Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan dua hal penting: pertama, amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus (kontinu), meskipun sedikit. Kedua, Nabi ﷺ biasa bangun untuk shalat malam (tahajud) ketika mendengar suara ayam berkokok, yang menunjukkan bahwa beliau bangun di sepertiga malam yang akhir. Ini adalah bimbingan agar kita konsisten dalam ibadah dan tidak berlebihan sehingga malah membuat kita lelah dan berhenti.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan, dengan perbaikan harakat sesuai kaidah):
حَدَّثَنِي عَبْدَانُ، قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ أَشْعَثَ، سَمِعْتُ أَبِي قَالَ، سَمِعْتُ مَسْرُوقًا، قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ أَىُّ الْعَمَلِ كَانَ أَحَبَّ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ قَالَتِ الدَّائِمُ. قُلْتُ مَتَى كَانَ يَقُومُ قَالَتْ يَقُومُ إِذَا سَمِعَ الصَّارِخَ.
Terjemahan: Dari Masruq, ia berkata: "Aku bertanya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha, 'Amal apakah yang paling dicintai oleh Nabi ﷺ?' Ia menjawab, 'Amal yang terus-menerus (dawam).' Aku bertanya lagi, 'Kapan beliau biasa bangun (untuk shalat malam)?' Ia menjawab, 'Beliau bangun ketika mendengar suara ayam berkokok.'" (HR. Al-Bukhari, Kitab Tahajud, Bab "Siapa yang Tidur Saat Sahur", no. 1132)
Hadits pendukung dari Shahih Al-Bukhari dan Muslim:
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah ﷺ bersabda:
"أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ"
"Amal yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah yang paling terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit." (HR. Al-Bukhari no. 6464, Muslim no. 783)
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "الصَّارِخَ" (ash-sharikh) di sini adalah ayam jantan (ayam berkokok), dan ini menunjukkan bahwa beliau bangun di sepertiga malam yang akhir, karena ayam biasanya berkokok menjelang fajar.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan amal yang kontinu dan larangan berlebihan dalam ibadah hingga menyebabkan putusnya amalan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan dari Masruq bin al-Ajda', seorang tabi'in terkemuka, yang bertanya langsung kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha. Ada dua pelajaran besar di sini:
1. Amal yang Paling Dicintai adalah yang Kontinu (Ad-Daim)
Aisyah radhiyallahu 'anha menjawab bahwa amal yang paling dicintai Nabi ﷺ adalah "الدَّائِمُ" (ad-daim), yaitu amal yang dilakukan secara terus-menerus dan istiqamah. Ini sejalan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari beliau bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa sedikit tapi kontinu lebih baik daripada banyak tapi terputus, karena amal yang kontinu akan terus mengalir pahalanya dan menjaga hati tetap terikat dengan Allah. Beliau juga menukil perkataan sebagian salaf: "Sesungguhnya aku lebih suka untuk istiqamah dalam amal yang sedikit daripada beramal banyak tapi terputus."
2. Waktu Bangun Nabi ﷺ untuk Shalat Malam
Aisyah radhiyallahu 'anha menjelaskan bahwa Nabi ﷺ bangun "ketika mendengar suara ayam berkokok" (الصَّارِخَ). Ini menunjukkan bahwa beliau bangun di sepertiga malam yang akhir, karena ayam jantan biasanya berkokok menjelang waktu sahur dan fajar. Ini adalah waktu yang paling utama untuk shalat malam, sebagaimana firman Allah:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
"Dan di waktu sahur (akhir malam) mereka memohon ampunan." (QS. Adz-Dzariyat [51]: 18)
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memuji orang-orang yang shalat malam dan beristighfar di waktu sahur, dan ini adalah waktu yang penuh berkah.
Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menafsirkan bahwa kebiasaan mereka adalah beristighfar di waktu sahur, yang menunjukkan keutamaan waktu tersebut untuk ibadah dan doa.
Catatan Penting:
Ada perbedaan riwayat tentang waktu bangun Nabi ﷺ. Dalam riwayat lain (HR. Al-Bukhari no. 1133), Aisyah berkata: "Beliau bangun ketika mendengar suara ayam, lalu beliau shalat." Ini menunjukkan konsistensi beliau dalam menjaga shalat malam di waktu yang paling utama. Namun, perlu dipahami bahwa ini adalah kebiasaan beliau, dan tidak berarti bahwa shalat malam hanya boleh dilakukan di waktu tersebut. Shalat malam boleh dilakukan kapan saja setelah shalat Isya hingga sebelum fajar, tetapi waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang akhir.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa jawaban Aisyah ini menunjukkan perhatian beliau terhadap waktu-waktu ibadah Nabi ﷺ, dan bahwa beliau tidak pernah meninggalkan shalat malam, baik dalam keadaan sehat maupun sakit, kecuali jika ada udzur syar'i.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Masruq bin al-Ajda' adalah seorang tabi'in yang sangat zuhud dan banyak beribadah. Suatu ketika, ia menangis tersedu-sedu saat membaca Al-Qur'an, dan ketika ditanya mengapa ia menangis, ia berkata: "Aku membaca firman Allah: 'Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu ia melaksanakannya dengan sempurna.' (QS. Al-Baqarah [2]: 124). Aku menangis karena aku tidak mampu melaksanakan perintah Allah dengan sempurna seperti Ibrahim."
Kisah ini menunjukkan bahwa para salaf sangat serius dalam beribadah dan selalu merasa kurang dalam ketaatan. Namun, mereka juga sangat menjaga istiqamah dan tidak berlebihan hingga membuat ibadah menjadi beban. Ini sejalan dengan jawaban Aisyah bahwa amal yang paling dicintai adalah yang kontinu, meskipun sedikit.
Kesimpulan Praktis
- Jaga istiqamah dalam ibadah — lebih baik sedikit tapi rutin daripada banyak tapi terputus. Mulailah dengan amalan kecil yang bisa dijaga setiap hari, seperti shalat sunnah rawatib, membaca Al-Qur'an beberapa ayat, atau dzikir pagi petang.
- Jangan berlebihan dalam ibadah — Rasulullah ﷺ mengingatkan agar kita tidak membebani diri di luar kemampuan, karena dikhawatirkan kita malah berhenti total. Beliau bersabda: "Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali ia akan dikalahkan olehnya." (HR. Al-Bukhari no. 39)
- Manfaatkan waktu sahur untuk ibadah — bangun di sepertiga malam yang akhir untuk shalat tahajud, berdoa, dan beristighfar adalah waktu yang sangat utama. Jika belum mampu setiap malam, mulailah dengan beberapa kali dalam seminggu secara rutin.
- Teladani Nabi ﷺ dalam kesederhanaan dan konsistensi — beliau adalah manusia terbaik, namun tetap menjaga amalan yang kontinu dan tidak berlebihan. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita untuk tidak mudah putus asa dan tidak mudah berpuas diri.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.