Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa segala nikmat, termasuk turunnya hujan, datangnya semata-mata dari karunia dan rahmat Allah. Barangsiapa meyakini hujan turun karena perantara bintang atau selain Allah, maka ia telah jatuh dalam kekafiran. Sebaliknya, orang beriman menyandarkan semua nikmat kepada Allah, sambil tetap mengakui adanya sebab yang Allah tetapkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Meminta Hujan (Istisqa'), dari sahabat Zaid bin Khalid Al-Juhani رضي الله عنه.
Teks hadits yang disebutkan:
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ، أَنَّهُ قَالَ صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلَةِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ النَّبِيُّ ﷺ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: "هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟" قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: "أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ."
Terjemahan ringkas: Rasulullah ﷺ shalat Subuh di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Setelah selesai, beliau menghadap para sahabat dan bertanya, "Tahukah kalian apa yang difirmankan Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Beliau bersabda, "Pagi ini di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang berkata, 'Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah,' maka ia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Siapa yang berkata, 'Hujan ini karena bintang ini dan itu,' maka ia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang."
Ayat yang berkaitan dengan bab ini, yaitu firman Allah:
وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ
QS. Al-Waqi'ah [56]: 82
"Dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima sebagai bahan pendustaan."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan pokok aqidah yang sangat penting: tauhid dalam nikmat, yaitu meyakini bahwa segala pemberian, termasuk hujan, hanya dari Allah. Nabi ﷺ menyebut dua golongan manusia di pagi itu:
Pertama, orang yang berkata "مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ" (kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah). Ini adalah orang beriman, karena ia menyandarkan nikmat kepada sumbernya yang hakiki, yaitu Allah.
Kedua, orang yang berkata "بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا" (hujan karena bintang ini dan itu). Kata nau' dalam tradisi Arab Jahiliyah berarti bintang tertentu yang diyakini mendatangkan hujan. Ini adalah kekafiran, karena menyandarkan nikmat kepada selain Allah.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa menyandarkan hujan kepada bintang ada dua bentuk:
- Meyakini bintang itu pencipta hujan — ini kekafiran yang jelas.
- Meyakini bintang itu sebab turunnya hujan, tetapi tetap meyakini Allah yang menciptakan — sebagian ulama menyebut ini sebagai kekafiran kecil (syirik ashghar) yang mengurangi kesempurnaan iman.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa yang dimaksud "kafir kepada bintang" adalah meyakini bintang memiliki pengaruh mandiri dalam mendatangkan hujan, tanpa mengaitkannya kepada Allah.
Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa syirik dalam sebab (menyandarkan nikmat kepada makhluk secara mandiri) adalah pintu menuju syirik dalam ibadah. Beliau berkata bahwa tauhid menuntut seorang hamba mengakui Allah sebagai satu-satunya pemberi nikmat, meskipun ia tetap mengakui adanya sebab-sebab yang Allah tetapkan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat Al-Waqi'ah [56]: 82 mencela orang yang menjadikan rezeki sebagai bahan pendustaan, yaitu mereka yang menikmati nikmat Allah tetapi mengingkari Pemberi nikmat.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa mengakui sebab (seperti awan, angin, atau musim) tidaklah terlarang, selama tidak diyakini memiliki pengaruh mandiri. Yang terlarang adalah meyakini bahwa sebab itu sendiri yang mendatangkan hujan, tanpa Allah.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tegas bahwa menyandarkan nikmat kepada selain Allah adalah kekafiran, dan ini termasuk syirik besar jika disertai keyakinan bahwa selain Allah itu memiliki kuasa mandiri.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada suatu masa, Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه pernah mendengar seseorang berkata, "Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu." Umar pun mengingatkan dengan keras, karena ucapan seperti itu adalah sisa kebiasaan Jahiliyah yang harus ditinggalkan. Para salaf, seperti Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah, sering menegaskan bahwa seorang mukmin harus mengembalikan segala nikmat kepada Allah, bukan kepada perantara.
Sufyan ats-Tsauri pernah berkata bahwa tauhid adalah engkau tidak menyandarkan sesuatu kepada dirimu sendiri, apalagi kepada selain Allah. Ini menunjukkan betapa para salaf sangat menjaga kemurnian aqidah dalam setiap ucapan dan keyakinan.
Kesimpulan Praktis
- Sandarkan semua nikmat kepada Allah, termasuk hujan, rezeki, kesehatan, dan keselamatan.
- Boleh menyebut sebab (seperti awan atau musim), tetapi jangan meyakini sebab itu memiliki kuasa mandiri.
- Hindari ucapan seperti "hujan ini karena bintang" atau "rezeki ini karena keberuntungan semata" yang menyandarkan nikmat kepada selain Allah.
- Ajarkan tauhid kepada keluarga sejak dini, agar mereka mengenal Allah sebagai satu-satunya Pemberi nikmat.
- Perbanyak syukur ketika turun hujan atau datang nikmat, dengan mengucapkan "مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ".
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.