Penjelasan Hadits Bukhari No. 1139 tentang Jumlah rakaat shalat malam Nabi ﷺ

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa shalat malam (tahajud) Nabi ﷺ tidak selalu sama jumlah rakaatnya; kadang tujuh, kadang sembilan, kadang sebelas rakaat — di luar dua rakaat sunnah Fajr. Ini menunjukkan bahwa jumlah rakaat shalat malam bersifat fleksibel, dan yang terpenting adalah kekhusyukan, kontinuitas, serta mengikuti contoh Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tahajud, Bab "Bagaimana Shalat Nabi ﷺ dan Berapa Banyak Nabi ﷺ Shalat di Malam Hari", dari jalur Masruq dari 'Aisyah رضي الله عنها.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، قَالَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ، قَالَ أَخْبَرَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي حَصِينٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ وَثَّابٍ، عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بِاللَّيْلِ‏.‏ فَقَالَتْ سَبْعٌ وَتِسْعٌ وَإِحْدَى عَشْرَةَ سِوَى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ‏.‏

Terjemahan: "Dari Masruq, ia berkata: Aku bertanya kepada 'Aisyah رضي الله عنها tentang shalat malam Rasulullah ﷺ, maka ia berkata: 'Tujuh, sembilan, atau sebelas rakaat, selain dua rakaat Fajr.'"

Ayat Al-Qur'an yang menjadi dasar shalat malam, di antaranya:

QS. Al-Muzzammil [73]: 2

قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا

Terjemahan: "Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil."

QS. Al-Isra' [17]: 79

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Terjemahan: "Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

Hadits lain yang mendukung, dari 'Aisyah رضي الله عنها dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Nabi ﷺ shalat malam sebelas rakaat, dan beliau tidak pernah meninggalkannya. Juga hadits dari Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما bahwa Nabi ﷺ shalat malam tiga belas rakaat (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

'Aisyah رضي الله عنها menjawab pertanyaan Masruq dengan menyebutkan tiga variasi jumlah rakaat shalat malam Nabi ﷺ: tujuh, sembilan, atau sebelas — di luar dua rakaat sunnah Fajr. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak selalu menetapkan satu jumlah yang kaku, melainkan menyesuaikan dengan keadaan, waktu, dan kemampuan.

Pemahaman ulama:

  1. Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) memasukkan hadits ini dalam Kitab Tahajud untuk menunjukkan bahwa jumlah rakaat shalat malam Nabi ﷺ bervariasi, dan bahwa bab ini membahas "bagaimana shalat Nabi ﷺ dan berapa banyak beliau shalat di malam hari."
  2. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbedaan riwayat tentang jumlah rakaat shalat malam Nabi ﷺ bukanlah pertentangan yang hakiki, melainkan menunjukkan variasi yang terjadi pada waktu yang berbeda. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian riwayat menyebutkan sebelas rakaat, sebagian tiga belas, sebagian tujuh, dan sebagian sembilan. Ibnu Hajar menguatkan bahwa shalat malam Nabi ﷺ yang paling sering adalah sebelas rakaat, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat shahih.
  3. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa hadits-hadits tentang jumlah rakaat shalat malam Nabi ﷺ dapat dikompromikan: beliau kadang shalat sebelas rakaat, kadang tiga belas, kadang tujuh, kadang sembilan — tergantung keadaan. Beliau juga menegaskan bahwa shalat malam itu tidak dibatasi jumlah tertentu secara mutlak, dan yang paling utama adalah mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam kualitas dan kontinuitas.
  4. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if Al-Ma'arif menyebutkan bahwa Nabi ﷺ menjaga shalat malam dan tidak meninggalkannya, bahkan ketika sakit beliau shalat dengan duduk. Ini menunjukkan betapa pentingnya shalat malam dalam kehidupan seorang Muslim.
  5. Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin menjelaskan bahwa shalat malam boleh dilakukan dengan jumlah rakaat yang berbeda-beda, dan yang terpenting adalah mengikuti contoh Nabi ﷺ. Beliau juga menekankan bahwa shalat malam adalah ibadah yang sangat dianjurkan dan memiliki keutamaan besar.

Perbedaan pendapat:

Di antara ulama daftar, tidak ada perbedaan yang signifikan tentang kebolehan variasi jumlah rakaat shalat malam. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa shalat malam Nabi ﷺ paling sering sebelas rakaat, namun beliau juga pernah shalat tujuh atau sembilan rakaat. Ini menunjukkan fleksibilitas dan kemudahan dalam ibadah malam.

Story Telling

Diriwayatkan dari 'Aisyah رضي الله عنها bahwa Nabi ﷺ shalat malam hingga kakinya bengkak. 'Aisyah bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?" Nabi ﷺ menjawab, "Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kisah ini menunjukkan bahwa shalat malam bukan hanya untuk meminta ampunan, tetapi juga sebagai bentuk syukur kepada Allah. Nabi ﷺ yang sudah dijamin ampunannya tetap bersungguh-sungguh dalam shalat malam, apalagi kita yang penuh dosa.

Dalam riwayat lain, 'Aisyah رضي الله عنها menggambarkan shalat malam Nabi ﷺ: beliau tidur di awal malam, kemudian bangun dan shalat. Jika beliau ingin tidur lagi, beliau tidur, dan ketika masuk waktu Fajr beliau shalat dua rakaat. (HR. Al-Bukhari).

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat malam itu fleksibel: Boleh tujuh, sembilan, atau sebelas rakaat (di luar sunnah Fajr). Yang terpenting adalah konsisten dan khusyuk.
  2. Ikuti contoh Nabi ﷺ: Utamakan sebelas rakaat, karena itu yang paling sering beliau lakukan, namun tidak mengapa jika ingin lebih sedikit atau lebih banyak.
  3. Jaga kontinuitas: Nabi ﷺ tidak meninggalkan shalat malam, bahkan ketika sakit. Usahakan untuk selalu shalat malam meskipun hanya dua rakaat.
  4. Shalat malam adalah tanda syukur: Seperti Nabi ﷺ, kita shalat malam bukan hanya untuk meminta, tetapi juga untuk bersyukur kepada Allah.
  5. Jangan berlebihan (ghuluw): Jangan memaksakan diri hingga memberatkan, karena agama ini mudah. Lakukan sesuai kemampuan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?