Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa sebaik-baik Islam adalah ketika seorang muslim mampu menjaga lisan dan tangannya dari menyakiti muslim lainnya. Ini menunjukkan bahwa kesempurnaan iman seseorang tercermin dari akhlaknya terhadap sesama, terutama dalam hal menjaga kehormatan dan keselamatan orang lain.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا
"Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nisa' [4]: 148)
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-Iman, Bab: Islam yang Mana yang Paling Utama, no. 11. Dari sahabat Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Riyadhus Shalihin (Bab Menjaga Lisan) menjelaskan bahwa hadits ini merupakan salah satu pokok ajaran Islam yang sangat penting. Beliau menukilkan perkataan Imam asy-Syafi'i rahimahullah: "Jika seseorang ingin berbicara, hendaknya ia berpikir terlebih dahulu. Jika yang akan diucapkan itu jelas baik dan mendatangkan pahala, barulah ia berbicara. Jika ragu, hendaknya ia diam hingga jelas kebaikannya."
Penjelasan Rinci
Hadits ini datang dari pertanyaan para sahabat kepada Rasulullah ﷺ tentang amalan Islam yang paling utama. Jawaban beliau sangat mengejutkan sekaligus mendidik: bukan tentang ibadah mahdhah seperti shalat atau puasa, melainkan tentang akhlak sosial, yaitu menjaga lisan dan tangan dari menyakiti orang lain.
Makna "Selamat dari Lisan dan Tangannya"
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitab Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa maksudnya adalah seorang muslim yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisannya (seperti ghibah, namimah, dusta, celaan, hinaan) dan tidak mengganggu dengan tangannya (seperti memukul, merampas, mencuri, atau segala bentuk kekerasan fisik). Ini menunjukkan bahwa iman yang sempurna harus dibuktikan dengan akhlak yang baik terhadap sesama.
Kaitan dengan Iman
Imam Ibn Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kesempurnaan Islam seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritualnya, tetapi juga dari bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain. Beliau menukilkan perkataan Imam al-Khattabi: "Hadits ini mengajarkan bahwa sebaik-baik muslim adalah yang paling baik akhlaknya dan paling aman bagi orang lain."
Peringatan dari Ulama Salaf
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Seorang mukmin itu tidak mencela, tidak melaknat, tidak berkata keji, dan tidak berbuat kasar." (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad). Ini menunjukkan bahwa menjaga lisan adalah ciri utama seorang mukmin sejati.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, suatu ketika Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut di antara kami adalah yang tidak memiliki dirham dan harta." Beliau bersabda, "Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia pernah mencela si fulan, menuduh si fulan, memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul si fulan. Maka pahala-pahalanya akan diberikan kepada mereka. Jika pahalanya habis sebelum dosanya selesai, maka dosa-dosa mereka akan dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka." (HR. Muslim)
Kisah ini sangat jelas menunjukkan betapa bahayanya lisan dan tangan yang menyakiti orang lain. Pahala ibadah bisa habis hanya karena lisan yang tidak terjaga.
Kesimpulan Praktis
- Jaga Lisan: Hindari ghibah, namimah, dusta, dan perkataan yang menyakiti hati orang lain.
- Jaga Tangan: Jangan mengambil hak orang lain, jangan memukul, dan jangan melakukan kekerasan.
- Cerminan Iman: Akhlak yang baik terhadap sesama adalah bukti kesempurnaan iman.
- Prioritas Amal: Sebaik-baik amal adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain dan paling menjaga keselamatan mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.