Penjelasan Hadits Bukhari No. 1049 tentang Permohonan perlindungan dari siksa kubur saat gerhana matahari

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita beberapa hal penting: pertama, bahwa siksa kubur itu benar adanya dan kita diperintahkan untuk senantiasa berlindung kepada Allah dari siksa tersebut. Kedua, hadits ini menjelaskan tata cara shalat gerhana yang dilakukan Nabi ﷺ, yaitu dengan dua rakaat yang masing-masingnya memiliki dua kali berdiri, dua kali rukuk, dan dua kali sujud. Ketiga, hadits ini juga menunjukkan bahwa peristiwa gerhana matahari terjadi bertepatan dengan wafatnya putra Nabi ﷺ, Ibrahim, namun Nabi ﷺ meluruskan keyakinan yang salah bahwa gerhana terjadi karena kematian seseorang.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Gerhana, Bab Memohon Perlindungan dari Siksa Kubur dalam Gerhana, no. 1049, dari sahabat Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Gerhana, no. 901, dengan redaksi yang lebih lengkap.

Dalil tentang adanya siksa kubur juga ditegaskan dalam Al-Qur'an, di antaranya firman Allah Ta'ala:

QS. Ghafir [40]: 46

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

"Kepada mereka (keluarga Fir'aun) diperlihatkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat, (dikatakan): 'Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.'"

Ayat ini menunjukkan bahwa ruh orang-orang kafir (termasuk keluarga Fir'aun) akan diperlihatkan neraka dan disiksa di alam barzakh (kubur) sebelum hari Kiamat. Penafsiran ini disebutkan oleh Imam Ibn Katsir dalam Tafsir-nya dan juga oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya.

Adapun hadits-hadits tentang shalat gerhana, para ulama menjelaskan bahwa tata caranya adalah dua rakaat, dan pada setiap rakaat dilakukan dua kali berdiri dan dua kali rukuk. Ini adalah pendapat jumhur ulama, di antaranya Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Malik berdasarkan hadits Aisyah ini.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa faedah besar yang perlu kita pahami:

1. Benarnya Siksa Kubur dan Perintah Berlindung darinya

Dalam hadits ini, seorang wanita Yahudi bertanya kepada Aisyah tentang siksa kubur. Wanita Yahudi tersebut ternyata memiliki pengetahuan tentang hal ini dari kitab-kitab mereka, dan ia mendoakan Aisyah agar dilindungi Allah dari siksa kubur. Aisyah kemudian menanyakan hal ini kepada Nabi ﷺ, dan beliau menjawab dengan memohon perlindungan kepada Allah dari siksa tersebut, yang menunjukkan bahwa siksa kubur itu benar adanya.

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Ar-Ruh menjelaskan secara panjang lebar tentang hakikat siksa kubur dan kenikmatan kubur, dan bahwa hal ini termasuk perkara ghaib yang wajib diimani karena telah dikabarkan oleh Nabi ﷺ. Beliau juga menegaskan bahwa siksa kubur itu meliputi ruh dan jasad, dan ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Ahwalul Qubur juga menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang siksa kubur mencapai derajat mutawatir maknawi, yaitu diriwayatkan oleh banyak sahabat dengan makna yang sama, sehingga wajib diimani tanpa perlu menanyakan bagaimana caranya.

2. Peristiwa Gerhana dan Pelurusan Keyakinan yang Salah

Dalam riwayat lain dari hadits ini (diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim), disebutkan bahwa pada hari wafatnya Ibrahim, putra Nabi ﷺ, terjadi gerhana matahari. Sebagian orang berkata, "Gerhana terjadi karena wafatnya Ibrahim." Maka Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupan seseorang."

Ini adalah bantahan tegas terhadap keyakinan jahiliyah yang mengaitkan fenomena alam dengan peristiwa manusia. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa gerhana adalah tanda kekuasaan Allah yang digunakan untuk membuat hamba-Nya merasa takut dan kembali kepada-Nya, bukan karena sebab-sebab yang mereka kira.

3. Tata Cara Shalat Gerhana

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ shalat gerhana dengan dua rakaat. Pada rakaat pertama, beliau berdiri lama, rukuk lama, lalu berdiri lagi (lebih pendek dari berdiri pertama), rukuk lagi (lebih pendek dari rukuk pertama), kemudian sujud. Demikian pula pada rakaat kedua. Ini adalah tata cara shalat gerhana yang paling lengkap dan paling utama.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang jumlah rukuk dalam shalat gerhana. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur (Maliki, Syafi'i, dan Hanbali) bahwa setiap rakaat ada dua rukuk, berdasarkan hadits Aisyah ini. Adapun Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan seperti shalat sunnah biasa, yaitu dua rakaat dengan satu rukuk di setiap rakaatnya, berdasarkan hadits-hadits lain yang diriwayatkan dari sahabat lain. Namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur karena hadits Aisyah ini lebih shahih dan lebih rinci.

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits Aisyah ini adalah hadits yang paling shahih dalam bab shalat gerhana, dan karenanya menjadi dasar utama bagi jumhur ulama dalam menetapkan tata cara shalat gerhana dengan dua rukuk di setiap rakaatnya.

4. Khutbah Setelah Shalat Gerhana

Dalam hadits ini disebutkan bahwa setelah shalat, Nabi ﷺ menyampaikan khutbah kepada manusia. Para ulama bersepakat bahwa khutbah gerhana disunnahkan, berdasarkan perbuatan Nabi ﷺ ini. Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm menyebutkan bahwa khutbah gerhana dilakukan seperti khutbah Jumat, yaitu dengan dua khutbah, karena Nabi ﷺ melakukannya demikian.

Story Telling

Dari hadits ini, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Aisyah radhiyallahu 'anha yang tidak malu bertanya kepada Nabi ﷺ tentang perkara yang belum ia ketahui. Ia tidak merasa cukup dengan doa wanita Yahudi tersebut, tetapi ia ingin memastikan kebenarannya dari sumber yang paling otoritatif, yaitu Rasulullah ﷺ.

Ini menunjukkan adab seorang muslimah dalam menuntut ilmu: tidak malu bertanya, dan tidak mudah percaya pada informasi sebelum dikonfirmasi kepada ahlinya. Imam Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) pernah berkata, "Ilmu itu tidak akan diperoleh dengan rasa malu dan kesombongan." Aisyah adalah contoh terbaik dalam hal ini, karena ia adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dan paling paham tentang fiqih, terutama fiqih wanita.

Kisah ini juga mengajarkan kita bahwa seorang muslim tidak boleh merasa cukup dengan doa orang lain saja, tetapi ia juga harus berusaha mengetahui ajaran agamanya dengan benar dan mengamalkannya. Doa wanita Yahudi tersebut menjadi sebab bagi Aisyah untuk bertanya dan mendapatkan ilmu yang lebih dalam tentang siksa kubur dan cara berlindung darinya.

Kesimpulan Praktis

Dari hadits ini, ada beberapa hal yang bisa kita amalkan:

  1. Mengimani adanya siksa kubur sebagai bagian dari keimanan kepada hari akhir, tanpa mempertanyakan bagaimana caranya, karena ini adalah perkara ghaib yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ.
  2. Memperbanyak doa berlindung dari siksa kubur, terutama dalam shalat, setelah tasyahhud akhir sebelum salam, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan doa:
  • اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
  • "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur."
  1. Mengetahui tata cara shalat gerhana yang benar, yaitu dua rakaat dengan dua rukuk di setiap rakaatnya, dan disunnahkan untuk berkhutbah setelahnya.
  2. Tidak mengaitkan fenomena alam dengan peristiwa manusia, karena semua yang terjadi di alam semesta adalah tanda kekuasaan Allah dan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang.
  3. Tidak malu untuk bertanya tentang perkara agama kepada ahlinya, sebagaimana Aisyah bertanya kepada Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?