Penjelasan Hadits Bukhari No. 1068 tentang Bacaan Nabi saat shalat Subuh hari Jumat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan sunnah yang tetap dilakukan Nabi ﷺ: pada shalat Fajr hari Jumat, beliau membaca Surah As-Sajdah (Alif Lam Mim Tanzil) di rakaat pertama dan Surah Al-Insan (Hal ata 'alal-insan) di rakaat kedua. Tujuannya agar kaum muslimin mendengar dan merenungkan kandungan surah-surah agung itu, termasuk ayat-ayat tentang keimanan, kebangkitan, dan sujud. Ini termasuk sunnah yang dianjurkan diikuti, bukan kewajiban.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (Shahih Al-Bukhari no. 1068):

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقْرَأُ فِي الْجُمُعَةِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ ‏الم * تَنْزِيلُ‏ السَّجْدَةَ وَ‏هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ‏

"Pada hari Jumat, Nabi ﷺ biasa membaca Alif Lam Mim Tanzil (Surah As-Sajdah) dan Hal ata 'alal-insan (Surah Al-Insan) dalam shalat Fajr."

Ayat yang dibaca pada rakaat pertama — QS. As-Sajdah [32]: 1-2:

الم

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Terjemahan: "Alif Lam Mim. Turunnya kitab ini tidak ada keraguan padanya, dari Tuhan seluruh alam."

Ayat yang dibaca pada rakaat kedua — QS. Al-Insan [76]: 1:

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورًا

Terjemahan: "Bukankah telah datang kepada manusia suatu waktu, ketika ia belum menjadi sesuatu yang disebut?"

Keterkaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disunnahkannya membaca dua surah tersebut pada shalat Fajr hari Jumat, dan beliau menyebutkan hikmahnya bahwa keduanya memuat pokok-pokok akidah: tauhid, kenabian, hari kebangkitan, dan keadaan manusia di akhirat.
  • Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa dari Muslim) menyatakan bahwa membaca kedua surah ini adalah sunnah yang shahih dan tetap, bukan sekadar kebiasaan pribadi Nabi ﷺ yang ditinggalkan.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memilih surah-surah tertentu pada waktu-waktu tertentu karena kandungannya sesuai dengan keadaan waktu tersebut; hari Jumat adalah hari berkumpulnya manusia, dan kedua surah itu mengingatkan tentang asal penciptaan dan hari kebangkitan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Sujud Al-Qur'an, Bab Sujud Turunnya Surah. Sanadnya: Muhammad bin Yusuf → Sufyan (ats-Tsauri) → Sa'd bin Ibrahim → Abdurrahman (bin Hurmuz al-A'raj) → Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Makna hadits:

Nabi ﷺ menjadikan bacaan dua surah ini sebagai kebiasaan tetap pada shalat Fajr hari Jumat. Ini menunjukkan:

  1. Anjuran membaca surah tertentu pada waktu tertentu — bukan bid'ah, karena ada tuntunan langsung dari Nabi ﷺ.
  2. Hikmah pemilihan surah — As-Sajdah memuat ayat sajdah dan pokok-pokok keimanan; Al-Insan memuat tentang penciptaan manusia, nikmat Allah, dan balasan akhirat.

Pemahaman ulama daftar:

Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat bahwa membaca kedua surah ini pada Fajr Jumat adalah sunnah yang dianjurkan, berdasarkan hadits ini dan hadits serupa dari Ibnu Abbas. Ini juga menjadi pegangan Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak.

Imam asy-Syafi'i dalam Al-Umm menyebutkan bahwa membaca surah As-Sajdah dan Al-Insan pada Fajr Jumat termasuk perkara yang beliau sukai (mustahab), dan tidak ada larangan meninggalkannya karena ini sunnah, bukan wajib.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyimpulkan bahwa hadits ini menunjukkan:

  • Disunnahkannya membaca kedua surah tersebut pada rakaat pertama dan kedua shalat Fajr hari Jumat.
  • Bolehnya membaca surah panjang dalam shalat Fajr, karena kedua surah ini cukup panjang.
  • Kandungan kedua surah saling melengkapi: As-Sajdah tentang tauhid dan kebangkitan, Al-Insan tentang penciptaan dan balasan.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa hari Jumat adalah hari istimewa, dan Nabi ﷺ memilih bacaan yang mengingatkan umat tentang hari kebangkitan dan hisab, karena hari Jumat adalah "hari raya" mingguan kaum muslimin.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama (seperti Atha' bin Abi Rabah dan Tawus bin Kaysan dari kalangan Tabi'in) berpendapat bahwa membaca surah tertentu pada waktu tertentu adalah sunnah yang boleh ditinggalkan tanpa dosa. Sedangkan Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin menganjurkan untuk mengikuti sunnah ini karena merupakan petunjuk Nabi ﷺ yang shahih.

Yang paling kuat: Pendapat jumhur ulama dari daftar — termasuk Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, Ibnu Hajar, dan Ibn Qayyim — bahwa membaca Surah As-Sajdah dan Al-Insan pada Fajr Jumat adalah sunnah yang dianjurkan (mustahab), dan sebaiknya tidak ditinggalkan kecuali ada udzur.

Story Telling

Kisah dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau sangat memperhatikan bacaan Nabi ﷺ dalam shalat, termasuk pada shalat Fajr hari Jumat. Suatu ketika, beliau menyampaikan kepada para tabi'in: "Sesungguhnya Nabi ﷺ membaca Alif Lam Mim Tanzil dan Hal ata 'alal-insan pada shalat Fajr hari Jumat." Para tabi'in seperti Sa'id bin al-Musayyib dan Al-Zuhri menerima riwayat ini dan mengamalkannya.

Hikmah: Abu Hurairah menunjukkan kepada kita pentingnya memperhatikan sunnah-sunnah Nabi ﷺ yang mungkin jarang diketahui orang, dan menyampaikannya dengan amanah. Para tabi'in pun menerima dengan lapang dada dan mengamalkannya, karena mereka tahu bahwa ini adalah petunjuk Nabi ﷺ yang shahih.

Kesimpulan Praktis

  1. Disunnahkan membaca Surah As-Sajdah pada rakaat pertama dan Surah Al-Insan pada rakaat kedua shalat Fajr hari Jumat.
  2. Ini adalah sunnah yang shahih dari Nabi ﷺ, bukan bid'ah, dan tidak ada dosa bagi yang meninggalkannya karena ini bukan wajib.
  3. Hikmahnya: mengingatkan kaum muslimin tentang tauhid, kebangkitan, penciptaan manusia, dan balasan akhirat pada hari yang penuh berkah.
  4. Anjuran: bagi imam shalat Fajr Jumat, sebaiknya membaca kedua surah ini agar jamaah mendapatkan keutamaan dan mengingat kandungannya.
  5. Bagi yang shalat sendiri, boleh membaca surah lain, tetapi mengikuti sunnah ini lebih utama.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?