Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa panjangnya shalat malam Nabi ﷺ, sampai-sampai Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu yang ikut shalat bersamanya merasa hampir duduk karena terlalu lama berdiri. Ini mengajarkan keutamaan panjang berdiri dalam shalat malam, kesabaran dalam ibadah, dan adab seorang makmum terhadap imamnya. Hadits ini juga menjadi dalil bahwa shalat malam Nabi ﷺ tidaklah singkat, melainkan penuh kekhusyukan dan panjang.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tahajud, Bab Panjangnya Berdiri dalam Shalat Malam, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رضى الله عنه قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ لَيْلَةً، فَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سَوْءٍ. قُلْنَا وَمَا هَمَمْتَ قَالَ هَمَمْتَ أَنْ أَقْعُدَ وَأَذَرَ النَّبِيَّ ﷺ
Terjemahan: "Aku shalat bersama Nabi ﷺ pada suatu malam, dan beliau terus berdiri hingga aku hampir melakukan sesuatu yang buruk. Kami bertanya: 'Apa yang engkau hampir lakukan?' Ia menjawab: 'Aku hampir duduk dan meninggalkan Nabi ﷺ.'"
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan panjangnya shalat malam dan keutamaannya:
QS. Al-Muzzammil [73]: 20
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِّنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ
Terjemahan: "Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya, dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah dari Al-Qur'an."
QS. Al-Isra' [17]: 79
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
Terjemahan: "Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
Penjelasan Rinci
Hadits ini dipahami oleh para ulama dalam beberapa sisi penting:
Pertama: Panjangnya berdiri Nabi ﷺ dalam shalat malam.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebiasaan Nabi ﷺ yang sangat panjang dalam shalat malam, khususnya berdiri. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu yang merupakan sahabat yang kuat dan terbiasa beribadah pun merasa berat hingga hampir duduk. Ini menunjukkan bahwa panjangnya bukan hanya sedikit, tetapi sangat lama.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang panjangnya shalat malam Nabi ﷺ menunjukkan bahwa beliau kadang membaca ratusan ayat dalam satu rakaat, sebagaimana dalam hadits lain dari Hudzaifah dan Ibnu Mas'ud sendiri.
Kedua: Makna "hampir melakukan sesuatu yang buruk".
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang dimaksud Ibnu Mas'ud adalah keinginan untuk duduk di tengah shalat, padahal ia sedang menjadi makmum. Ini dianggap "buruk" karena:
- Duduk tanpa uzur saat imam berdiri adalah menyelisihi imam
- Meninggalkan Nabi ﷺ dalam keadaan beliau masih shalat berarti memutuskan mengikuti imam
- Ibnu Mas'ud sendiri menyebutnya sebagai "amr sau'" (perkara buruk), menunjukkan kesadaran adabnya yang tinggi
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa para sahabat sangat menjaga adab terhadap Nabi ﷺ, sampai-sampai keinginan duduk saja dianggap sesuatu yang buruk dalam hati mereka.
Ketiga: Adab makmum terhadap imam.
Hadits ini menjadi dalil bahwa makmum wajib mengikuti imam, dan tidak boleh mendahului atau menyelisihi imam tanpa uzur syar'i. Ibnu Mas'ud menahan diri dari keinginan duduk karena menghormati Nabi ﷺ dan menjaga keutuhan shalat berjamaah.
Keempat: Motivasi untuk panjang dalam shalat malam.
Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memiliki shalat malam yang sangat panjang, kadang berdiri hingga kaki beliau bengkak. Ini menunjukkan bahwa panjangnya shalat malam adalah sunnah yang dianjurkan bagi yang mampu, meskipun tidak wajib.
Kelima: Keringanan bagi yang lemah.
Meskipun Nabi ﷺ panjang dalam shalat, syariat juga memberi keringanan bagi yang tidak mampu, sebagaimana dalam QS. Al-Muzzammil [73]: 20 di atas. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak memberatkan, tetapi mendorong untuk berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang terkenal dengan kedekatannya kepada Nabi ﷺ dan banyak meriwayatkan hadits, suatu malam shalat tahajud bersama Nabi ﷺ. Malam itu Nabi ﷺ berdiri sangat lama, membaca ayat-ayat Al-Qur'an dengan tartil dan khusyuk. Ibnu Mas'ud yang berdiri di belakang beliau merasakan lelah yang luar biasa. Dalam hatinya muncul keinginan untuk duduk sebentar, tetapi ia segera menahan diri karena sadar bahwa itu berarti meninggalkan imam yang sedang berdiri.
Ketika shalat selesai, Nabi ﷺ atau para sahabat bertanya tentang apa yang hampir ia lakukan. Ibnu Mas'ud dengan jujur menjawab bahwa ia hampir duduk dan meninggalkan Nabi ﷺ. Jawaban ini bukanlah pengaduan, melainkan pengakuan akan kelemahan manusiawi sekaligus bukti betapa panjangnya shalat Nabi ﷺ.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan kisah ini dalam Shahih-nya, dan para ulama seperti Ibnu Hajar dan An-Nawawi menjadikannya sebagai dalil tentang panjangnya shalat malam Nabi ﷺ dan adab para sahabat terhadap beliau.
Kesimpulan Praktis
- Panjangkan shalat malam sesuai kemampuan. Nabi ﷺ mencontohkan shalat malam yang panjang, terutama dalam berdiri dan membaca Al-Qur'an. Namun, syariat memberi keringanan bagi yang lemah.
- Jaga adab terhadap imam. Makmum tidak boleh mendahului, menyelisihi, atau meninggalkan imam tanpa uzur syar'i. Keinginan Ibnu Mas'ud untuk duduk saja ia anggap sebagai "perkara buruk", menunjukkan betapa tinggi adab para sahabat.
- Bersabarlah dalam ibadah. Rasa lelah dan keinginan untuk mengurangi ibadah adalah ujian. Ibnu Mas'ud menahan diri, dan itu menjadi pelajaran bagi kita untuk bersabar.
- Jujurlah dalam menceritakan keadaan diri. Ibnu Mas'ud tidak menyembunyikan kelemahannya, tetapi menyampaikannya dengan jujur. Ini mengajarkan kita untuk tidak riya' dan mengakui keterbatasan diri.
- Ikutilah sunnah Nabi ﷺ dalam shalat malam. Baik dari segi panjangnya, kekhusyukannya, maupun adab-adabnya, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama seperti Ibnu Hajar, An-Nawawi, Ibnul Qayyim, dan Ibn Rajab.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.