Penjelasan Hadits Bukhari No. 1059 tentang Perintah dzikir doa dan istighfar saat gerhana

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa gerhana matahari dan bulan bukan tanda kematian atau kelahiran seseorang, melainkan tanda kekuasaan Allah untuk mengingatkan hamba-Nya. Ketika terjadi gerhana, Nabi ﷺ segera menuju masjid, shalat dengan sangat panjang, lalu memerintahkan umatnya untuk berdzikir, berdoa, dan beristighfar. Sikap beliau menunjukkan rasa takut kepada Allah dan kesiapan menghadap Hari Kiamat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Isra' [17]: 59

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

Terjemahan: "Dan tidaklah Kami mengirim tanda-tanda (kebesaran) itu melainkan untuk menakut-nakuti (hamba-hamba Kami)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Kusuf (Gerhana), Bab Dzikir di Saat Gerhana, dari sahabat Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Hadits senada juga diriwayatkan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha dan Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dengan lafaz yang saling menguatkan.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya dzikir, doa, dan istighfar saat gerhana, di samping shalat.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa gerhana adalah momen untuk kembali kepada Allah, bukan untuk takhayul.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat-ayat kauniyah seperti gerhana adalah peringatan agar manusia tidak lalai.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  1. Gerhana bukan sebab kematian atau kelahiran seseorang. Nabi ﷺ menegaskan bahwa fenomena ini tidak berkaitan dengan nasib seseorang, sebagaimana keyakinan sebagian orang di masa jahiliyah. Ini adalah bantahan terhadap takhayul.
  2. Gerhana adalah tanda kekuasaan Allah untuk menakut-nakuti hamba-Nya. Allah mengirim tanda-tanda ini agar manusia sadar, bertaubat, dan kembali kepada-Nya.
  3. Reaksi Nabi ﷺ adalah rasa takut (faza'a) dan segera menuju masjid. Ini menunjukkan kesungguhan beliau dalam menghadap Allah saat terjadi tanda besar.
  4. Shalat gerhana dilaksanakan dengan qiyam, rukuk, dan sujud yang sangat panjang. Abu Musa menyatakan ia belum pernah melihat Nabi ﷺ shalat sepanjang itu.
  5. Perintah Nabi ﷺ: bersegeralah kepada dzikir, doa, dan istighfar. Ini adalah inti dari amalan saat gerhana.

Pemahaman ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyimpulkan bahwa amalan saat gerhana mencakup: shalat, dzikir, doa, istighfar, dan sedekah. Beliau menyebutkan bahwa perintah "fafza'u" (bersegeralah) menunjukkan urgensi dan kesegeraan.
  • Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hikmah gerhana adalah untuk mengingatkan manusia akan kekuasaan Allah dan mendorong mereka bertaubat. Beliau juga menegaskan bahwa shalat gerhana disyariatkan secara berjamaah.
  • Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim ketika menafsirkan QS. Al-Isra' [17]: 59 menyatakan bahwa Allah mengirim tanda-tanda seperti gerhana untuk menakut-nakuti hamba-Nya agar mereka kembali kepada-Nya.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat-ayat kauniyah adalah peringatan agar manusia tidak tenggelam dalam kelalaian.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah shalat gerhana wajib atau sunnah muakkadah. Jumhur ulama (mayoritas) dari kalangan Syafi'iyah, Hanabilah, dan Malikiyah berpendapat bahwa shalat gerhana adalah sunnah muakkadah. Sedangkan sebagian ulama Hanafiyah berpendapat bahwa shalat gerhana tidak disyariatkan secara berjamaah, cukup dengan doa dan dzikir. Namun pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur, karena didukung oleh perintah Nabi ﷺ dan praktek beliau yang shalat berjamaah saat gerhana.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari matahari mengalami gerhana. Nabi ﷺ yang sedang berada di rumah segera berdiri dengan wajah yang menunjukkan rasa takut. Beliau khawatir jika gerhana ini adalah tanda datangnya Hari Kiamat. Tanpa menunda, beliau bergegas menuju masjid.

Di masjid, beliau shalat bersama para sahabat. Abu Musa al-Asy'ari yang ikut shalat menyatakan bahwa beliau belum pernah melihat Nabi ﷺ shalat dengan qiyam, rukuk, dan sujud selama itu. Setelah shalat, Nabi ﷺ berkhutbah dan menjelaskan bahwa gerhana bukanlah tanda kematian atau kelahiran seseorang, melainkan tanda kekuasaan Allah untuk menakut-nakuti hamba-Nya. Beliau lalu memerintahkan: "Jika kalian melihat hal itu, bersegeralah untuk berdzikir, berdoa, dan memohon ampunan kepada Allah."

(Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy'ari, serta dari 'Aisyah dan Abu Bakrah radhiyallahu 'anhum).

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan percaya takhayul bahwa gerhana terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Ini adalah keyakinan jahiliyah yang dibatalkan oleh Nabi ﷺ.
  2. Saat terjadi gerhana, segeralah:
  • Shalat gerhana (bagi yang mampu, berjamaah di masjid).
  • Berdzikir mengingat Allah.
  • Berdoa memohon kebaikan dan perlindungan.
  • Beristighfar memohon ampunan.
  • Bersedekah (sebagaimana disebutkan dalam hadits lain).
  1. Tumbuhkan rasa takut kepada Allah saat melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya, sebagaimana Nabi ﷺ yang berdiri dengan rasa takut.
  2. Jadikan gerhana sebagai momen introspeksi dan kembali kepada Allah, bukan sebagai hiburan atau tontonan semata.
  3. Ikuti petunjuk Nabi ﷺ dalam menghadapi fenomena alam, bukan mengikuti budaya atau kebiasaan yang tidak berdasar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?