Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 1067 tentang Sujud tilawah saat membaca Al-Qur'an dan hukumnya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa sujud tilawah yang dilakukan Nabi ﷺ dan para sahabat saat membaca Surat An-Najm di Makkah. Ada seorang lelaki tua yang tidak sujud, tetapi hanya mengambil segenggam kerikil atau tanah lalu mengangkatnya ke dahinya, seraya berkata, "Ini sudah cukup bagiku." Abdullah bin Mas'ud kemudian menyaksikan bahwa lelaki tua itu mati dalam keadaan kafir. Hadits ini menunjukkan bahwa sujud tilawah adalah ibadah yang agung, dan orang yang meremehkannya dengan kesombongan bisa terancam kebinasaan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Sujud Al-Qur'an, Bab "Apa yang Dikatakan tentang Sujud Al-Qur'an dan Sunnahnya", no. 1067, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang Anda sebutkan sudah benar dan sesuai dengan lafazh yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari.

Dalil Al-Qur'an terkait sujud tilawah, di antaranya firman Allah tentang sujudnya makhluk kepada-Nya:

وَلِلّٰهِ يَسْجُدُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ مِنْ دَاۤبَّةٍ وَّالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ

"Dan hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa, dan (begitu pula) para malaikat, dan mereka tidak menyombongkan diri." (QS. An-Nahl [16]: 49)

Juga firman Allah tentang sujud dalam Surat An-Najm yang dibaca Nabi ﷺ:

فَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ وَاعْبُدُوْا ۩

"Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (QS. An-Najm [53]: 62)

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk kisah lelaki tua tersebut. Beliau menyebutkan bahwa lelaki tua itu adalah Umayyah bin Khalaf — salah satu tokoh Quraisy yang keras memusuhi Islam dan kemudian terbunuh dalam keadaan kafir pada Perang Badar. Ini dikuatkan oleh riwayat-riwayat lain yang menyebutkan namanya secara jelas.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Disyariatkannya Sujud Tilawah

Hadits ini menunjukkan bahwa sujud tilawah adalah sunnah yang dicontohkan langsung oleh Nabi ﷺ. Beliau membaca Surat An-Najm di Makkah, lalu sujud ketika sampai pada ayat sajdah, dan para sahabat yang hadir ikut sujud bersama beliau. Ini menunjukkan bahwa sujud tilawah dilakukan baik ketika membaca Al-Qur'an maupun mendengarnya.

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa para ulama sepakat tentang disyariatkannya sujud tilawah, hanya saja mereka berbeda pendapat tentang hukumnya: apakah wajib atau sunnah. Pendapat yang lebih kuat — dan dipilih oleh jumhur ulama termasuk Imam Syafi'i dan Imam Ahmad — adalah sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan), bukan wajib. Dalilnya, di antaranya, hadits ini sendiri: Nabi ﷺ sujud dan para sahabat ikut sujud, tetapi beliau tidak memerintahkan lelaki tua itu untuk mengulang sujudnya.

2. Sikap Sombong yang Membinasakan

Lelaki tua itu tidak sujud karena kesombongan dan keengganan untuk tunduk kepada Allah. Ia mengambil kerikil dan mengangkatnya ke dahi sebagai bentuk penghinaan dan ejekan terhadap ibadah sujud. Ia berkata, "Ini sudah cukup bagiku" — seolah-olah sujud yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim ketika menafsirkan Surat An-Najm menyebutkan kisah ini dan menegaskan bahwa lelaki tua itu adalah Umayyah bin Khalaf. Beliau juga mengutip perkataan Abdullah bin Mas'ud: "Aku melihatnya terbunuh dalam keadaan kafir." Ini adalah bukti nyata bahwa meremehkan syiar Allah dan bersikap sombong terhadap ibadah bisa menjadi sebab kebinasaan seseorang.

3. Sujud Tilawah sebagai Syiar Keimanan

Sujud adalah puncak ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya. Ketika seseorang membaca atau mendengar ayat sajdah, ia dianjurkan untuk segera sujud sebagai bentuk pengagungan terhadap firman Allah. Orang yang enggan melakukannya karena sombong, maka ia menyerupai sifat iblis yang enggan sujud kepada Adam karena kesombongan.

Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad Al-Ma'ad menjelaskan bahwa sujud tilawah termasuk ibadah yang agung dan memiliki keutamaan besar. Beliau menyebutkan bahwa setan akan menjauh dan menangis ketika anak Adam membaca ayat sajdah lalu sujud, karena ia diperintahkan sujud namun enggan, sedangkan anak Adam melakukannya dengan patuh.

4. Pelajaran tentang Akhirat yang Tidak Bisa Ditebak

Hadits ini juga mengajarkan bahwa seseorang yang hari ini terlihat kuat dan perkasa — seperti Umayyah bin Khalaf yang merupakan pembesar Quraisy — bisa saja mati dalam keadaan kafir. Sebaliknya, orang-orang yang hari ini tertindas dan lemah — seperti para sahabat yang disiksa — bisa mati dalam keadaan beriman dan mulia. Ini menjadi peringatan bagi kita untuk tidak pernah merasa aman dari akhir kehidupan yang buruk, dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan tentang Umayyah bin Khalaf ini. Ia adalah salah satu tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Islam. Dalam Perang Badar, ia tertangkap oleh kaum Muslimin. Ketika itu, Bilal bin Rabah — mantan budak yang dulu disiksa oleh Umayyah dengan kejam — melihatnya dan berseru, "Ini adalah kepala kekufuran, Umayyah bin Khalaf! Aku tidak akan selamat jika ia selamat!"

Maka para sahabat pun mengejar dan membunuh Umayyah bin Khalaf di medan perang. Abdullah bin Mas'ud kemudian bersaksi bahwa ia melihat lelaki tua yang dulu meremehkan sujud tilawah itu terbunuh dalam keadaan kafir.

Hikmahnya: Kesombongan terhadap ibadah adalah awal dari kehancuran. Orang yang hari ini menolak sujud kepada Allah karena angkuh, maka jangan heran jika akhir hayatnya pun berakhir dengan kekufuran. Sebaliknya, ketundukan dan kerendahan hati kepada Allah adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersegera sujud tilawah ketika membaca atau mendengar ayat sajdah, baik di dalam maupun di luar shalat, sebagai bentuk ketundukan kepada Allah.
  2. Jangan meremehkan ibadah sekecil apa pun, karena meremehkan syiar Allah bisa menjadi sebab kebinasaan.
  3. Jauhkan diri dari kesombongan, terutama dalam beribadah. Ibadah yang dilakukan dengan sombong dan enggan adalah ciri orang munafik.
  4. Ambil pelajaran dari akhir hayat seseorang — jangan pernah merasa aman dari su'ul khatimah, dan perbanyak doa agar Allah memantapkan hati kita di atas iman hingga akhir hayat.
  5. Sujud adalah momen terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya — perbanyaklah doa ketika sujud, karena di saat itulah doa sangat mustajab.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.