Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dengan suara keras (jahr) dalam shalat gerhana, dan shalat gerhana dilakukan dengan dua raka'at yang masing-masing raka'atnya memiliki dua kali rukuk dan dua kali sujud. Ini adalah sunnah yang diajarkan oleh Nabi ﷺ, dan siapa yang menyelisihinya berarti telah menyimpang dari petunjuk beliau.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
"Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr [59]: 7)
Ayat ini menunjukkan kewajiban mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam segala hal, termasuk tata cara shalat gerhana.
Hadits:
Hadits yang diriwayatkan oleh 'Aisyah radhiyallahu 'anha ini terdapat dalam Shahih Al-Bukhari no. 1065. Dalam hadits ini, 'Aisyah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membaca dengan suara keras dalam shalat gerhana, dan beliau melakukan empat rukuk dan empat sujud dalam dua raka'at.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam kitab shahihnya.
- Al-Auza'i (salah seorang ulama tabi'ut tabi'in) meriwayatkan dari Az-Zuhri tentang hal ini.
- Az-Zuhri (Muhammad bin Muslim bin Syihab) adalah seorang tabi'in besar yang meriwayatkan dari 'Urwah bin Az-Zubair.
- 'Urwah bin Az-Zubair adalah seorang tabi'in yang meriwayatkan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan beberapa hal penting tentang shalat gerhana:
Pertama: Bacaan dengan Suara Keras (Jahr)
Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dengan suara keras dalam shalat gerhana. Ini adalah sunnah yang tetap. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Al-Majmu' menjelaskan bahwa jahr (bacaan keras) dalam shalat gerhana adalah sunnah berdasarkan hadits ini. Beliau berkata: "Disunnahkan menjahrkan bacaan dalam shalat gerhana berdasarkan hadits shahih dari 'Aisyah." (Lihat: Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab, 5/50)
Kedua: Tata Cara Shalat Gerhana
Shalat gerhana dilakukan dengan dua raka'at, dan setiap raka'at memiliki dua kali rukuk dan dua kali sujud. Ini berbeda dengan shalat biasa yang hanya satu kali rukuk dalam setiap raka'at. Rinciannya:
- Takbiratul ihram
- Membaca Al-Fatihah dan surat dengan suara keras
- Rukuk (pertama)
- I'tidal (bangun dari rukuk) sambil membaca "Sami'allahu liman hamidah, Rabbana wa lakal hamd"
- Membaca Al-Fatihah dan surat lagi (kedua kalinya)
- Rukuk (kedua)
- I'tidal
- Sujud dua kali
- Berdiri untuk raka'at kedua dengan cara yang sama
Ketiga: Peringatan bagi yang Menyimpang
Dalam hadits ini, Az-Zuhri bertanya kepada 'Urwah tentang 'Abdullah bin Az-Zubair yang shalat gerhana hanya dengan dua raka'at seperti shalat subuh (tanpa dua rukuk dalam satu raka'at). 'Urwah menjawab: "Dia telah menyimpang dari sunnah." Ini menunjukkan bahwa tata cara shalat gerhana yang benar adalah dengan dua rukuk dalam setiap raka'at, dan siapa yang melakukannya dengan cara lain berarti telah menyelisihi sunnah Nabi ﷺ.
Keempat: Hikmah Shalat Gerhana
Shalat gerhana disyariatkan sebagai bentuk rasa takut dan tunduk kepada Allah ketika terjadi fenomena alam yang luar biasa. Ini bukanlah karena gerhana disebabkan oleh kematian atau kelahiran seseorang, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Tidaklah terjadi gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dan shalatlah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Story Telling
Diriwayatkan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Pada masa Rasulullah ﷺ terjadi gerhana matahari. Maka beliau berdiri dan shalat bersama manusia. Beliau membaca dengan panjang, lalu rukuk dengan panjang, lalu mengangkat kepala, lalu membaca dengan panjang, lalu rukuk dengan panjang, lalu mengangkat kepala, lalu sujud dengan panjang. Kemudian beliau berdiri untuk raka'at kedua dan melakukan seperti itu. Setelah selesai, matahari telah kembali terang. Lalu beliau berkhutbah dan memuji Allah, kemudian bersabda: 'Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Tidaklah terjadi gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihatnya, maka bersegeralah untuk berdzikir kepada Allah, berdoa, dan bersedekah.'" (HR. Al-Bukhari no. 1060 dan Muslim no. 901)
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa shalat gerhana adalah ibadah yang agung yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan, dan di dalamnya terdapat pelajaran bahwa segala fenomena alam adalah di bawah kekuasaan Allah semata.
Kesimpulan Praktis
- Shalat gerhana disunnahkan dengan bacaan keras (jahr).
- Shalat gerhana dilakukan dua raka'at, setiap raka'at memiliki dua kali rukuk dan dua kali sujud.
- Setelah shalat, disunnahkan untuk berkhutbah dan mengingatkan manusia tentang kekuasaan Allah.
- Hendaknya kita bersegera melakukan shalat, doa, dan sedekah ketika melihat gerhana.
- Janganlah kita menyelisihi sunnah Nabi ﷺ dalam tata cara shalat gerhana.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.