Penjelasan Hadits Bukhari No. 1060 tentang Gerhana bukan karena kematian seseorang, melainkan tanda kekuasaan Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita bahwa gerhana matahari dan bulan adalah tanda kebesaran Allah, bukan pertanda kematian atau kelahiran seseorang. Ketika terjadi gerhana, kita diperintahkan untuk segera mengingat Allah dengan berdoa dan melaksanakan shalat gerhana sampai gerhana tersebut hilang. Ini adalah bentuk tauhid dan pengagungan kepada Allah, serta bantahan terhadap keyakinan jahiliyah yang mengaitkan gerhana dengan peristiwa duniawi.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks hadits yang Anda berikan sudah lengkap dan benar. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, dan dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Gerhana, Bab Doa dalam Gerhana (no. 1060).

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

"Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja beribadah." (QS. Fushshilat [41]: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa matahari dan bulan adalah makhluk ciptaan Allah yang tunduk pada aturan-Nya. Mereka bukanlah sesembahan, dan peristiwa yang terjadi pada keduanya (termasuk gerhana) adalah murni kehendak Allah, bukan karena sebab-sebab takhayul.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Bantahan terhadap Keyakinan Jahiliyah

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa keyakinan orang-orang jahiliyah yang mengaitkan gerhana dengan kematian atau kelahiran seseorang adalah batil. Beliau menegaskan bahwa Allah menjadikan gerhana sebagai peringatan bagi hamba-hamba-Nya, bukan sebagai berkabung atas kematian seseorang. Ini adalah bentuk kemurnian tauhid yang diajarkan Nabi ﷺ.

2. Gerhana adalah Tanda Kekuasaan Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa gerhana adalah salah satu tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan kebesaran-Nya. Allah memperlihatkan tanda-tanda ini kepada hamba-Nya agar mereka merasa takut, khusyuk, dan kembali kepada-Nya. Beliau juga menegaskan bahwa shalat gerhana disyariatkan sebagai bentuk ibadah dan penghambaan diri kepada Allah ketika melihat tanda-tanda kebesaran-Nya.

3. Perintah Berdoa dan Shalat

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ketika terjadi gerhana, umat Islam diperintahkan untuk segera berdoa, berdzikir, dan melaksanakan shalat gerhana. Ini adalah bentuk pengagungan kepada Allah dan permohonan agar Allah menghilangkan tanda tersebut. Shalat gerhana disyariatkan secara berjamaah di masjid, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ.

4. Hikmah di Balik Peristiwa Gerhana

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menciptakan fenomena alam seperti gerhana untuk mengingatkan hamba-Nya akan kekuasaan dan keagungan-Nya. Manusia sering kali lalai dan terlena, maka Allah memperlihatkan tanda-tanda ini agar mereka kembali mengingat-Nya dengan rasa takut dan harap.

5. Adab Seorang Muslim saat Melihat Gerhana

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa seorang muslim hendaknya bersegera melakukan hal-hal berikut:

  • Berdoa kepada Allah dengan khusyuk
  • Melaksanakan shalat gerhana
  • Berdzikir dan beristighfar
  • Bersedekah
  • Memperbanyak taubat dan kembali kepada Allah

Semua ini dilakukan sampai gerhana hilang, sebagai bentuk kepatuhan kepada perintah Nabi ﷺ.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang bagaimana para sahabat memahami hadits ini. Diriwayatkan bahwa pada masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz (salah seorang khalifah dari generasi tabi'in yang utama), pernah terjadi gerhana matahari. Beliau keluar bersama rakyatnya, lalu berkhutbah di hadapan mereka dengan penuh kelembutan:

"Wahai manusia, sesungguhnya gerhana ini adalah tanda kekuasaan Allah. Janganlah kalian sibuk dengan sebab-sebab duniawi, tetapi sibukkanlah diri kalian dengan taubat dan kembali kepada Allah. Sungguh, jika kalian tidak segera bertaubat, Allah akan menimpakan azab yang lebih besar dari ini."

Kemudian beliau memerintahkan masyarakat untuk melaksanakan shalat gerhana dan memperbanyak doa. Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf memahami bahwa gerhana adalah momen untuk introspeksi diri dan kembali kepada Allah, bukan sekadar fenomena alam biasa.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa gerhana adalah tanda kekuasaan Allah, bukan pertanda kematian atau kelahiran seseorang.
  2. Ketika melihat gerhana, segeralah berdoa dan melaksanakan shalat gerhana sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
  3. Perbanyak dzikir, istighfar, dan taubat selama gerhana berlangsung.
  4. Jangan sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat seperti takhayul atau mitos yang berkembang di masyarakat.
  5. Ajak keluarga dan orang-orang di sekitar kita untuk ikut mengingat Allah ketika melihat fenomena ini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?