalam perbedaan pendapat.

---

Story Telling

Kisah Ibnu ‘Abbas menangis

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas, bahwa setelah kejadian itu beliau keluar dari rumah Nabi sambil mengusap air matanya. Beliau berkata, “Sungguh musibah besar…”.

Ibnu Hajar menambahkan dalam Fath al-Bari bahwa Ibnu ‘Abbas sangat menyesali kehilangan kesempatan untuk mendapatkan tulisan langsung dari Nabi. Namun justru dari penyesalan itulah lahir semangat Ibnu ‘Abbas untuk menggali dan menghafal ilmu dari para sahabat, sehingga beliau menjadi salah satu ulama terbesar umat ini.

Hikmahnya: ketika sesuatu yang kita inginkan tidak terwujud karena takdir, janganlah berputus asa. Allah memiliki hikmah di balik setiap kejadian, dan bisa jadi justru melalui ‘kegagalan’ itulah lahir kebaikan yang lebih besar.

---

Kesimpulan Praktis

  1. Teguh dalam pegangan: Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih sudah cukup sebagai petunjuk hidup. Jangan pernah ragu akan kecukupannya.
  2. Adab dalam perselisihan: Jika terjadi perbedaan pendapat, jangan sampai menimbulkan keributan, apalagi di hadapan orang yang lebih alim atau pemimpin.
  3. Redha dengan takdir: Terkadang keinginan untuk kebaikan tidak terwujud karena hikmah Allah. Terimalah dengan lapang dada dan terus belajar.
  4. Hormati ulama: Ambil ilmu dari para pewaris Nabi – ulama yang berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salafush shalih.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?