Penjelasan Hadits Bukhari No. 1061 tentang Khutbah setelah shalat gerhana

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa setelah shalat gerhana, Nabi ﷺ menyampaikan khutbah, memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, lalu membuka khutbah dengan kalimat "Amma ba'du". Ini menjadi dalil bahwa khutbah gerhana disyariatkan, dan bahwa memuji Allah serta memulai khutbah dengan "Amma ba'du" adalah sunnah yang dicontohkan Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu 'anha, dan dicatat oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Gerhana (Kitab al-Kusuf), Bab Pernyataan Imam dalam Khutbah Gerhana (no. 1061).

Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan perintah shalat dan mengingat Allah dalam keadaan khauf (takut) maupun keadaan lain:

QS. Al-Baqarah [2]: 239

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا ۖ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

"Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui."

Ayat ini menunjukkan bahwa mengingat Allah dan menegakkan shalat tetap diperintahkan dalam segala keadaan, termasuk saat terjadi peristiwa menakutkan seperti gerhana.

QS. Al-Jumu'ah [62]: 9

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum'at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Ayat ini menjadi dasar umum bahwa khutbah merupakan bagian dari "dzikrullah" (mengingat Allah) yang disyariatkan setelah shalat berjamaah tertentu.

Hadits terkait dari Aisyah radhiyallahu 'anha dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Maka apabila kalian melihat hal itu, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah."

Hadits ini menjadi landasan disyariatkannya shalat gerhana, dan hadits Asma' dalam riwayat Al-Bukhari no. 1061 ini melengkapinya dengan penjelasan bahwa setelah shalat, Nabi ﷺ berkhutbah.

Kaitan dengan ulama: Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bab ini menunjukkan disyariatkannya khutbah setelah shalat gerhana, dan bahwa imam menyampaikan khutbah kepada jamaah. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan bahwa khutbah gerhana hukumnya sunnah, mengikuti perbuatan Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan potongan dari riwayat panjang Asma' binti Abu Bakar tentang peristiwa gerhana matahari pada masa Nabi ﷺ. Dalam riwayat ini, Asma' menyebutkan bahwa setelah Nabi ﷺ menyelesaikan shalat gerhana, matahari telah kembali bersinar (tajallat asy-syamsu), lalu beliau menyampaikan khutbah.

Beberapa poin penting yang dipahami para ulama:

Pertama: Disyariatkannya khutbah setelah shalat gerhana.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa imam menyampaikan khutbah setelah shalat gerhana. Beliau juga menyebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah khutbah dilakukan sebelum atau sesudah shalat. Namun yang paling kuat — sebagaimana ditunjukkan hadits ini — adalah bahwa khutbah dilakukan setelah shalat, karena Nabi ﷺ "fanṣarafa" (selesai/berpaling dari shalat) kemudian berkhutbah.

Kedua: Memuji Allah sebelum khutbah.

Nabi ﷺ memulai khutbahnya dengan "ḥamidal-Lāha bimā huwa ahluhu" — memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya. Ini menunjukkan bahwa memuji Allah (hamdalah) adalah pembuka khutbah yang dicontohkan Nabi ﷺ. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa khutbah-khutbah Nabi ﷺ selalu dimulai dengan hamdalah, baik khutbah Jum'at, khutbah 'Idain, khutbah gerhana, maupun khutbah hajat lainnya.

Ketiga: Kalimat "Amma ba'du".

Kalimat "Amma ba'du" (أَمَّا بَعْدُ) adalah kalimat pemisah yang digunakan Nabi ﷺ untuk membuka inti khutbah setelah hamdalah dan syahadat. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa "Amma ba'du" adalah kalimat yang digunakan Nabi ﷺ untuk memisahkan antara pembukaan (muqaddimah) dan isi khutbah. Imam an-Nawawi juga menegaskan bahwa disunnahkan memulai khutbah dengan hamdalah, syahadat, lalu "Amma ba'du".

Keempat: Hikmah khutbah gerhana.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ dalam khutbah gerhana mengajarkan kepada umat tentang kebesaran Allah, mengingatkan akan tanda-tanda kekuasaan-Nya, serta menganjurkan amal-amal saleh seperti doa, takbir, shalat, sedekah, dan memerdekakan hamba sahaya. Khutbah ini berfungsi sebagai peringatan (tadzkir) agar manusia kembali kepada Allah saat melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Kelima: Perbedaan pendapat tentang jumlah khutbah.

Sebagian ulama berpendapat bahwa khutbah gerhana hanya satu kali, sebagian lain berpendapat dua kali seperti khutbah Jum'at. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam riwayat-riwayat yang ada, tidak secara tegas disebutkan jumlah khutbah. Namun yang paling kuat menurut beliau adalah bahwa khutbah gerhana cukup satu kali, karena tidak ada dalil tegas yang menunjukkan dua khutbah dengan duduk di antara keduanya sebagaimana khutbah Jum'at.

Story Telling

Dikisahkan oleh Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu 'anha — sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari ini — bahwa pada suatu hari terjadi gerhana matahari pada masa Nabi ﷺ. Asma' menceritakan bahwa ia datang ke masjid, dan mendapati Nabi ﷺ sedang shalat bersama para sahabat. Beliau berdiri sangat lama, kemudian rukuk sangat lama, kemudian berdiri lagi, kemudian rukuk lagi, kemudian sujud. Setelah shalat selesai, matahari telah kembali bersinar.

Kemudian Nabi ﷺ berdiri menyampaikan khutbah. Beliau memuji Allah dengan pujian yang paling layak bagi-Nya, lalu membuka khutbahnya dengan "Amma ba'du". Dalam khutbah itu, beliau mengingatkan para sahabat tentang kebesaran Allah dan tanda-tanda kekuasaan-Nya, serta menganjurkan berbagai amal saleh.

Hikmah: Peristiwa ini mengajarkan bahwa ketika terjadi fenomena alam yang menakjubkan atau menakutkan, seorang muslim hendaknya segera kembali kepada Allah dengan shalat, doa, dan amal saleh — bukan sibuk dengan tahayul atau spekulasi. Nabi ﷺ juga mengajarkan bahwa khutbah adalah sarana pendidikan dan peringatan bagi umat.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat gerhana disyariatkan dan setelahnya imam menyampaikan khutbah kepada jamaah.
  2. Khutbah gerhana dimulai dengan hamdalah — memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya.
  3. Kalimat "Amma ba'du" digunakan sebagai pembuka inti khutbah, mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
  4. Isi khutbah gerhana hendaknya berisi peringatan tentang kebesaran Allah, tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan anjuran amal saleh seperti doa, takbir, sedekah, dan shalat.
  5. Saat terjadi gerhana, seorang muslim dianjurkan untuk shalat, berdoa, bertakbir, bersedekah, dan kembali kepada Allah — bukan sibuk dengan mitos atau spekulasi yang tidak berdasar.
  6. Mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam tata cara khutbah, baik dalam pembukaan maupun isinya, adalah bentuk ketaatan dan kecintaan kepada beliau.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?