Penjelasan Hadits Bukhari No. 109 tentang Larangan berdusta atas nama Nabi dan ancaman neraka

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang dosa besar berdusta atas nama beliau. Maknanya, siapa pun yang dengan sengaja mengaitkan perkataan, perbuatan, atau ketetapan kepada Nabi ﷺ padahal beliau tidak pernah mengucapkan atau melakukannya, maka ia telah menyiapkan tempat duduknya di neraka. Ini menunjukkan bahwa berdusta atas nama Nabi ﷺ bukanlah dosa kecil, melainkan termasuk dosa besar yang diancam dengan neraka.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ، عَنْ سَلَمَةَ، قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: "مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ"

Makna ringkas: "Siapa yang (dengan sengaja) mengaitkan kepadaku apa yang tidak aku katakan, maka biarkanlah dia menempati tempat duduknya di neraka."

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-'Ilm, Bab Dosa Siapa yang Berdusta atas Nabi ﷺ, no. 109. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Muqaddimah, Bab At-Taghliẓ fī Man Kadzaba 'alā Rasūlillāh ﷺ.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-An'am [6]: 144

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا ۗ

"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?"

Ayat ini menunjukkan bahwa perbuatan mengada-adakan kebohongan atas nama Allah adalah kezaliman terbesar. Jika berdusta atas nama Allah saja demikian, maka berdusta atas nama Rasul-Nya ﷺ pun termasuk kezaliman yang sangat besar, karena berarti menetapkan syariat yang tidak berasal dari Allah.

Rujukan Ulama:

Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya berdusta atas nama Nabi ﷺ, dan bahwa hal itu termasuk dosa besar. Beliau menukil ijma' (kesepakatan) ulama tentang hal ini.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa berdusta atas nama Nabi ﷺ adalah dosa besar yang paling berat. Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama telah berijma' (bersepakat) bahwa berdusta atas nama Nabi ﷺ termasuk dosa besar, dan bahwa pelakunya diancam dengan neraka.

Beberapa poin penting dari hadits ini:

  1. Makna "مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ" — "Siapa yang mengaitkan kepadaku apa yang tidak aku katakan." Ini mencakup:
  • Mengatakan bahwa Nabi ﷺ bersabda sesuatu padahal beliau tidak pernah mengucapkannya.
  • Menyebutkan bahwa Nabi ﷺ melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya.
  • Mengatakan bahwa Nabi ﷺ menetapkan suatu hukum padahal beliau tidak menetapkannya.
  • Menyampaikan hadits palsu atau maudhu' (hadits yang dibuat-buat) dengan menyandarkannya kepada Nabi ﷺ.
  1. Makna "فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ" — "Maka biarkanlah dia menempati tempat duduknya di neraka." Ini adalah bentuk ancaman yang sangat keras. Artinya, jika dia benar-benar melakukan perbuatan itu, maka tempatnya telah disiapkan di neraka. Ini bukan berarti dia boleh memilih, tetapi ini adalah peringatan bahwa akibat perbuatannya adalah neraka.
  2. Perbedaan dengan riwayat lain: Dalam riwayat lain yang lebih panjang, Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Al-Bukhari no. 110, dari Abu Hurairah). Dalam riwayat Salama ini, ada tambahan "مَا لَمْ أَقُلْ" (apa yang tidak aku katakan), yang lebih menekankan bahwa dusta itu adalah mengaitkan sesuatu yang tidak pernah beliau ucapkan.
  3. Hikmah larangan ini: Karena Nabi ﷺ adalah sumber syariat setelah Al-Qur'an. Jika seseorang berdusta atas nama beliau, maka berarti dia telah menambah atau mengurangi ajaran Islam, dan ini akan menyesatkan umat. Imam Asy-Syafi'i dalam Ar-Risalah menegaskan bahwa berita dari Nabi ﷺ adalah hujjah (dalil) dalam agama, sehingga memalsukannya berarti merusak agama.
  4. Sikap ulama terhadap hadits palsu: Para ulama seperti Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, dan ulama hadits lainnya sangat ketat dalam menerima riwayat. Mereka memeriksa sanad (rantai periwayatan) dan matan (teks) hadits dengan sangat teliti. Ini semua adalah bentuk penjagaan terhadap sunnah Nabi ﷺ dari kebohongan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Muhammad bin Sirin — seorang ulama tabi'in yang terkenal wara' (hati-hati) — sangat berhati-hati dalam menyampaikan hadits. Beliau berkata: "Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian." (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Muqaddimah).

Imam Ibn Sirin juga dikenal tidak mau meriwayatkan hadits kecuali dari orang yang tsiqah (terpercaya). Beliau berkata: "Dahulu mereka (para sahabat) tidak bertanya tentang sanad. Ketika terjadi fitnah, mereka berkata: 'Sebutkanlah kepada kami nama-nama perawi kalian.' Maka dilihatlah, jika yang meriwayatkan adalah Ahlus Sunnah, haditsnya diterima. Jika yang meriwayatkan adalah ahli bid'ah, haditsnya ditolak."

Kisah ini menunjukkan betapa seriusnya para ulama salaf dalam menjaga hadits Nabi ﷺ. Mereka lebih memilih meninggalkan suatu riwayat daripada mengambil risiko menyampaikan kebohongan atas nama Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Wajib berhati-hati dalam menyampaikan hadits atau perkataan yang dinisbahkan kepada Nabi ﷺ. Jangan menyebarkan hadits palsu atau hadits yang belum jelas keshahihannya.
  2. Jika ragu tentang suatu hadits, jangan langsung menyebarkannya. Tanyakan kepada ulama atau ahli hadits yang terpercaya.
  3. Jangan mengarang perkataan lalu menisbahkannya kepada Nabi ﷺ, meskipun dengan niat baik, karena ini termasuk dosa besar.
  4. Menuntut ilmu dari sumber yang benar — dari ulama yang sanad keilmuannya bersambung kepada para ulama Ahlus Sunnah.
  5. Menjaga lisan dari menyampaikan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, terutama dalam urusan agama.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?